Advertisements
Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.3 Anti Tukak

Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.3 Anti Tukak

1.3 Antitukak

Tukak peptik dapat terjadi di lambung, duodenum, esofagus bagian bawah, dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung).

Penyembuhan dapat dibantu dengan berbagai cara seperti penghentian kebiasaan merokok dan minum antasida dan minum obat penghambat sekresi asam, namun sering terjadi kambuh jika pengobatan dihentikan. Hampir semua tukak duodenum dan sebagian besar tukak lambung yang tidak disebabkan oleh AINS, penyebabnya adalah bakteri Helicobacter pylori. Pengobatan infeksi Helicobacter pylori dan tukak yang disebabkan oleh AINS akan dibahas di bawah ini.

Infeksi Helicobacter pylori
Penyembuhan tukak lambung dan tukak duodenum dapat dilakukan dengan cepat melalui eradikasi Helicobacter pylori. Direkomendasikan untuk memastikan terlebih dahulu adanya H. pylori sebelum memulai terapi eradikasi. Penggunaan kombinasi penghambat sekresi asam dengan antibakteri sangat efektif dalam eradikasi H.pylori. Infeksi kambuhan jarang terjadi. Kolitis karena penggunaan antibiotik merupakan risiko yang tidak umum terjadi.

Regimen terapi satu minggu yang terdiri dari 3 jenis obat yaitu penghambat pompa proton, amoksisilin dan klaritromisin atau metronidazol, dapat mengeradikasi H.pylori pada 90 % kasus. Setelah 1 minggu, obat dihentikan, kecuali terjadi komplikasi tukak seperti hemoragi atau perforasi.

Resistensi terhadap klaritromisin atau metronidazol lebih sering terjadi dibandingkan terhadap amoksisilin dan hal ini dapat terjadi pada saat terapi. Karena itu, regimen yang terdiri dari amoksisilin dan klaritromisin direkomendasikan sebagai terapi awal eradikasi dan regimen yang terdiri dari amoksisilin dan metronidazol untuk kegagalan terapi eradikasi. Ranitidin bismut sitrat dapat digunakan sebagai pengganti penghambat pompa proton. Regimen lain, termasuk kombinasi klaritromisin dan metronidazol sangat baik digunakan pada keadaan tertentu. Kegagalan terapi biasanya disebabkan oleh resistensi bakteri atau kepatuhan pasien yang rendah.

Regimen terapi dua minggu yang terdiri dari 3 jenis obat memberikan kemungkinan yang besar dalam kecepatan eradikasi dibandingkan regimen terapi satu minggu, tetapi efek samping sering terjadi dan rendahnya kepatuhan pasien akan lebih sering ditemukan.

Regimen 2 minggu terapi yang terdiri dari 2 jenis obat yaitu penghambat pompa proton dan antibakteri tunggal tidak direkomendasikan.

Regimen 2 minggu menggunakan trikalium disitratobismutat dengan penghambat pompa proton dan dua antibakteri mungkin memiliki peran pada penanganan kasus yang resisten setelah dilakukan konfirmasi adanya H. pylori.

Tinidazol atau tetrasiklin dapat pula digunakan untuk eradikasi H. pylori; obat-obat ini sebaiknya dikombinasi dengan obat penghambat sekresi asam dan antibakteri lain.

Tidak ada bukti yang memadai untuk mendukung terapi eradikasi pada pasien anak-anak, yang terinfeksi H. pylori namun tetap menggunakan AINS.

Tukak yang disebabkan oleh AINS
Perdarahan saluran cerna dan tukak dapat terjadi pada penggunaan AINS (bagian 12.1.1). Jika memungkinkan, penggunaan AINS sebaiknya dihentikan pada keadaan ini. Pada individu yang berisiko mengalami tukak, penghambat pompa proton atau antagonis reseptor-H2 seperti ranitidin diberikan dua kali dosis lazim, atau misoprostol dapat dipertimbangkan untuk mencegah tukak lambung dan tukak duodenum yang disebabkan oleh AINS; reaksi kolik dan diare dapat membatasi dosis misoprostol.

Pada pasien yang sedang dalam terapi AINS, eradikasi H. pylori tidak direkomendasikan karena tidak akan mengurangi risiko perdarahan atau tukak akibat AINS. Akan tetapi, pasien yang baru memulai terapi AINS jangka panjang dengan H. pylori positif atau memiliki riwayat tukak lambung atau tukak duodenum, eradikasi H. pylori dapat mengurangi risiko tukak.

Jika pemberian AINS dapat dihentikan pada pasien yang mengalami tukak, penghambat pompa proton biasanya menghasilkan penyembuhan yang lebih cepat, tetapi tukaknya dapat diterapi dengan antagonis reseptor-H2 atau misoprostol.

Jika terapi AINS perlu diteruskan, hal-hal berikut dapat dilakukan:

  1. Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan selama penyembuhan tetap dilanjutkan dengan pemberian penghambat pom proton (dosis tidak perlu dikurangi karena dapat terjadi tukak yang bertambah parah tanpa disertai gejala)
  2. Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan dilanjutkan dengan misoprostol selama penyembuhan sebagai terapi pemeliharaan (kolik dan diare dapat terjadi, yang memerlukan pengurangan dosis)
  3. Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan kemudian ganti AINS dengan AINS yang selektif yaitu COX-2.
Tabel 1.1 Rekomendasi Regimen untuk eradikasi Helicobacter pylori
Penekan AsamAntibakteri
AmoksisilinKlaritromisinMetronidazol
Esomeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Lansoprazol

30 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
1 g, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Omeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 3 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Pantoprazol

40 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
Rabeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Ranitidin bismuth sitrat

400 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
Tabel 1.2 Rekomendasi Regimen untuk eradikasi Helicobacter pylori pada anak
Terapi EradikasiUsiaDosis Oral

(untuk digunakan dalam kombinasi omeprazol)

Amoksisilin1 – 6 tahun250 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
125 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
6 – 12 tahun500 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
250 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
12 – 18 tahun1 g, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
500 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
Klaritromisin1 – 2 tahun62,5 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
2 – 6 tahun125 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
6 – 9 tahun187,5 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
9 – 12 tahun250 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
12 – 18 tahun500 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
Metronidazol1 – 6 tahun100 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
100 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)
6 – 12 tahun200 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
200 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)
12 – 18 tahun400 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
400 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)

Antitukak dibagi dalam 4 sub-sub kelas terapi sebagai berikut:

1.3.1 Antagonis reseptor-H2

Semua antagonis reseptor-H2 mengatasi tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat penghambatan reseptor histamin-H2. Obat ini dapat juga digunakan untuk mengatasi gejala refluks gastroesofagus (GERD). Meskipun antagonis reseptor-H2 dosis tinggi dapat digunakan untuk mengatasi sindroma Zollinger-Ellison, namun penggunaan penghambat pompa proton lebih dipilih.

Terapi pemeliharaan dengan dosis rendah pada pasien yang mengalami infeksi H. pylori, termasuk untuk anak telah digantikan oleh regimen eradikasi (lihat 1.3). Terapi pemeliharaan kadang digunakan pada pasien yang sering mengalami kekambuhan yang berat dan untuk pasien lansia yang menderita komplikasi tukak.

Pada pasien dengan usia yang lebih muda pengobatan dispepsia dengan antagonis reseptor-H2 dapat diterima, namun perhatian khusus perlu diberikan kepada orang dewasa yang lebih tua karena adanya kemungkinan kanker lambung.

Terapi antagonis reseptor-H2 dapat membantu proses penyembuhan tukak yang disebabkan oleh AINS (terutama duodenum) (bagian 1.3).

Penggunaan antagonis reseptor-H2 pada hematemesis dan melena tidak menunjukkan kemanfaatan, namun penggunaan profilaksis dapat mengurangi frekuensi pendarahan dari erosi gastroduodenum pada kasus koma hepatik, dan mungkin pada kasus-kasus lain yang memerlukan perawatan intensif. Penggunaan antagonis reseptor-H2 juga mengurangi risiko aspirasi asam pada pasien obstetrik pada saat melahirkan (sindroma Mendelson).

Peringatan: Antagonis reseptor-H2 sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal (Lampiran 3), kehamilan (Lampiran 4), dan pasien menyusui (Lampiran 5). Antagonis reseptor-H2 dapat menutupi gejala kanker lambung; perhatian khusus perlu diberikan pada pasien yang mengalami perubahan gejala dan pada pasien setengah baya atau yang lebih tua.

Efek samping: Efek samping antagonis reseptor-H2 adalah diare dan gangguan saluran cerna lainnya, pengaruh terhadap pemeriksaan fungsi hati (jarang, kerusakan hati), sakit kepala, pusing, ruam dan rasa letih. Efek samping yang jarang adalah pankreatitis akut, bradikardi, AV block, rasa bingung, depresi dan halusinasi, terutama pada orang tua atau orang yang sakit parah, reaksi hipersensitifitas (termasuk demam, artralgia, mialgia, anafilaksis), gangguan darah (termasuk agranulositosis, leukopenia, pansitopenia, trombositopenia) dan reaksi kulit (termasuk eritema ultiform, dan nekrolisis epidermal yang toksik). Dilaporkan juga kasus ginekomastia dan impotensi, namun jarang terjadi.

Interaksi: Simetidin menghambat metabolisme obat secara oksidatif di hati dengan cara mengikat sitokrom P450 di mikrosom. Penggunaannya sebaiknya dihindari pada pasien yang sedang mendapat terapi warfarin, fenitoin dan teofilin (atau aminofilin), sedangkan interaksi lain (lihat lampiran 1), mungkin kurang bermakna secara klinis. Famotidin, nizatidin, dan ranitidin tidak memiliki sifat menghambat metabolisme obat seperti halnya simetidin.

Monografi:

FAMOTIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison (lihat keterangan di atas)

Peringatan:
lihat keterangan di atas

Interaksi:
Lampiran 1 (antagonis reseptor-H2) dan keterangan di atas.

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga ansietas, anoreksia, mulut kering, cholestatic jaundice yang sangat jarang.

Dosis:
pengobatan tukak lambung dan duodenum 40 mg sebelum tidur malam; selama 4-8 minggu; pemeliharaan (tukak duodenum) 20 mg sebelum tidur malam; Anak. Tidak dianjurkan.
Refluks esofagitis, 20-40 mg 2 kali sehari selama 6-12 minggu; pemeliharaan, 20 mg 2 kali sehari. Sindroma Zollinger-Ellison (lihat keterangan di atas), 20 mg setiap 6 jam (dosis lebih tinggi pada pasien yang sebelumnya telah menggunakan antagonis reseptor-H2 lain); dosis sampai 800 mg sehari dalam dosis terbagi.

FAMOTIDIN-ANTASIDA
Keterangan:
Lihat 1.1

NIZATIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis

Peringatan:
lihat keterangan di atas; juga hindari injeksi intravena secara cepat (risiko aritmia dan hipotensi postural), gangguan fungsi hati.

Interaksi:
lihat lampiran 1 (antagonis reseptor-H2) dan keterangan di atas

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga berkeringat; hiperurisemia (jarang)

Dosis:
Oral: tukak lambung dan tukak duodenum atau tukak karena AINS, pengobatan 300 mg sebelum tidur malam atau 150 mg 2 kali sehari selama 4-8 minggu: pemeliharaan 150 mg sebelum tidur malam; Anak: tidak dianjurkan.

Refluks esofagitis, 150-300 mg 2 kali sehari selama sampai 12 minggu.

Infus intravena: untuk penggunaan jangka pendek pada tukak lambung pasien rawat inap sebagai alternatif terhadap penggunaan oral, dengan cara infus intravena berselang (intermittent) selama 15 menit, 100 mg 3 kali sehari, atau dengan cara infus intravena berkesinambungan, 10 mg/jam, maksimal 480 mg sehari; Anak: tidak dianjurkan.

RANITIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dispepsia episodik kronis, tukak akibat AINS, tukak duodenum karena H.pylori, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; hindarkan pada porfiria

Interaksi:
Lampiran 1 (Antagonis reseptor – H2) dan keterangan di atas

Kontraindikasi:
penderita yang diketahui hipersensitif terhadap ranitidin

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; takikardi (jarang), agitasi, gangguan penglihatan, alopesia, nefritis interstisial (jarang sekali)

Dosis:
oral, untuk tukak peptik ringan dan tukak duodenum 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg pada malam hari selama 4-8 minggu, sampai 6 minggu pada dispepsia episodik kronis, dan sampai 8 minggu pada tukak akibat AINS (pada tukak duodenum 300 mg dapat diberikan dua kali sehari selama 4 minggu untuk mencapai laju penyembuhan yang lebih tinggi); ANAK: (tukak lambung) 2-4 mg/kg bb 2 kali sehari, maksimal 300 mg sehari. Tukak duodenum karena H. pylori, lihat regimen dosis eradikasi. Untuk Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg sebelum tidur malam selama sampai 8 minggu, atau bila perlu sampai 12 minggu (sedang sampai berat, 600 mg sehari dalam 2-4 dosis terbagi selama 12 minggu); pengobatan jangka panjang GERD, 150 mg 2 kali sehari. Sindrom Zollinger-Ellison (lihat juga keterangan di atas), 150 mg 3 kali sehari; dosis sampai 6 g sehari dalam dosis terbagi.

Pengurangan asam lambung (profilaksis aspirasi asam lambung) pada obstetrik, oral, 150 mg pada awal melahirkan, kemudian setiap 6 jam; prosedur bedah, dengan cara injeksi intramuskuler atau injeksi intravena lambat, 50 mg 45-60 menit sebelum induksi anestesi (injeksi intravena diencerkan sampai 20 mL dan diberikan selama tidak kurang dari 2 menit), atau oral: 150 mg 2 jam sebelum induksi anestesi, dan juga bila mungkin pada petang sebelumnya.

Anak: Neonatus 2 mg/kg bb 3 kali sehari namun absorpsi tidak terjamin; maksimal 3 mg/kg bb 3 kali sehari; Usia 1-6 bulan: 1 mg/kg bb 3 kali sehari (maks. 3 mg/kg bb 3 kali sehari); Usia 6 bulan-12 tahun: 2-4 mg/kg bb (maks. 150 mg) 2 kali sehari; Usia 12-18 tahun: 150 mg 2 kali sehari.

Injeksi intramuskuler: 50 mg setiap 6-8 jam.

Injeksi intravena lambat: 50 mg diencerkan sampai 20 mL dan diberikan selama tidak kurang dari 2 menit; dapat diulang setiap 6-8 jam.

Anak. Neonatus: 0,5-1 mg/kg bb setiap 6-8 jam; Usia 1 bulan-18 tahun: 1 mg/kg bb (maks. 50 mg) setiap 6-8 jam (dapat diberikan sebagai infus intermiten pada kecepatan 25 mg/jam).

Infus intravena: 25 mg/jam selama 2 jam; dapat diulang setiap 6-8 jam.

Anak. Neonatus: 30-60 mg microgram/kg bb/jam (maks. 3 mg/kg bb sehari); Usia 1 bulan-18 tahun: 125-250 mikrogram/kg bb/jam.

Pemberian pada anak untuk injeksi intravena lambat dengan cara diencerkan hingga kadar 2,5 mg/mL menggunakan glukosa 5%, natrium klorida 0,9% atau campuran natrium laktat. Diberikan selama sekurang-kurangnya 3 menit. Untuk infus intravena, diperlukan pengenceran lebih lanjut.

RANITIDIN BISMUTH SITRAT
Indikasi:
mengatasi tukak duodenum dan tukak lambung ringan; eradikasi H. pylori dan mencegah tukak duodenum kambuhan, dalam kombinasi dengan klaritromisin atau amoksisilin.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; lihat juga pada Trikalium disitratobismuthat; gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3)

Interaksi:
lihat lampiran 1 (Antagonis H2 Histamin) dan keterangan di atas

Kontraindikasi:
Kehamilan (lihat Lampiran 4); menyusui (lihat Lampiran 5); porfiria

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; dapat membuat warna lidah lebih gelap atau menghitamkan feses; takikardi (jarang), agitasi, gangguan penglihatan, alopesia, eritema multiforme, vaskulitis (sangat jarang)

Dosis:
Tukak duodenum atau tukak lambung ringan, 400 mg dua kali sehari, lebih disarankan diminum bersama dengan makanan, selama 8 minggu pada tukak lambung ringan atau 4-8 minggu pada tukak duodenum; Anak: tidak direkomendasikan.

Eradikasi H. pylori, lihat regimen dosis eradikasi (1.3) atau 400 mg dua kali sehari dengan amoksisilin 500 mg, empat kali sehari (dua gram sehari) atau klaritromisin 250 mg, empat kali sehari atau 500 mg tiga kali sehari (total dosis sehari, 1-1,5 g) selama dua minggu pertama dan diikuti dengan ranitidin bismuth sitrat 400 mg, dua kali sehari; pengobatan dengan ranitidin bismuth sitrat sebaiknya dilanjutkan selama total 4 minggu; pengobatan jangka panjang (pemeliharaan) tidak direkomendasikan. (maksimum total lama pengobatan adalah 16 minggu dalam tiap 1 tahun); Anak: tidak direkomendasikan.

Konseling: Mungkin membuat warna lidah lebih gelap dan menghitamkan feses. Pemberian dua kali sehari dilakukan pada pagi dan sore hari.

SIMETIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum jinak, tukak stomal, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain di mana pengurangan asam lambung akan bermanfaat.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; injeksi intravena lebih baik dihindari (infus lebih baik) terutama pada dosis tinggi dan pada gangguan kardiovaskuler (risiko aritmia);

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (antagonis-H2) dan keterangan di atas.

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga alopesia; takikardia (sangat jarang), nefritis interstitial

Dosis:
oral, 400 mg 2 kali sehari (setelah makan pagi dan sebelum tidur malam) atau 800 mg sebelum tidur malam (tukak lambung dan tukak duodenum) paling sedikit selama 4 minggu (6 minggu pada tukak lambung, 8 minggu pada tukak akibat AINS); bila perlu dosis dapat ditingkatkan sampai 4 x 400 mg sehari atau sampai maksimal 2,4 g sehari dalam dosis terbagi (misal: stress ulcer); anak lebih 1 tahun, 25-30 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi.

Pemeliharaan, 400 mg sebelum tidur malam atau 400 mg setelah makan pagi dan sebelum tidur malam. Refluks esofagitis, 400 mg 4 kali sehari selama 4-8 minggu.

Sindrom Zollinger Ellison (tapi lihat keterangan di atas), 400 mg 4 kali sehari atau bisa lebih.

Profilaksis tukak karena stres, 200-400 mg setiap 4-6 jam.

Pengurangan asam lambung (profilaksis aspirasi asam; jangan menggunakan sirup), obstetrik 400 mg pada awal melahirkan, kemudian bila perlu sampai 400 mg setiap 4 jam (maksimal 2,4 g sehari); prosedur bedah 400 mg 90-120 menit sebelum induksi anestesi umum.

Short bowel syndrome: 400 mg dua kali sehari (bersama sarapan dan menjelang tidur), disesuaikan menurut respons.Untuk mengurangi degradasi suplemen enzim pankreatik, 0,8-1,6 g sehari dalam 4 dosis terbagi menurut respons 1-1,5 jam sebelum makan.

Anak. Neonatus: 5 mg/kg bb 4 kali sehari; Usia 1 bulan-12 tahun: 5-10 mg/kg bb (maks. 400 mg) 4 kali sehari; Usia 12-18 tahun 400 mg 2-4 kali sehari.

Injeksi intramuskuler: 200 mg setiap 4-6 jam.

Injeksi intravena lambat (tetapi lihat peringatan di atas): 200 mg diberikan selama tidak kurang dari 5 menit; dapat diulang setiap 4-6 jam; bila diperlukan dosis besar atau terdapat gangguan kardiovaskuler, dosis bersangkutan harus diencerkan dan diberikan selama 10 menit (infus lebih baik); maksimal 2,4 g sehari.

Infus Intravena: 400 mg dalam 100 mL natrium klorida 0,9 % infus intravena diberikan selama 0,5-1 jam (dapat diulang setiap 4-6 jam) atau dengan cara infus berkesinambungan pada laju rata-rata 50-100 mg/jam selama 24 jam, maksimal 2,4 g sehari; Bayi di bawah satu tahun melalui injeksi intravena lambat atau infus intravena, 20 mg/kg bb bobot badan sehari dalam dosis terbagi pernah dilakukan: Anak lebih dari satu tahun, 25-30 mg/kg bb bobot badan sehari dalam dosis terbagi.

Anak. (injeksi lambat atau infus intravena): Neonatus 5 mg/kg bb setiap 6 jam; Usia 1 bulan-12 tahun: 5-10 mg/kg bb (maks. 400 mg) setiap 6 jam; Usia 12-18 tahun: 200-400 mg setiap 6 jam.

Pemberian untuk injeksi intravena pada anak tidak melebihi kadar 10 mg/mL dengan natrium klorida 0,9%, diberikan selama 10 menit; untuk infus intravena intermiten, diencerkan dengan glukosa 5% atau natrium klorida 0,9%.

1.3.2 Kelator dan senyawa kompleks

Trikalium disitratobismutat adalah suatu kelat bismut yang efektif dalam mengatasi tukak lambung dan duodenum. Peran trikalium disitratobismutat pada regimen eradikasi Helicobacter pylori pada pasien yang tidak respons terhadap regimen lini pertama dapat dilihat pada bagian 1.3

Ranitidin bismut sitrat digunakan dalam pengobatan tukak lambung dan duodenum, dan dalam kombinasi dengan dua antibakteri untuk eradikasi H. pylori (bagian 1.3).

Sukralfat melindungi mukosa dari asam-pepsin pada tukak lambung dan duodenum. Sukralfat merupakan kompleks aluminium hidroksida dan sukrosa sulfat yang efeknya sebagai antasida minimal. Obat ini sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien yang dirawat secara intensif (Penting: dilaporkan adanya pembentukan bezoar). Sukralfat tidak dianjurkan digunakan pada anak di bawah usia 15 tahun.

Monografi:

SUKRALFAT
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum

Peringatan:
gangguan ginjal (hindari bila berat); kehamilan dan menyusui; pemberian sukralfat dan nutrisi enteral harus berjarak 1 jam

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (sukralfat)
PEMBENTUKAN BEZOAR. Adanya laporan mengenai pembentukan bezoar pada penggunaan sukralfat. Oleh sebab itu penggunaan sukralfat harus berhati-hati pada pasien dengan penyakit yang serius, terutama jika secara bersamaan juga mendapat nutrisi enteral atau pasien mengalami gangguan pengosongan lambung.

Efek Samping:
konstipasi, diare, mual, gangguan pencernaan, gangguan lambung, mulut kering, ruam, reaksi hipersensitifitas, nyeri punggung, pusing, sakit kepala, vertigo, dan mengantuk, pembentukan bezoar (lihat keterangan di atas).

Dosis:
tukak lambung dan duodenum serta gastritis kronis, 2 g 2 kali sehari (pagi dan sebelum tidur malam) atau 1 g 4 kali sehari 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur malam, diberikan selama 4-6 minggu atau pada kasus yang resisten, bisa hingga 12 minggu; maksimal 8 g sehari; Profilaksis tukak akibat stres (suspensi), 1 g 6 kali sehari (maksimal 8 g sehari). Anak di bawah 15 tahun, tidak dianjurkan.

Saran: tablet dapat dilarutkan dalam 10-15 mL air, antasida tidak boleh diberikan setengah jam sebelum atau sesudah pemberian sukralfat.

TRIKALIUM DISITRATOBISMUTAT (KHELAT BISMUT)
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum ringan; lihat juga infeksi Helicobacter pylori (bagian 1.3)

Peringatan:
lihat keterangan di atas;

Interaksi:
Lampiran 1 (trikalium disitratobismutat)

Kontraindikasi:
gangguan ginjal parah, kehamilan

Efek Samping:
dapat membuat lidah berwarna gelap dan feses kehitaman; mual dan muntah.

Dosis:
2 tablet 2 kali sehari atau 1 tablet 4 kali sehari; diminum selama 28 hari selanjutnya 28 hari lagi jika diperlukan. Anak tidak direkomendasikan.

Konseling. Ditelan dengan setengah gelas air; dua kali sehari diminum 30 menit sebelum makan pagi dan 30 menit sebelum makan malam; empat kali sehari harus diminum sebagai berikut; dosis pertama diminum 30 menit sebelum sarapan, dosis berikutnya pada makan siang dan makan malam, dan dosis terakhir diberikan 2 jam setelah makan malam: Jangan diberikan bersamaan dengan susu; jangan minum antasid setengah jam sebelum dan sesudah minum obat ini; dapat membuat lidah berwarna gelap dan feses kehitaman.

1.3.3 Analog prostaglandin

Misoprostol, suatu analog prostaglandin sintetik, memiliki sifat antisekresi dan proteksi, mempercepat penyembuhan tukak lambung dan duodenum. Senyawa ini dapat mencegah terjadinya tukak karena AINS. Penggunaannya paling cocok bagi pasien yang lemah atau sangat lansia di mana penggunaan AINS tidak mungkin dihentikan.

Monografi:

MISOPROSTOL
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, tukak karena AINS terutama pada pasien yang memiliki risiko tinggi mendapat komplikasi tukak lambung, seperti lansia dan penyakit yang melemahkan (debilitating). Diberikan selama terapi AINS. Namun, misoprostol tidak dapat mencegah tukak duodenum pada pasien yang minum AINS.

Peringatan:
keadaan dimana hipotensi dapat mencetuskan komplikasi yang berat (misal penyakit serebrovaskuler, penyakit kardiovaskuler)

Kontraindikasi:
kehamilan atau merencanakan hamil (meningkatkan tonus uterin) (lampiran 4),

Penting: wanita usia subur. Lihat juga keterangan di bawah, dan wanita yang sedang menyusui (Lampiran 5). Wanita usia subur. Misoprostol tidak boleh diberikan pada wanita usia subur, kecuali bila pasien memerlukan terapi AINS dan berisiko tinggi terhadap terjadinya komplikasi tukak karena AINS. Pada pasien seperti ini, misoprostol hanya digunakan bila pasien menggunakan kontrasepsi yang efektif dan telah diberitahu risiko penggunaan misoprostol pada kehamilan.

Efek Samping:
diare (kadang-kadang dapat parah dan obat perlu dihentikan, dikurangi dengan memberikan dosis tunggal tidak melebihi 200 mikrogram dan dengan menghindari antasida yang mengandung magnesium); juga dilaporkan nyeri abdomen, dispepsia, kembung, mual dan muntah, perdarahan vagina yang abnormal (termasuk perdarahaan intermenstrual, menorhagia, dan perdarahaan pascamenopouse), ruam, pusing.

Dosis:
tukak lambung dan duodenum serta tukak karena AINS, 800 mcg sehari (dalam 2-4 dosis terbagi) dengan sarapan pagi dan sebelum tidur malam; pengobatan harus dilanjutkan selama tidak kurang dari 4 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan sampai 8 minggu. Profilaksis tukak lambung karena AINS dan tukak duodenum, 200 mcg 2-4 kali sehari bersama AINS. Anak tidak dianjurkan.

REBAMIPID
Indikasi:
Tukak lambung dalam kombinasi dengan faktor inhibitor ofensif (penghambat pompa proton, antikolinergik dan antagonis H2), gastritis.

Peringatan:
Lansia, kehamilan, menyusui, anak.

Kontraindikasi:
Hipersensitivitas.

Efek Samping:
Sangat jarang: leukopenia, granulositopenia, gangguan fungsi hati, peningkatan AST (SGOT), ALT (SGPT), ?-GTP dan alkalin fosfatase, ruam, pruritus, eksem, konstipasi, rasa tidak nyaman pada abdomen, diare, mual, muntah, mulas, nyeri ulu hati, nyeri abdomen, sendawa, gangguan pengecapan, gangguan menstruasi, peningkatan BUN, udem, merasa benda asing pada faring. Frekuensi tidak diketahui: syok, reaksi anafilaksis, trombositopenia, ikterus, urtikaria, kebas, pusing, mengantuk, mulut kering, pembengkakan dan nyeri payudara, ginekomastia, induksi laktasi, palpitasi, demam, muka memerah, lidah kebas, batuk, kesulitan bernapas, alopesia.

Dosis:
Oral: Tukak lambung. Kombinasi dengan faktor inhibitor ofensif. Dewasa, 100 mg 3 kali sehari. Gastritis. Dewasa, 100 mg 3 kali sehari.

1.3.4 Penghambat pompa proton

Penghambat pompa proton, yaitu omeprazol, esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, dan rabeprazol menghambat sekresi asam lambung dengan cara menghambat sistem enzim adenosin trifosfatase hidrogen-kalium (pompa proton) dari sel parietal lambung. Penghambat pompa proton efektif untuk pengobatan jangka pendek tukak lambung dan duodenum. Selain itu, juga digunakan secara kombinasi dengan antibiotika untuk eradikasi H. pylori.

Terapi awal jangka pendek dengan penghambat pompa proton merupakan terapi pilihan pada penyakit refluks gastroesofagal dengan gejala yang berat; pasien dengan esofagitis erosif, ulseratif atau striktur yang ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopi juga biasanya memerlukan terapi pemeliharaan dengan penghambat pompa proton.

Penghambat pompa proton juga digunakan untuk mencegah dan mengobati tukak yang menyertai penggunaan AINS. Pada pasien yang perlu melanjutkan pengobatan dengan AINS setelah tukaknya sembuh, dosis penghambat pompa proton tidak boleh dikurangi karena dapat memperburuk tukak yang tanpa disertai gejala.

Omeprazol efektif untuk pengobatan sindrom Zollinger-Ellison (termasuk untuk kasus yang resisten terhadap pengobatan lainnya). Lansoprazol, pantoprazol dan rabeprazol juga diindikasikan untuk kondisi ini.

Peringatan: Penghambat pompa proton sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan menyusui. Penghambat pompa proton dapat menutupi gejala kanker lambung ; perhatian khusus perlu diberikan pada orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala yang membahayakan (turunnya berat badan yang signifikan, muntah yang berulang, disfagia, hematemesis atau melena), pada kasus-kasus seperti ini penyakit kanker lambungnya sebaiknya dipastikan terlebih dahulu sebelum dimulai pengobatan dengan penghambat pompa proton.

Efek samping: Efek samping penghambat pompa proton meliputi gangguan saluran cerna (seperti mual, muntah, nyeri lambung, kembung, diare dan konstipasi), sakit kepala dan pusing. Efek samping yang kurang sering terjadi diantaranya adalah mulut kering, insomnia, mengantuk, malaise, penglihatan kabur, ruam kulit dan pruritus. Efek samping lain yang dilaporkan jarang atau sangat jarang terjadi adalah gangguan pengecapan, disfungsi hati, udem perifer, reaksi hipersensitivitas (termasuk urtikaria, angioedema, bronko-spasmus, anafilaksis), fotosensitivitas, demam, berkeringat, depresi, nefritis interstitial, gangguan darah (seperti leukopenia, leukositosis, pansitopenia, trombositopenia), artralgia, mialgia dan reaksi pada kulit (termasuk sindroma Stevens- Johnson, nekrolisis epidermal toksik, bullous eruption). Penghambat pompa proton, dengan mengurangi keasaman lambung, dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna.

Penggunaan pada anak. Hanya omeprazol yang dapat digunakan pada anak untuk pengobatan GERD dengan gejala yang parah. Lansoprazol tidak dianjurkan digunakan pada anak.

Panduan untuk penggunaan penghambat pompa proton pada anak untuk indikasi berikut:

  1. Refluks gastroesofagal digunakan hanya pada gejala yang berat (kurangi dosis bila gejala berkurang) dan pada komplikasi penyakit dengan striktur, tukak, atau pendarahan (dosis penuh harus dipertahankan).
  2. Tukak akibat AINS pada pasien yang memerlukan terapi AINS lebih lanjut–untuk mengobati tukak, dapat digunakan penghambat pompa proton dosis rendah.

Monografi:

ESOMEPRAZOL
Indikasi:
refluks gastroesofagal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD): terapi refluks esofagal erosif, pengobatan jangka panjang pada pasien yang telah sembuh dari esofagitis untuk mencegah kekambuhan, terapi simtomatis GERD; Regimen terapi kombinasi dengan antibakteri yang sesuai untuk eradikasi Helicobacter pylori dan mengobati H. pylori terkait dengan tukak duodenum; Pasien yang memerlukan terapi AINS yang berkesinambungan: mengobati tukak lambung terkait dengan terapi AINS, pencegahan tukak lambung dan duodenum terkait dengan terapi AINS pada pasien dengan risiko, pasien dinyatakan dengan risiko disebabkan oleh usianya (>60 tahun) dan riwayat tukak peptik dan terapi konkomitan dengan anti koagulan dan/atau kortikosteroid.

Peringatan:
lihat catatan di atas, gagal ginjal (lampiran 3). Data keamanan pada kehamilan masih sangat terbatas, pemberian pada wanita hamil hanya apabila pertimbangan manfaat melebihi risiko. Hindarkan pemberian kepada wanita menyusui.

Interaksi:
Lampiran 1 (Penghambat pompa proton).

Kontraindikasi:
riwayat hipersensitifitas pada esomeprazol.

Efek Samping:
lihat catatan di atas, juga dilaporkan dermatitis.

Dosis:
Oral, GERD: terapi refluks esofagal erosif: 40 mg sekali sehari selama 4 minggu. Terapi tambahan selama 4 minggu dianjurkan untuk pasien yang esofagitisnya belum sembuh atau memiliki gejala yang menetap. Esomeprazol 40 mg hanya diberikan untuk pasien dengan mukosa C dan D rusak (berdasarkan sistem klasifikasi LA), derajatnya harus dipastikan melalui endoskopi atau diagnosa radiologi. Pasien GERD dengan derajat esofagitis erosif derajat A dan B direkomendasikan untuk diobati esomeprazol 20 mg; Pengobatan jangka panjang pada pasien yang telah sembuh dari esofagitis untuk mencegah kekambuhan: 20 mg sekali sehari; Terapi simtomatis GERD: 20 mg sekali sehari pada pasien tanpa esofagitis. Jika kontrol gejala tidak tercapai setelah 4 minggu, pasien harus diperiksa lebih jauh. Sekali gejala hilang, kontrol gejala selanjutnya dapat dicapai dengan menggunakan regimen 20 mg sekali bila diperlukan; Regimen terapi kombinasi dengan antibakteri yang sesuai untuk eradikasi H. pylori dan mengobati H.pylori terkait dengan tukak duodenum: 20 mg dikombinasikan dengan klaritromisin 500 mg, keduanya diberikan 2 kali sehari selama 7 hari. Pasien yang memerlukan terapi AINS yang berkesinambungan: mengobati tukak lambung terkait dengan terapi AINS: dosis lazim 20 mg sekali sehari dengan durasi terapi 4-8 minggu; Pencegahan tukak lambung dan duodenum terkait dengan terapi AINS pada pasien dengan risiko: 20 mg sekali sehari.
Anak-anak: esomeprazol tidak dianjurkan diberikan pada anak.
Gangguan fungsi ginjal: tidak perlu penyesuaian dosis pada gangguan fungsi ginjal. Karena terbatasnya penggunaan esomeprazol pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat, pemberian pada pasien ini harus hati-hati.
Gangguan fungsi hati: tidak perlu penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi hati ringan hingga sedang. Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati berat, tidak boleh melampaui dosis maksimum 20 mg.

Keterangan:
Konseling:
Oral: Telan seluruh tablet atau dilarutkan dalam air.
Injeksi: Injeksi intravena disuntikkan sekurang-kurangnya selama 3 menit atau melalui infus intravena, penyakit refluks gastroesofagal, 40 mg satu kali sehari; gejala penyakit refluks tanpa esofagitis, 20 mg sehari, dilanjutkan dengan pemberian oral jika mungkin.

LANSOPRAZOL
Indikasi:
tukak duodenum dan tukak lambung ringan, refluks esofagitis.

Peringatan:
lihat keterangan di atas.

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga dilaporkan alopesia, paraestesia, bruising, purpura, petechiae, lelah, vertigo, halusinasi, bingung; jarang terjadi: ginekomastia, impotensi.

Dosis:
tukak lambung, 30 mg sehari pada pagi hari selama 8 minggu. Tukak duodenum, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu; pemeliharaan 15 mg sehari. Tukak lambung atau tukak duodenum karena AINS, 15-30 mg sekali sehari selama 4 minggu, dilanjutkan lagi selama 4 minggu jika tidak sepenuhnya sembuh; profilaksis, 15-30 mg sekali sehari.

Tukak duodenum atau gastritis karena H. pylori menggunakan regimen eradikasi (lihat 1.1).

Sindroma Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 60 mg sekali sehari, selanjutnya disesuaikan dengan respons; dosis harian sebesar 120 mg atau lebih dibagi menjadi 2 dosis.

Refluks gastroesofagal, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 15-30 mg sehari.

Dispepsia karena asam lambung, 15-30 mg sehari pada pagi hari selama 2-4 minggu. Anak. Belum ada data yang cukup mengenai penggunaan lansoprazol pada anak.

NATRIUM RABEPRAZOL
Indikasi:
lihat pada dosis tukak duodenum yang aktif, tukak lambung jinak yang aktif, simtomatis GERD dengan erosif dan tukak.

Peringatan:
lihat keterangan di atas

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; dilaporkan juga, batuk, faringitis, rinitis, asthenia, sindrom seperti influenza; nyeri dada (kurang umum terjadi), sinusitis, bingung, infeksi saluran urin; stomatitis (jarang), ensefalopati pada penyakit hati parah, anoreksia, peningkatan berat badan

Dosis:
tukak peptik, 20 mg sehari pada pagi hari selama 6 minggu, diikuti 6 minggu berikutnya jika tidak sembuh sepenuhnya. Tukak duodenum, 20 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, dilanjutkan 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya.

Refluks gastroesofagal, 20 mg sekali sehari selama 4-8 minggu; pemeliharaan 10-20 mg sehari; pengobatan simptomatik tanpa esofagitis, 10 mg sehari sampai 4 minggu, kemudian 10 mg sehari bila diperlukan.

Tukak peptik dan tukak duodenum akibat Helicobacter pylori, lihat pada regimen eradikasi. Sindrom Zollinger-Ellison, dosis awal 60 mg sekali sehari disesuaikan menurut respon (maksimal 120 mg sehari); dosis di atas 100 mg sehari diberikan dalam 2 dosis terbagi. Anak. Tidak dianjurkan.

OMEPRAZOL
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, tukak lambung dan duodenum yang terkait dengan AINS, lesi lambung dan duodenum, regimen eradikasi H. pylori pada tukak peptik, refluks esofagitis, Sindrom Zollinger Ellison.

Peringatan:
lihat keterangan di atas

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga dilaporkan paraesthesia, vertigo, alopesia, ginekomastia, impotensi, stomatitis, ensefalopati pada penyakit hati yang parah, hiponatremia, bingung (sementara), agitasi dan halusinasi pada sakit yang berat, gangguan penglihatan dilaporkan pada pemberian injeksi dosis tinggi.

Dosis:
tukak lambung dan tukak duodenum (termasuk yang komplikasi terapi AINS), 20 mg satu kali sehari selama 4 minggu pada tukak duodenum atau 8 minggu pada tukak lambung; pada kasus yang berat atau kambuh tingkatkan menjadi 40 mg sehari; pemeliharaan untuk tukak duodenum yang kambuh, 20 mg sehari; pencegahan kambuh tukak duodenum, 10 mg sehari dan tingkatkan sampai 20 mg sehari bila gejala muncul kembali.

Tukak lambung atau tukak duodenum karena AINS dan erosi gastroduodenum, 20 mg sehari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; profilaksis pada pasien dengan riwayat tukak lambung atau tukak duodenum, lesi gastroduodenum, atau gejala dispepsia karena AINS yang memerlukan pengobatan AINS yang berkesinambungan, 20 mg sehari.

Tukak duodenum karena H. pylori menggunakan regimen eradikasi (lihat 1.3).

Sindrom Zollinger Ellison, dosis awal 60 mg sekali sehari; kisaran lazim 20-120 mg sehari (di atas 80 mg dalam 2 dosis terbagi).

Pengurangan asam lambung selama anestesi umum (profilaksis aspirasi asam), 40 mg pada sore hari, satu hari sebelum operasi kemudian 40 mg 2-6 jam sebelum operasi.

Penyakit refluks gastroesofagal, 20 mg sehari selama 4 minggu diikuti 4-8 minggu berikutnya jika tidak sepenuhnya sembuh; 40 mg sekali sehari telah diberikan selama 8 minggu pada penyakit refluks gastroesofagal yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi lain; dosis pemeliharaan 20 mg sekalis sehari.

Penyakit refluks asam (Penatalaksanaan jangka panjang), 10 mg sehari meningkat sampai 20 mg sehari jika gejala muncul kembali. Dispepsia karena asam lambung, 10-20 mg sehari selama 2-4 minggu sesuai respons. Esofagitis refluks yang menyebabkan kondisi tukak yang parah (obati selama 4-12 minggu). ANAK di atas 1 tahun, berat badan 10-20 kg, 10 mg sekali sehari, jika perlu ditingkatkan menjadi 20 mg sekali sehari; Berat badan di atas 20 kg, 20 mg sekali sehari jika perlu ditingkatkan menjadi 40 mg sehari; Pemberian harus diawali oleh dokter anak di rumah sakit.

Anak. Neonatus 700 mcg/kg bb satu kali sehari, ditingkatkan jika perlu setelah 7-14 hari menjadi 1,4 mg/kg bb, beberapa neonatus memerlukan hingga 2,8 mg/kg bb satu kali sehari; Usia 1 bulan-2 tahun: 700 mcg/kg bb satu kali sehari, ditingkatkan jika perlu menjadi 3 mg/kg bb (maks. 20 mg) satu kali sehari; Berat badan 10-20 kg, 10 mg satu kali sehari ditingkatkan jika perlu menjadi 20 mg satu kali sehari (pada kasus refluks esofagitis ulseratif yang parah, maks. 12 minggu dengan dosis lebih tinggi); Berat badan > 20 kg, 20 mg satu kali sehari ditingkatkan jika perlu menjadi 40 mg satu kali sehari (pada kasus refluks esofagitis ulseratif, maks. 12 minggu dengan dosis lebih tinggi).

Eradikasi H. pylori pada anak (dalam kombinasi dengan antibakteri, lihat 1.3): Usia 1-12 tahun, 1-2 mg/kg bb (maks. 40 mg) satu kali sehari; Usia 12-18 tahun: 40 mg satu kali sehari.

Injeksi intravena diberikan selama 5 menit atau melalui infus intravena; profilaksis aspirasi asam, 40 mg harus telah diberikan seluruhnya, 1 jam sebelum operasi. Refluks gastroesofagal, tukak duodenum dan tukak lambung, 40 mg sekali sehari hingga pemberian oral dimungkinkan.

Anak. Injeksi intravena selama 5 menit atau dengan infus intravena: Usia 1 bulan-12 tahun: dosis awal 500 mikrogram/kg bb (maks. 20 mg) satu kali sehari, ditingkatkan menjadi 2 mg/kg bb (maks. 40 mg) jika diperlukan.; Usia 12-18 tahun, 40 mg satu kali sehari.

Saran: Telan seluruh kapsul, larutkan tablet dalam air atau campur isi kapsul dengan sari buah atau yoghurt.

Pemberian pada anak: Oral, sama dengan dewasa.

Enteral: Buka kapsul omeprazol, larutkan omeprazol dalam sejumlah air secukupnya atau dalam 10 mL Natrium Bikarbonat 8,4% (1mmol Na+/mL). Biarkan selama 10 menit sebelum diberikan.

Infus intermiten intravena, encerkan larutan rekonstitusi pada kadar 400 mikrogram/mL dengan glukosa 5% atau Natrium Klorida 0,9%, berikan selama 20-30 menit.

PANTOPRAZOL
Indikasi:
Oral 20 mg: pengobatan jangka panjang penyakit refluks sedang dan berat, simtomatis Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks yang non erosif.

Oral 40 mg: terapi peningkatan gejala dan periode gangguan lambung dan usus halus yang memerlukan penurunan sekresi asam lambung, tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis sedang dan berat, dalam kombinasi dengan 2 antibiotik yang sesuai untuk eradikasi pada pasien H. pylori dengan tukak peptik bertujuan untuk menurunkan kekambuhan tukak lambung dan duodenum yang disebabkan oleh mikroorganisme, sindrom Zollinger-Ellison dan kondisi hipersekresi patologis lainnya.

Injeksi: tukak duodenum dan lambung; kasus inflamasi esophagus sedang dan berat; serta untuk terap kondisi hipersekresi patologis yang terkait dengan sindrom Zollinger-Ellison atau kondisi neoplastik lainnya.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; gangguan ginjal (lihat Lampiran 3)

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Kontraindikasi:
seharusnya tidak diberikan pada pasien yang hipersensitif pantoprazol

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; dilaporkan juga peningkatan trigliserida.

Dosis:
oral, tukak peptik, 40 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya. Refluks gastroesofagal, 20-40 mg pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 20 mg sehari, ditingkatkan sampai 40 mg jika gejala muncul kembali. Tukak duodenum, 40 mg sehari pada pagi hari selama 2 minggu, diikuti 2 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh. Tukak duodenum yang disebabkan Helicobacter pylori, lihat regimen eradikasi. Pencegahan tukak peptik dan tukak duodenum yang disebabkan AINS dengan peningkatan resiko komplikasi gastroduodenum yang membutuhkan pemberian AINS berkesinambungan, 20 mg sehari. Untuk sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 80 mg sekali sehari dan disesuaikan dengan respons (LANSIA: maksimal 40 mg sehari); dosis harian di atas 80 mg diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Injeksi intravena tidak lebih dari 2 menit atau dengan infus intravena, tukak duodenum, tukak lambung dan refluks gastroesofagal sedang hingga berat, 40 mg sehari sampai pemberian oral dapat dilanjutkan lagi. Terapi jangka panjang sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 80 mg, selanjutnya dosis dititrasi (naik atau turun) sesuai kebutuhan dengan panduan pengukuran asam lambung. Untuk dosis di atas 80 mg, harus diberikan dalam dosis terbagi dan diberikan 2 kali sehari. Peningkatan dosis di atas 160 mg untuk sementara waktu diperbolehkan, namun tidak boleh digunakan lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengontrol asam lambung.

Dalam kasus yang memerlukan kontrol asam yang cepat, dosis awal 2 x 80 mg pantoprazol intravena cukup untuk mengendalikan penurunan asam lambung hingga target kisaran (< 10 mEq/h) dalam 1 jam pada kebanyakan pasien.

Anak: penggunaan pantoprazol oral maupun parenteral pada anak tidak dianjurkan.

Advertisements
Share:

Related Post

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better