Suppositoria Jangan Dimakan!

Pernah suatu ketika ada pasien yang menerima resep sediaan dengan bentuk suppositoria. Karena si “penerima” resep tidak memberitahu cara penggunaannya, sang pasien malah memakan dan mengunyah layaknya sebuah coklat namun berasa hambar. Padahal suppositoria memiliki cara penggunaan special. Mengapa spesial? Silakan simak penjelasan berikut…

Suppositoria merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria umumnya adalah adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester lemak polietilen glikol.

Beberapa suppositoria untuk rektum di antaranya ada yang berbentuk seperti peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung pada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan, beratnya pun berbeda-beda. USP menetapkan beratnya lebih kurang 2 g untuk orang dewasa bila oleum cacao yang digunakan sebagai basis. Secara umum biasanya suppositoria rektum panjangnya 32 mm, berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Sedangkan suppositoria untuk bayi dan anak-anak, berat dan ukurannya ½ dari ukuran dan berat untuk orang dewasa.

Penggunaan obat dalam suppositoria memiliki keuntungan dibandingkan penggunaan obat melaluia oral, yaitu:

1. menghindari terjadinya iritasi pada lambung.

2. menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan.

3. cepat masuk ke saluran darah dan berakibat memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat melalui oral.

4. bagi pasien yang mudah muntah dan tidak sadar.

Untuk tujuan penting selayaknya basis suppositoria dibagi menurut sifat fisiknya, yaitu basis bersifat minyak atau berlemak; basis yang larut dalam air atau dapat bercampur dengan air; basis-basis lainnya, umumnya merupakan kombinasi dari bahan-bahan lipofilik dan hidrofilik.

Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, karena pada dasarnya oleum cacao termasuk kelompok ini, utama dan kelompok ketiga merupakan golongan basis-basis lainnya. Diantara bahan-bahan berminyak atau berlemak lainnya yang biasa digunakan sebagai basis suppositoria : macam-macam asam lemak yang dihidrogenasasi dari minyak nabati seperti minyak palem dan minyak biji kapas. Juga kumpulan basis berlemak yang mengandung gabungan gliserin dengan asam lemak dengan berat molekul tinggi, seperti asam palmitat dan asam stearat, mungkin ditemukan dalam basis suppositoria berlemak.

Jadi, Anda sudah tahu seharusnya “diapakan” jika mendapat resep suppositoria? Ingat, mintalah petunjuk -cara penggunaan dan penyimpanan serta langkah pertama yang dilakukan jika terjadi efek samping- di mana Anda menebus resep. Bertanya adalah HAK Pasien dan Apoteker WAJIB member Informasi. Demi Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia. Mulailah saat ini juga 😉

Share:

Related Post

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better