Sudah sering dalam perkuliahan farmasi “terdengar” kalimat bahwa “Apoteker masa kini berorientasi pada pasien“. Apa yang dapat diambil dari pernyataan tersebut? “Masa kini” yang seperti apa? Abad ke-20? Ke-21? Sekarang? Atau hanya sebuah wacana pendidikan yang harus dihapal dan saat menuliskan kembali ketika ujian memperoleh nilai A?

Memang tidak 100% apoteker di Indonesia “melenceng” dari peran yang seharusnya mereka lakukan, tapi mengapa tidak 100%? Oleh sebab itu, pernah suatu ketika seorang apoteker ditanya, “mengapa tidak mendaftar menjadi PNS atau perusahaan?” dia menjawab dengan bijaksana dengan “aroma” ideologi yang sangat kentara, “karena Saya tidak ingin terikat. Jika Saya terikat dengan suatu lembaga, Saya akan sulit menentukan kebijakan untuk pasien karena Saya harus mendahulukan kepentingan lembaga dan (terkadang) mengesampingkan kebutuhan utama pasien”.

“Apoteker masa kini berorientasi pada pasien“? Atau masih menerapkan “sistem” lama yang “Drugs Oriented”? Hadir 1x dalam sebulan pada apotek yang menjadi tanggung jawabnya sudah merupakan “keberuntungan” bahkan ada yang 5 bulan baru sekali menunjukkan “muka”. Apa peran apoteker hanya sebatas menjadi penanggung jawab pasif yang dibayar perbulan? Gaji buta-kah?

Jika gaji buta yang terjadi, terus terang, ini lebih buruk dari drugs oriented. Mungkin akan muncul istilah baru di perkuliahan farmasi, “Money Oriented”.

Sekedar menyegarkan ingatan (dan mudah-mudahan merubah perilaku ke arah yang lebih baik), secara garis besar, Peranan Apoteker terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Peranan Apoteker di Farmasi Komunitas
  2. Peranan Apoteker di Industri Farmasi
  3. Peranan Apoteker di Pemerintah

Dari ke-3 peranan di atas, Peranan Apoteker di Farmasi Komunitas lah yang paling dominan untuk “urusan” orientasi pada pasien.

Peranan Apoteker yang bagaimana? Seperti apa? Pastikan Anda tetap stay tune di farmasi.dikti.net ;)

(bersambung..)