Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.1 Dispepsia dan Refluks Gastroesofagal

Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.1 Dispepsia dan Refluks Gastroesofagal

1.1 Dispepsia dan Refluks Gastroesofagal

Dispepsia

Dispepsia meliputi rasa nyeri, perut terasa penuh, kembung dan mual. Gejala ini dapat muncul bersamaan dengan tukak duodeni dan kanker lambung tapi umumnya tidak diketahui penyebabnya.

Helicobacter pylori mungkin ditemui pada pasien yang mengalami dispepsia. Terapi eradikasi H.pylori sebaiknya dipertimbangkan pada dispepsia dengan gejala serupa dengan tukak, meskipun sebagian besar pasien dengan dispepsia fungsional (non-tukak) tidak memerlukan terapi eradikasi H.pylori. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut bila dispepsia disertai dengan gejala-gejala yang membahayakan (seperti: perdarahan, disfagia, muntah berulang dan penurunan berat badan).

Penyakit refluks gastroesofagal

Penyakit refluks gastroesofagal (termasuk refluks gastroesofagal dan esofagitis erosif) meliputi gejala nyeri pada ulu hati, regurgitasi asam dan kadang-kadang kesulitan menelan (disfagia); inflamasi esofagal (esofagitis), ulserasi dan dapat terjadi striktur yang terkait dengan asma.

Penatalaksanaan gastroesofagal meliputi terapi obat, perubahan gaya hidup dan di beberapa kasus, perlu tindakan operasi. Terapi awal ditentukan oleh tingkat keparahan gejalanya dan kemudian terapi disesuaikan berdasarkan respons. Lamanya penyembuhan tergantung pada tingkat keparahan penyakit, pemilihan terapi dan lama terapi.

Untuk mengatasi gejala ringan dari gastroesofagal, penanganan awal adalah penggunaan antasida. Antagonis reseptor-H2 (bagian 1.3.1) menekan sekresi asam. Obat ini dapat meringankan gejala dan dapat mengurangi pemakaian antasida. Untuk kasus-kasus yang sulit disembuhkan, dapat dipertimbangkan penggunaan penghambat pompa proton (bagian 1.3.5), sebagaimana diuraikan berikut ini penggunaan penghambat pompa proton untuk kasus dengan gejala yang berat.

Untuk mengatasi gastroesofagal dengan gejala yang berat atau untuk pasien dengan patologi yang berat (esofagitis, ulserasi esofagal, refluks esofagofaringeal, esofagus Barrett), penanganan awal menggunakan penghambat pompa proton (bagian 1.3.5); pasien perlu diperiksa kembali bila gejala tetap muncul walaupun sudah diterapi dengan penghambat pompa proton selama 4-6 minggu. Jika gejala berkurang, terapi dapat dikurangi hingga pasien mengalami kondisi stabil dengan terapi tersebut. (Pengurangan terapi ini dapat berupa pengurangan dosis penghambat pompa proton atau pemberian secara berselang atau dengan penggantian obat dengan antagonis reseptor-H2). Namun, untuk kasus refluks gastroesofagal dengan striktur, ulserasi atau erosif (yang dipastikan melalui pemeriksaan endoskopi), terapi dengan penghambat pompa proton biasanya memerlukan dosis pemeliharaan sebesar dosis efektif minimal.

Obat prokinetik seperti metoklopramid (bagian 4.6) dapat memulihkan fungsi sfingter gastroesofagal dan mempercepat pengosongan lambung.

Pasien dengan penyakit gastroesofagal perlu diberi saran mengenai perubahan gaya hidup (menghindari konsumsi alkohol dan makanan yang merangsang lambung seperti lemak yang berlebihan); pengukuran lainnya meliputi pengurangan berat badan, penghentian kebiasaan merokok dan membiasakan posisi tidur dengan kepala di atas bantal.

Anak. Penyakit gastroesofagal umum terjadi pada bayi usia 12–18 bulan, namun sebagian besar gejalanya dapat hilang tanpa terapi. Pada bayi, gejala refluks ringan atau sedang tanpa komplikasi pada awalnya dapat diatasi dengan merubah frekuensi dan volume pemberian makanan; dapat digunakan pengental makanan atau formula makanan yang kental (dengan saran dari ahli gizi). Untuk anak yang lebih tua, terapi perubahan gaya hidup dapat dilakukan sebagaimana anjuran perubahan gaya hidup pada orang dewasa.

Anak yang tidak memberikan respons atau yang memiliki masalah seperti gangguan pernafasan atau adanya dugaan esofagitis perlu dirujuk ke rumah sakit; di mana mungkin diperlukan antagonis reseptor-H2 (bagian 1.3.1) untuk mengurangi sekresi asam. Jika esofagitis resisten terhadap antagonis reseptor-H2, dapat digunakan penghambat pompa proton (bagian 1.3.5). Penghambat pompa proton (bagian 1.3.5) dapat digunakan pada bayi dan anak untuk terapi esofagitis non-erosif dengan gejala sedang yang tidak memberikan respons terhadap pemberian antagonis reseptor-H2. Untuk kasus penyakit refluks gastroesofagal dengan striktur, ulserasi atau erosif, yang dipastikan melalui pemeriksaan endoskopi pada pasien anak umumnya diterapi dengan penghambat pompa proton. Perlu dilakukan pemeriksaan kembali bila gejala tetap muncul walaupun sudah diterapi dengan penghambat pompa proton selama 4-6 minggu; penggunaan jangka panjang dari antagonis reseptor-H2 atau penghambat pompa proton tidak boleh dilakukan jika tanpa pemeriksaan yang menyeluruh dalam rangka mencari penyebabnya.

Penggunaan stimulan motilitas (bagian 1.2.3) seperti domperidon dapat memperbaiki kontraksi sfingter gastroesofagal dan mempercepat pengosongan lambung, namun efikasinya dalam penggunaan jangka panjang tidak terbukti.

1.1.1 Antasida dan Simetikon

Antasida masih bermanfaat untuk mengobati penyakit saluran cerna. Antasida seringkali dapat meringankan gejala-gejala yang muncul pada penyakit dispepsia tukak maupun non-tukak, serta pada penyakit refluks gastro-esofagal (gastroesofagitis) tanpa erosi. Antasida juga kadang-kadang digunakan dalam dispepsia fungsional (non-tukak) tapi bukti kemanfaatannya belum dapat dipastikan.

Antasida paling baik diberikan saat muncul atau diperkirakan akan muncul gejala, lazimnya diantara waktu makan dan sebelum tidur, 4 kali sehari atau lebih.

Dosis tambahan mungkin diperlukan, yakni sampai interval setiap jam. Pemberian dosis lazim (misal 10 mL, 3 atau 4 kali sehari) cairan antasida magnesium-aluminium, meskipun dapat meningkatkan penyembuhan tukak tetapi kurang efektif bila dibandingkan dengan antisekresi (lihat 1.3.1 sampai dengan 1.3.5).

Pemilihan sediaan antasida bergantung pada kapasitas penetralan, kandungan ion natrium, efek samping, palatibilitas, dan kemudahan penggunaannya.

Pemberian antasida dengan kandungan natrium tinggi (misal campuran magnesium trisilikat) harus dihindari pada pasien yang memerlukan pembatasan masukan natrium. Demikian pula pada kondisi gagal ginjal dan jantung atau kehamilan.

Hipermagnesemia mungkin terjadi bila antasida yang mengandung magnesium diberikan pada pasien yang mengalami gagal ginjal.

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat lain sebaiknya dihindari karena mungkin dapat mengganggu absorpsi obat lain. Selain itu, antasida mungkin dapat merusak salut enterik yang dirancang untuk mencegah pelarutan obat dalam lambung: lihat Lampiran 1 (antasida dan AINS).

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat lain sebaiknya dihindari karena mungkin dapat mengganggu absorpsi obat lain. Selain itu, antasida mungkin dapat merusak salut enterik yang dirancang untuk mencegah pelarutan obat dalam lambung: lihat Lampiran 1 (antasida dan AINS).

Antasida adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menetralkan asam lambung atau mengikatnya. Sediaan antasida dapat digolongkan menjadi:

1.1.1.1 Antasida Dengan Kandungan Aluminium dan/atau Magnesium

Antasida yang mengandung magnesium atau aluminium yang relatif tidak larut dalam air seperti magnesium karbonat, hidroksida, dan trisilikat serta aluminium glisinat dan hidroksida, bekerja lama bila berada dalam lambung sehingga sebagian besar tujuan pemberian antasida tercapai. Sediaan yang mengandung magnesium mungkin dapat menyebabkan diare, sedangkan yang mengandung aluminium mungkin menyebabkan konstipasi; antasida yang mengandung magnesium dan aluminium dapat mengurangi efek samping pada usus besar ini. Akumulasi aluminium tampaknya tidak menjadi risiko bila fungsi ginjal normal.

Manfaat sediaan campuran dibanding sediaan tunggalnya belum jelas benar, kapasitas penetralan keduanya mungkin sama. Selain itu, kompleks seperti hidrotalsit, tidak menunjukkan manfaat khusus.

Monografi:
ALUMINIUM HIDROKSIDA
Indikasi: dispepsia, hiperfosfatemia (lihat 9.5.2.2)
Peringatan: lihat keterangan di atas; gangguan ginjal (Lampiran 3)
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia, porfiria
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Suspensi: 1-2 sachet (7-14 mL), 3-4 kali sehari, anak lebih 8 tahun: ½ -1 sachet, 3-4 kali sehari

MAGNESIUM HIDROKSIDA
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal (lampiran 3)
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia
Efek Samping: diare, bersendawa karena terlepasnya karbondioksida
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Suspensi: 5 mL, 3-4 kali sehari.

Kombinasi Mg(OH)2, CaCO3, Famotidin
Indikasi: untuk mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak duodeni, yang tidak dapat diatasi dengan antasida.
Peringatan: gangguan ginjal, gangguan hati, hamil, menyusui; Tidak dianjurkan digunakan terus menerus lebih dari 2 minggu kecuali atas petunjuk dokter.
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia, alergi terhadap famotidin atau antagonis reseptor H2 lainnya.
Efek Samping: konstipasi, diare, mual, muntah, sakit kepala, pusing, gangguan irama jantung dan ruam kulit.
Dosis: Dewasa dan anak di atas 12 tahun: sehari 2 x 1 tablet kunyah, diminum jika timbul gejala atau 1 jam sebelum makan. Maksimum 2 tablet/hari (2 tablet dalam 24 jam). Sebaiknya tidak diminum bersama makanan. Tablet dikunyah sebelum ditelan. Untuk anak kurang dari 12 tahun: sesuai petunjuk dokter.

KOMPLEKS MAGNESIUM HIDROTALSIT
Indikasi: untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, tukak lambung, tukak duodeni dengan gejala-gejala seperti mual, kembung dan perasaan penuh pada lambung.
Peringatan: gangguan ginjal; lihat juga catatan di atas.
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida dan adsorben).
Dosis: Dewasa: 3-4 kali sehari, 1-2 tablet. Anak-anak 6-12 tahun: sehari 3-4 kali, ½-1 tablet. Dianjurkan untuk minum obat ini segera pada saat timbul gejala dan dilanjutkan 1-2 jam sebelum makan atau setelah makan dan sebelum tidur malam. Dapat diminum dengan air atau dikunyah langsung.

MAGNESIUM KARBONAT
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal; dan lihat juga catatan di atas;
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia
Efek Samping: diare, bersendawa karena terlepasnya karbondioksida
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan; Suspensi: 10 mL 3 x sehari

MAGNESIUM TRISILIKAT
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal ; lihat juga catatan di atas,
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida dan adsorben).
Kontraindikasi: hipofosfatemia
Efek Samping: diare, sendawa akibat dari dihasilkannya CO2, batu ginjal berasal dari silica dilaporkan pada terapi jangka panjang.
Dosis: 1-2 tablet dikunyah, diberikan hingga 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Suspensi: 1-2 sachet (7-14 mL), 3-4 kali sehari, anak > 8 tahun: ½ – 1 sachet, 3-4 kali sehari.

1.1.1.2 Antasida Dengan Kandungan Natrium Bikarbonat

Natrium bikarbonat merupakan antasida yang larut dalam air dan bekerja cepat. Namun dalam dosis berlebih dapat menyebabkan alkalosis. Seperti antasida lainnya yang mengandung karbonat, terlepasnya karbon dioksida menyebabkan sendawa. Natrium bikarbonat sebaiknya tidak diberikan lagi dalam bentuk sediaan tunggal untuk dispepsia, tapi merupakan bagian dari kombinasi zat aktif untuk pengobatan saluran cerna. Pemberian natrium bikarbonat dan sediaan antasida dengan kandungan natrium yang tinggi, seperti campuran magnesium trisilikat, sebaiknya dihindari pada pasien yang sedang diet rendah garam (pada gagal jantung, gangguan hati dan ginjal).

1.1.1.3 Antasida Dengan Kandungan Bismut dan Kalsium

Antasida yang mengandung bismut (kecuali kelat) sebaiknya dihindari karena bismut yang terabsorpsi bersifat neurotoksik, menyebabkan ensefalopati, dan cenderung menyebabkan konstipasi.

Antasida yang mengandung kalsium dapat menginduksi sekresi asam lambung. Pada dosis rendah manfaat klinisnya diragukan. sedangkan penggunaan dosis besar jangka panjang dapat menyebabkan hiperkalsemia dan alkalosis, serta memperburuk sindrom susu-alkalis.

Interaksi lihat Lampiran 1 (antasida).

1.1.1.4 Antasida Dengan Kandungan Simetikon

Senyawa antasida lain sering kali ditemukan dalam sediaan tunggal maupun kombinasi. Simetikon (bentuk aktif dimetikon), diberikan sendiri atau ditambahkan pada antasida sebagai antibuih untuk meringankan kembung (flatulen). Pada perawatan paliatif, dapat mengatasi cegukan.

Share:

Related Post

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better