Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.2 Antispasmodik dan Obat-Obat Lain yang Mempengaruhi Motilitas Saluran Cerna

Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.2 Antispasmodik dan Obat-Obat Lain yang Mempengaruhi Motilitas Saluran Cerna

1.2 Antispasmodik dan Obat-Obat Lain yang Mempengaruhi Motilitas Saluran Cerna

Antispasmodik merupakan golongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos. Obat yang termasuk dalam kelas ini adalah antimuskarinik dan relaksan yang dipercaya bekerja langsung di otot halus usus. Sifat relaksan otot polos dari senyawa antimuskarinik dan obat antispasmodik lain mungkin bermanfaat untuk Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan penyakit divertikular. meskipun antispasmodik dapat mengurangi spasme usus, tetapi penggunaannya untuk dispepsia non-tukak, IBS, dan penyakit divertikular tidak bermanfaat. Manfaat klinik antisekresi lambung obat antimuskarinik konvensional relatif kecil, Sementara efek sampingnya mirip senyawa atropin. Selain itu, keberadaannya telah digantikan oleh obat- obat antisekresi yang lebih kuat dan spesifik, yakni antagonis reseptor-H2 histamin dan antimuskarinik selektif pirenzepin.

Antagonis reseptor dopamin metoklopramid dan domperidon (lihat bagian 1.2.3) menstimulasi (transit) di saluran cerna.

1.2.1 Antimuskarinik

Antimuskarinik (sebelumnya disebut antikolinergik mengurangi motilitas usus. Kelompok obat ini digunakan untuk penatalaksanaan Irritable Bowel Syndrome dan penyakit divertikular. Namun, efektifitasnya belum diketahui dengan pasti dan responsnya bervariasi. Indikasi lain untuk obat antimuskarinik meliputi aritmia (bagian 2.2), asma dan penyakit saluran pernafasan (bagian 3.1.3), motion sickness (bagian 4.6), parkinsonisme (bagian 4.9.2), inkontinensi urin (bagian 7.4.2), midriasis dan siklopegia (bagian 11.3), premedikasi, dan sebagai antidot keracunan organofosfor. Antimuskarinik yang digunakan untuk spasme otot polos saluran cerna meliputi senyawa amin tersier atropin sulfat dan disikloverin hidroklorida (disiklomin hidroklorida) dan senyawa amonium kuaterner propantelin bromida dan hiosin butilbromida. Senyawa amonium kuaterner kurang larut dalam lipid dibandingkan atropin, sehingga lebih sulit menembus sawar darah-otak. Selain itu juga absorpsinya lebih kecil.

Disikloverin hidroklorida memiliki kerja antimuskarinik yang lebih lemah dari pada atropin dan senyawa ini juga bekerja langsung pada otot polos. Hiosin butilbromida absorpsinya sangat kecil. Sediaan injeksinya bermanfaat pada endoskopi dan radiologi. Pengobatan dengan menggunakan atropin dan alkaloid beladona sudah banyak ditinggalkan, karena efek samping atropin lebih besar dibanding manfaat klinisnya.

Peringatan: Antimuskarinik sebaiknya digunakan secara hati-hati pada keadaan Down’s syndrome, pada anak, dan lansia; obat ini juga sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada penyakit refluks gastroesofagus (GERD), diare, kolitis dengan tukak, infark miokard akut, hipertensi, kondisi penyakit dengan gejala takikardi (termasuk hipertiroid, insufisiensi kardiak, operasi jantung), pireksia, kehamilan dan menyusui.

Interaksi: Lampiran 1 (antimuskarinik)

Kontraindikasi: Antimuskarinik dikontraindikasikan pada angle-closure glaucoma, miastenia gravis (namun dapat digunakan untuk menurunkan efek samping muskarinik dari antikolinesterase), ileus paralitik, stenosis pilorik dan pembesaran prostat.

Efek samping: Efek samping antimuskarinik meliputi konstipasi, bradikardi selintas (diikuti takikardia, palpitasi dan aritmia), penurunan sekresi bronkus, sulit berkemih (urinary urgency and retention), dilatasi pupil dengan hilangnya akomodasi, fotofobia, mulut kering, kulit mengering dan memerah. Efek samping yang jarang terjadi adalah kebingungan (terutama pada lansia), mual, muntah dan giddiness (rasa pusing dan gamang), glaukoma sudut sempit sangat jarang terjadi.

Monografi:
ATROPIN SULFAT DAN ALKALOID BELADONA
Indikasi: pengobatan simptomatik gangguan saluran cerna yang ditandai dengan spasme otot polos, midriasis dan sikloplegia; premedikasi; lihat keterangan di atas; lihat juga 15.1.3.
Peringatan: lihat keterangan di atas
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antimuskarinik)
Kontraindikasi: lihat keterangan di atas; glaukoma sudut sempit.
Efek Samping: lihat keterangan di atas

HIOSIN BUTILBROMIDA
Indikasi: terapi tambahan gangguan saluran cerna dan saluran kemih yang ditandai dengan spasmus otot polos (lihat keterangan di atas), dismenore (lihat bagian 6.1)
Peringatan: lihat keterangan di atas
Kontraindikasi: lihat keterangan di atas, hindarkan pada porfiria
Efek Samping: lihat keterangan di atas
Dosis: Oral (namun absorpsinya buruk, lihat keterangan di atas), 20 mg 4 kali sehari; Anak 6-12 tahun: 10 mg 3 kali sehari. Injeksi intramuskuler atau intravena lambat (spasme akut dan spasme pada prosedur diagnostik) 20 mg, bila perlu diulang setelah 30 menit (dapat diulang lebih sering pada endoskopi) maksimal 100 mg sehari; ANAK: tidak disarankan.

PROPANTELIN BROMIDA
Indikasi: pengobatan simptomatik gangguan saluran cerna yang ditandai oleh spasme otot polos.
Peringatan: lihat keterangan di atas
Kontraindikasi: lihat keterangan di atas
Efek Samping: lihat keterangan di atas
Dosis: 15 mg 3 kali sehari sekurang-kurangnya 1 jam sebelum makan dan 30 mg sebelum tidur, maksimal 120 mg sehari; ANAK tidak dianjurkan

1.2.2 Antispasmodik Lain

Beberapa senyawa seperti alverin, mebeverin dan minyak pepermin dipercaya merupakan relaksan yang bekerja langsung pada otot polos usus dan mungkin dapat meringankan nyeri pada IBS dan penyakit divertikular. Senyawa-senyawa tersebut tidak mempunyai efek samping serius, namun sebagaimana antispasmodik lainnya penggunaan obat ini sebaiknya dihindari pada ileus paralitik.

Monografi:

ALVERIN SITRAT
Indikasi: pengobatan tambahan pada gangguan saluran cerna yang ditandai oleh spasmus otot polos; dysmenorrhoea
Peringatan: kehamilan (lihat lampiran 4); menyusui (lihat Lampiran 5)
Kontraindikasi: ileus paralitik; jika dikombinasi dengan sterculia, obstruksi usus, faecal impaction, atoni kolon
Efek Samping: mual, sakit kepala, pruritus, ruam kulit dan mengantuk pernah dilaporkan
Dosis: 60-120 mg 1-3 kali sehari: ANAK berusia di bawah 12 tahun tidak direkomendasikan

MEBEVERIN HIDROKLORIDA
Indikasi: terapi tambahan pada gangguan saluran cerna yang ditandai oleh spasme otot polos
Peringatan: kehamilan (Lampiran 4); hindarkan pada porfiria
Kontraindikasi: ileus paralitik
Efek Samping: jarang terjadi, reaksi alergi (termasuk ruam, urtikaria, angioedema)
Dosis: Dewasa dan anak di atas 10 tahun, 135 – 150 mg 3 kali sehari, sebaiknya 20 menit sebelum makan.

PEPPERMINT OIL
Indikasi: mengatasi rasa sakit dan kembung pada abdomen, terutama pada Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Peringatan: sangat sensitif dengan menthol
Efek Samping: rasa terbakar (heart burn), iritasi perianal; reaksi alergi (termasuk ruam kulit, sakit kepala, bradikardi, tremor otot, ataksia) Iritasi setempat (lokal) kapsul sebaiknya tidak dipatahkan atau dikunyah karena peppermint oil dapat mengiritasi mulut atau esofagus

1.2.3 Stimulan Motilitas

Metoklopramid dan domperidon merupakan antagonis dopamin yang menstimulasi pengosongan lambung dan transit usus halus, dan meningkatkan kekuatan kontraksi sfingter esofagus. Obat-obat ini digunakan pada beberapa pasien dispepsia non-tukak. Metoklopramid juga digunakan untuk mempercepat transit barium selama pemeriksaan intestin, dan sebagai pengobatan tambahan pada penyakit refluks esofagus. Metoklopramid dan domperidon juga bermanfaat pada mual dan muntah yang non-spesifik dan yang disebabkan oleh sitotoksik. Metoklopramid dan kadang-kadang domperidon dapat menginduksi reaksi distonia akut, utamanya pada wanita muda dan anak-anak. Untuk informasi lebih lengkap dan efek samping lainnya dapat dilihat pada bagian 4.4.

Monografi:

CISAPRID
Indikasi: Dewasa: untuk mengatasi gangguan motilitas gastrointestinal, khususnya gastroparesis. Anak-anak: untuk refluks gastroesofagal berat, apabila terapi lain tidak berhasil.
Peringatan: Jangan melebihi dosis yang dianjurkan, gunakan dengan hati-hati pada kondisi yang menyebabkan perpanjangan QT seperti gangguan elektrolit yang tidak terkoreksi (terutama hipokalemia dan hipomagnesemia), gunakan hati-hati pada penderita yang menggunakan obat yang dapat memperpanjang interval QT; hindarkan pemberian cisaprid bersamaan dengan sediaan oral atau parenteral klatiromisin, eritromisin, flukonazol, itrakonazol, ketokonazol, atau mikonazol.
Kontraindikasi: Bila tindakan stimulasi saluran cerna membahayakan; kehamilan dan menyusui.
Efek Samping: Kram abdomen dan diare; sakit kepala dan pusing; kejang; efek ekstrapiramidal dan peningkatan frekuensi berkemih; fungsi hati tidak normal (mungkin kholestatis); aritmia ventrikel (termasuk torsades de pointes).
Dosis: Dewasa: Dosis awal adalah 5 mg 3-4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sampai maksimum 40 mg/hari, dalam 3-4 kali pemberian. Anak: Dosis awal 0,2 mg/kg bb 3-4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sampai maksimum 0,8 mg/kg bb perhari dan tidak melebihi 20 mg/hari. Dosis untuk anak sebaiknya tidak melebihi 5 mg setiap kali minum. Untuk gangguan hati atau ginjal: dosis dikurangi menjadi ½ kali dosis harian yang direkomendasikan. Obat diminum 15 menit sebelum makan dan ketika akan tidur malam. Setiap 2 minggu pemakaian dilakukan evaluasi oleh dokter.
Keterangan: *Sesuai dengan Press Release dari Direktur Jendral POM pada tanggal 31 Agustus 2000, dilakukan pembatasan indikasi, pembatasan akses dan distribusi. Peresepan hanya dapat dilakukan di rumah sakit tipe A, B, C dengan pemantauan terhadap efek samping obat (ESO)dilakukan selama 1-2 tahun. Untuk penggunaan cisaprid, seperti informasi di atas.

Share:

Related Post

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better