Advertisements
Pharmaceutical Seminar 78 (PHASE) Fakultas Farmasi Universitas Indonesia 2014

Pharmaceutical Seminar 78 (PHASE) “The Golden Key of Global Change: Inovation and Improvement for Pharmacy”

Pharmaceutical Seminar 78 atau dikenal dengan PHASE adalah acara workshop dan seminar nasional yang diadakan oleh mahasiswa program profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Phase ke-78 ini mengangkat tema “The Golden Key of Global Change: Inovation and Improvement for Pharmacy“. Hal ini berkaitan dengan peran Apoteker sebagai seorang professional kesehatan berkaitan dengan dampak pelaksanaan SJSN (Sistem Jaminan Kesehatan Nasional).

Advertisements
Rencana Merger PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) Mengambang

Kebijakan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) soal holding atau perampingan BUMN seperti rencana merger PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) bakal molor. Pasalnya, sisa masa pemerintahan saat ini tinggal menunggu waktu. Oleh karena itu, kebijakan merger tersebut masih terkantung dan bergantung dengan Menteri BUMN berikutnya.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, pihaknya akan menyelesaikan satu per satu mengenai program perampingan BUMN. Di mana, untuk konsolidasi BUMN farmasi,

Saham Perusahaan Pengolah Data Farmasi Cina Meroket Tajam

Harga saham dari perusahaan Citic 21CN “meroket tajam” pada perdagangan hari jumat kemarin, setelah beredarnya kabar kalau raksasa e-commerce Cina, Alibaba Group dan lini bisnis private equity mereka, Yunfeng Capital telah menginvestasikan sebanyak HKD 1,33 Miliar (USD 171,23 Juta) untuk 4,42 Miliar lembar saham di Citic 21CN. Hal ini sontak menggemparkan bursa Cina, pasalnya harga saham Citic 21CN yang pada hari itu sempat meloncat hingga 500 persen dari harga penutupan sehari sebelumnya.

Menyambut Era e-Catalog dalam Tender ALKES dan Obat

www.Farmasi.asia – Mungkin, tahun 2012 adalah kali terakhir para distributor farmasi melayani pengadaan/tender melalui sistem lelang. Seperti disampaikan Bapak Agus Rahardjo selaku Kepala LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) terkait proses pengadaan (alkes dan/atau obat-obatan) dilakukan tanpa lelang melainkan dapat langsung dibeli setelah melihat daftar yang terdapat di database situs. Daftar inilah yang dinamakan e-Catalog.

Akhir tahun 2012 kita akan coba menambah e-catalog alat kesehatan, obat dan alat kesehatan habis pakai seperti halnya pengadaan kendaraan yang sudah mengusung lebih dulu sistem e-Catalog. Dengan adanya e-Catalog yang tayang di situs, pemerintah bisa langsung membeli tanpa melalui proses lelang seperti yang dilakukan selama ini. (Agus Rahardjo, Oktober 2012)

e-Catalog Meminimalisir Penyimpangan

Melalui e-Catalog, pengadaan ALKES (Alat Kesehatan) dan Obat yang terdapat celah untuk terjadinya penyimpangan dapat diminimalisir. Mengapa bisa meminimalisir penyimpangan? Karena harga dan kualitas barang ALKES dan Obat yang terdaftar di e-Catalog sudah tercantum dengan jelas. Dengan adanya sistem e-Catalog, siapa pun bisa mengawasi agar tidak ada “pembengkakan biaya” alias Mark Up. Pihak pemerintah pun bisa leluasa memilih item produk yang dibutuhkan sesuai dengan anggaran dana yang tersedia.

Sistem e-Catalog ini memiliki akuntabilitas yang kuat mengantikan sistem pengadaan ALKES dan Obat terdahulu. Tujuan akhirnya agar tata kelola pengadaan menjadi lebih tertata dan baik. Efeknya, “kongkalikong” pun dapat dihindarkan karena harga yang sudah pasti. Indonesia Corruption Watch (ICW) pun menyambut baik akan hadirnya sistem pengadaan melalui e-Catalog ini

Tahun 2013 adalah Era e-Catalog

Menginjak tahun 2013, Balai LPSE (Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik) akan merubah sistem pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan dari lelang menjadi katalog elektronik (e-Catalaog). Selanjutnya, bagi Dinas atau Rumah Sakit pemerintah yang ingin mendadakan pengadaan tinggal memilih saja karena harga dan spesifikasinya sudah tertera jelas.

e-Catalog di farmasi.asia

Siapkah Distributor Farmasi Indonesia?

GP (Gabungan Perusahaan) Farmasi Indonesia menyatakan kesiapannya atas rencana pemerintah yang segera akan memberlakukan sistem e-catalog untuk proses tender kebutuhan farmasi di Indonesia. Dengan adanya sistem e-Catalog tersebut, pihak konsumen tidak perlu lagi melakukan tender secara manual.

Semua konsumen yang memerlukan produk farmasi tinggal menuliskan pada e-catalog, produk yang dibutuhkan apa, berapa, untuk daerah mana, dsb. Kemudian, pihak produsen akan mengajukan harga, termasuk siapa distributornya. Dengan begini proses pengadaannya (tender) menjadi lebih terbuka dan transparan. Sehingga, nantinya tidak perlu lagi ada tender manual. (Darodjatun Sanusi, November 2012).

Sistem e-catalog tersebut dapat meminimalisasi praktik kecurangan karena dapat diikuti oleh siapa saja, baik dari kalangan konsumen, produsen maupun distributor. Sehingga lebih fair.

e-Catalog bersinergi dengan SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional)

Dengan adanya e-Catalog, Rencana penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di tahun 2014 mendatang menjadi lebih dimudahkan karena sistem pembentukan harga yang tercantum dan juga bisa menjadi solusi terhadap masalah ketersediaan dan distribusi obat di daerah-daerah. Dengan kata lain, konsumen dapat melihat melalui e-Catalog seperti apa kemampuan distribusi produsen. Produsen Y seperti ini, Produsen X seperti itu. Konsumen juga bisa melihat distributor yang digandeng siapa? Bagaimana pengalamannya dll.

Menurut informasi, e-Catalog akan memuat sekurang-kurangnya 384 jenis ALKES dan OBAT yang secara umum sudah sering ditenderkan oleh Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah maupun pihak konsumen lainnya.

Untuk itu, jika ingin survive, mau tidak mau selain produsen terus memproduksi ALKES atau Obat yang berkualitas, para distributor (PBF; Pedagang Besar Farmasi) pun harus meningkatkan standar pelayanan. Mari Menyambut Era e-Catalog dalam Tender ALKES dan Obat di tahun yang baru; 2013 🙂

Selamat Jalan Bu MENKES, Endang RS

Hari ini, Rabu 2 Mei 2012 pukul 11.41 WIB, bertepatan dengan Hari Pendidikan, mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (57) mengembuskan napas terakhirnya akibat penyakit kanker Paru-Paru yang diderita sejak terdeteksi Oktober 201 silam atau satu tahun semenjak beliau menjabat sebagai Menteri Kesehatan periode 2009-2014.

Selama 1,5 tahun terakhir, Endang Rahayu mulai menjalani perawatan untuk melawan penyakitnya itu, baik di dalam maupun di luar negeri, hingga akhirnya tiga minggu yang lalu dia dilarikan ke RSCM karena merasa nyeri di tubuhnya. Pengobatan yang selama ini telah dijalani mantan Menkes antara lain radiasi lokal dan bedah beku, tujuannya untuk mengobati kanker secara lokal serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better