GeMa CerMat dan Penggunaan Obat di Bulan Puasa di CFD Baubau

Farmasi.Asia – Angin barat telah berlalu, gulungan obat besar telah menjinak, nelayan-nelayan pesisir bergembira, ini menandakan bahwa musim memancing telah tiba. Inilah kota Baubau.

Kegembiraan itu juga dirasakan kami Ts Apoteker PC IAI Baubau, dengan mensosialisasikan GeMaCerMat, Penggunaan Obat di Bulan Puasa dan Penggunaan Antibiotik di salah satu Boulevard dipesisir pantai Baubau.

***

Sebagai Master Agent of Change, dalam hati, sedikit malu melihat ts MAOC lain telah berbuat banyak sepulang dari Jakarta. Sedang kami belum berbuat apa-apa.

Masih terngiang-ngiang dalam hati sanubari 6 fakta integritas MAOC:

  1. Menjadi Tim Pembina, sebagai penggerak utama Program GeMaCerMat dan AoC ditingkat pusat dan daerah
  2. Melakukan pengumpulan data dan dokumentasi terkait GemaMermat di daerah
  3. Melakukan sosialisasi dan advokasi bersama lintas program dan lintas sektor terkait gema cermat di daerah
  4. Melakukan sosialisasi dan advokasi dengan tenaga kesehatan lintas profesi terkait GeMaCerMat
  5. Melakukan komunikasi, penyebaran informasi dan edukasi terkait GeMaCerMat melalui media
  6. Melakukan edukasi dan pemberdayaan masyarakat terkait GeMaCerMat di daerah

Namun dalam kesunyian itu, ada bagian tersembunyi, kami sedang mempersiapkan dan menggaungkan GeMaCerMat dan Program2 Apoteker lainnya dalam skala yang lebih luas.

Kami melakukan konsolidasi kepada semua Ts apoteker untuk membuat Rapat Kerja Cabang PC IAI Baubau tahun 2018. Menyatukan Ts yang bekerja diberbagai sarana kefarmasian dan dengan kesibukan masing-masing, namun tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi PC IAI Baubau, terbentuk dari Ts Apoteker yang berada dalam kabupaten berbeda, yakni Ts Apoteker dari Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Tengah, dan Kabupaten Buton Selatan. Dari sisi geografis ts akan bersusah payah biar sampe di Baubau, karena harus melewati perjalanan jauh dan menyeberangi lautan.

Kami mampu mengumpulkan Ts Apoteker itu, Ts tidak akan gampang datang kalau hanya ajakan begitu saja. Banyak WAG sunyi karena susahnya mengajak ts untuk membuat kegiatan. Apa yang kami lakukan mula-mula adalah menciptakan Visi Bersama. Bahwa apoteker harus maju, berpraktek secara profesional tanpa perlu takut terjebak dalam pelanggaran hukum karena Serkom dan STRA telah kadaluarsa. Resertifikasi dan Pengurusan STRA adalah tantangan yang harus dihadapi.

Oleh karena itu, kami meyakinkan ts semua bahwa hanya dengan membuat program-program dan kegiatan oleh PC IAI Baubau. Kebutuhan SKP (Satuan Kredit Partisipatif) bisa kita peroleh dengan Gratis dan menekan biaya kalau melaukan OSCE. Untuk pergi ujian OSCE di Jawa meski menghabiskan uang 10 Juta lebih, di Makassar 6-7 Juta. Tantangan lain adalah perubahan arah kebijakan kesehatan dari konvensional ke arah Teknologi Informasi, Pelanggaran Hukum, dan BPJS.

RAKERCAB IAI BAUBAU

Dari advokasi yang dilakukan itu. Bersama-sama kami berkomitmen memasukkan program-program yang akan dilaksanakan oleh PC IAI Baubau. Dengan begitu Sosialisasi GeMaCerMat akan terus mengaung selama organisasi PC IAI Baubau eksis.

Program-progamran itu adalah

  1. Apoteker Mengajar, pembekalan Tim Apoteker Mengajar, Dagusibu, GeMaCerMat yang nantinya akan melakukan sosialisasi di seluruh sekolah-sekolah kota baubau dan Kabupaten lain
  2. Ramadhan Bersama Apoteker, berbagi takjil, dirangkaikan dengan pembagian brosur/leaflet dan sosialisasi GeMaCerMat dan Dagusibu.
  3. Baksos Apoteker, senam sehat, bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain (IDI, PAFI, IBI, PPNI) didalamnya juga aga kegiatan sosialisasi GeMaCerMat dan Dagusibu.

***

Setelah persiapan Seminggu, Maka 13 Mei 2018, Pagi Hari setelah shalat subuh kami pergi mempersiapkan segala sesuatunya di kotamara. (Spanduk, Stand Banner, Meja, Kursi, Pendaftaran dan Alat dan Bahar Pemeriksaan Darah). Pada kesempatan ini kami kami bagi menjadi 4 kelompok untuk jalan kaki membagikan brosur dan leaflet tentang Tanya Lima O, Penggunaan Obat di Bulan Puasa dan Penggunaan Antibiotik.

Sosialisasi Tata Cara Minum Obat yang Baik dan Benar di Bulan Puasa Ramadan

Penggunaan Obat dibulan puasa adalah menggunakan obat sesuai dengan indikasi, dosis waktu pemberian dan cara pemberian serta menghindari efek samping obat tanpa takut kehilangan pahala berpuasa dan tetap menjalankan ibadah Ramdhan.

Penggunaan Obat 1 x 1 sehari tidak jadi masalah karena obat diminum memilih apakah diminum pada saat sahur atau berbuka puasa. Penggunaan obat 2 x 1 sehari obat diminum pada saat sahur dan berbuka puasa. Untuk Obat-bat 3 x 1 atau 4 x 1, sebaginya dikonsultasikan dengan meminta pertimbangan dokter dan apoteker agar mengganti obat dengan sediaan lepas lambat atau obat dalam golongan yang sama. Namum apabila tetap meminum obat denga aturan 3 x 1 maka, obat dibagi dalam tiga waktu diinterval dari saat berbuka sampai sahur. Begitupula dengan penggunaan obat sebelum, bersama dan sesudah makan. Diminum disaat sahur dan berbuka puasa.

Ada banyak sediaan obat yang tidak membatalkan puasa, menurut kesepakatan ulama yakni, salep, krim suppo, sublingual (diselipkan dibawah lidah), tetes mata, tetes telinga, obat kumur asal tidak ditelan, obat injeksi, intra vena, intra muskular. Kecuali intravena berupa nutrisi makanan. Sedang pasien dengan penyakit kronik terntentu misalnya Hipertensi, Diabetes, Asma dan Epilepsi dimana penggunaan obat yang terus menerus. Perlu pemantauan yang lebih ketat. Dalam dalam kondisi tentetu akut lebih baik membatalkan puasanya ketimbang meperparah kondisi sakitnya.

Berjalanlah kami mengitasi kotamara, menemui masyarakat yang sedang, senam, duduk, berjalan. Dan menjelaskan brosur dan leflet yang kami bagikan. Banyak hal-hal unik yang kami dapat dari berinteraksi dengan masyarakat. Karena kami dianggapnya sales bertautan dengan pengalaman mereka, biasanya yang membagi brosur adalah sales. Maka kami sempat ditanya “di mana Kantor nya Pak”. “Maaf tidak punya waktu”. Di kesempatan lain, mendengarkan dengan antusian dan bertanya banyak hal tentang penggunaan obat dibulan puasa. Ada rasa bahagia tersendiri ketika mendapat masyarakat senyum paham dengan informasi yang kami berikan.

Terakhir, Marhabaan Ya Ramadhaan, mari menyambut Bulan Penuh Berkah ini dengan Saling Memaafkan Bila Ada Kesahalan. Dan Semoga Kita masuk Dalam Hambaya yang selalu Bersyukur dan Bahagia ketika Pintu Taubat terbuka lebar didepan kita.

Advertisements
Apoteker AoC (Agent of Change) Merangkak Membangun Negeri

Farmasi.Asia – Pelantikan sudah dilaksanakan, ikrar suci sudah diucapkan, selanjutnya berbakti untuk negeri mejadi kewajiban. Tiga puluh sejawat Apoteker AoC Baubau telah dikukuhkan disaksikan oleh Perwakilan Kementerian Kesehatan, Walikota Baubau, Kepala dinas Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan segenap tamu undangan dari semua stakeholder. Baik itu organisasi di dalam pemerintahan dan di luar pemerintahan. Yang turut hadir pada hari itu adalah perwakilan dari Organisasi Profesi (IDI, IBI, PPNI, Persakmi, PAFI), Ibu-ibu Dharma wanita, PKK, Puskesmas, Kader posyandu, UKS, Pramuka, Jurnalis dan blogger.

Tersirat pesan agung bahwa di bawah tangan-tangan rapuh kalian, kami amanatkan tugas untuk mencerdaskan masyarakat tentang penggunaan obat rasional.

Dalam dua hari pelatihan, Apoteker AoC digembleng sedemikian rupa. Guna siap melaksanakan tugas dalam berbagai medan dan situasi lapangan. Secara logika, waktunya kurang cukup. Tapi niat yang kuat dalam hati, serta pengalaman yang telah dilakukan dipelayanan, sudah dapat meningkatkan kepercayaan teman-teman Apoteker AoC.

Dalam dua hari pelatihan itu, para penyaji materi, menerangkan teori dan praktek. Bagaimana pengobatan rasional dan resistensi antibiotika. Dan melatih berbagai metode intervensi, dan yang paling populer sekarang ini adalah metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif) yang mana setiap masayarakat berperat aktif dalam memilih, memperoleh, memilah, mengetahui, dan mendiskusikan segala informasi tentang obat-obatan dalam menyembuhkan sakitnya.

Apoteker AoC

Metode CBIA ini cukup efektif, meningkatkan minat peserta, terlilhat pada sesi simulasi, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil temuan dan diskusinya. Beberapa perwakilan dalam penutupnya dengan lantang mengatakan.

Kami ibu-ibu PKK akan melaksanakan CBIA ini tiap bulan, kami akan keliling dari kelurahan ke keluarahan

Selain penyataan langsung. Perwalilan peserta di organisasi yang lain, juga telah merencanakan akan melaksanan Sosialisasi Gema Cermat ini di tempat mereka, melalui lembar isian rencana tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi ini. Hal ini berarti Apoteker AoC sudah harus siap kapan saja diminta untuk menjadi narasumber mengisi sosialisasi Gema Cermat.

***

Baubau, 14 Desember 2017, di Puskesmas Wolio, kota Buabau, Sulawesi Tenggara, untuk pertama kalinya Apoteker AoC diundang sebagai narasumber untuk mensosialisasikan GemaCermat, kegiatan ini terselenggara atas inisiatif PKM, dengan alur, mereka meminta langsung di Dinkes, dan Dinkes menugaskan dan menunjuk sejumlah AoC untuk menghadiri dan mengisi kegiatan itu. Ada dua cara mengundang Apoteker AoC untuk menjadi narasumber, melalui dinas kesehatan atau permintaan langsung kepada masing-masing AoC sendiri. Dihadiri 50 orang peserta, dari perwakilan Polri, TNI, Kader Posyandu, Pembina UKS, masyarakat disekitar puskesmas.

Alhamdulillah, sebagai pembuka, saya ditunjuk mewakili Apoteker AoC sebagai narasumber. Menghadapi masyarakat dengan berbagai latarbelakang, sudah wajib memerpsiapkan diri jauh-jauh hari. Tibalah saatnya berhadapan langsung dengan mereka.

Apoteker Agent of Change Azanuddin

Gema Cermat (Gerakan Cerdas Menggunakan Obat) merupakan satu bagian dari Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) adalah program pemerintah yang terinspirasi dari Nawa cita Presiden Jokowi, mewujudkan Indonesia Sehat.

Gema Cermat adalah upaya bersama, dalam arti meihatkan seluruh komponen dalam masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan kesadaran, pemahaman dengan tujuan adanya keterampilan dan mengubah perilaku dalam menggunakan obat yang baik dan benar.

Problematika masyarakat hari ini dalam lingkup obat-obatan sangat banyak, dari data Riskesdas tahun 2013. Sebanyak 35,2% masyarakat menyimpan obat-obatan di rumah. Degan rincian 35,7% obat keras, 82% obat bebas, 27,8% antibiotik, 15,7% obat tradisional, 6,4% obat tak teridentifikasi.

Data ini ditopang pula oleh masih banyaknya masyarakat yang misinformasi dari obat resep, obat generik dianggap obat yang murah dan kurang berkhasiat ketimbang obat paten, ketidakpatuhan dalam meminum obat apalagi obat dalam jumlah yang banyak dan durasi yang lama dan pembelian antibiotik yang bebas, dan berpotensi terjadi resistensi obat.

Salah satu metode yang dikembangkan oleh teman-teman kemenkes selain CBIA adalah Tanya Lima O. Adalah suatu teknik mendapatkan informasi yang mudah diingat tentang obat-obatan yang kita gunakan. Karena teknik ini melibatkan jari-jari kita dimulai dari Ibu Jari, Jari Telunjuk, Jari Tengah, Jari Manis dan Jari Kelingking.

O yang pertama, menggunakan ibu jari. Menjawab pertanyaan Obat ini apa zat aktif dan kandungannya.

Pada bagian ini masyarakat diajarkan bagaimana mengetahui kandungan obat atau bahan aktif yang ada dalam suatu kemasan. Setiap obat yang sama kandungan bahan aktif nya adalah sama juga dalam khasiat, kemanan dan mutunya. Disini BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) paling berperan aktif. Dia harus dengan yakin bahwa obat-obat yang beredar di pasaran telah memenuhi standar kemanan, khasiat dan mutu. Biasanya dalam memastikan itu, BPOM meminta sertifikat CPOB, Sertifikat ISO, beserta bukti-bukti uji Praklinik dan Klinik dari suatu pruduk obat yang didaftarkan. Untuk masyarakat dengan adanya nomor registrai yang dikeluarkan oleh BPOM mendandakan bahwa produk itu sah untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu, untuk memahami nya, masyarakat harus bisa membedakan apa itu obat paten, obat bermerek dan obat generik. Obat paten adalah obat yang masih dalam masa paten biasaya 20 tahun lebih. Diproduksi oleh pabrik penemunya. Dan harga untuk satu obat sangat mahal dengan hitungan mengembalikan modal untuk satu pruduk diteliti sampai dipasarkan manghaiskan waktu 12 Tahun dengan biaya 8 T.

Obat merek dagang (branded) adalah obat sudah selesai masa paten, atau dikenal dengan me too pruduk. Obat itu relatif lebih mahal dibanding generik, karena disamping biaya formulasi, seperti penambahan salut agar tidak mengiritasi lambung, bahan tambahan lepas lambat agar pemakaian lebih praktis, obat yang tiga kali diminum menjadi satu kali diminum sehari. Dan tidak kalah penting adalah biaya marketing dan dimasukan dalam komponen harga obat.

Obat generik adalah obat dengan nama sesuai dengan nama kandungan dan zat aktifnya. Obat ini murah dan terjangkau namun sudah dijamin keamanan, khasiat dan mutunya.

O yang kedua, menggunakan jari telunjuk, menjawab pertanyaan Obat ini apa Kahasiat dan Indikasi nya.

Setiap obat atau bahan aktif mempunyai khasiat dan indikasi masing-masing. Kadang dalam satu macam obat terdapat indikasi yang lebih dari satu. Misalkan paracetamol, berkhasiat sebagai antipiretik (demam), analgetik (anti nyeri), dan anti inflamasi (antiradang). Biasanya kita acapkali menemukan pemahaman yang salah dimasayarakat, karena nyeri pada bagiang tubuhnya diberikanlah paracetamol. Ia menolak karena sepengetahuannya paracetamol hanya untuk demam. Padahal tidak demikian.

Terkait bahan aktif ini pula perlu kehati-hatian, karena beberapa obat sangat berpengaruh pada pasien dengan kondisi khusus, seperti bayi, orang tua, ibuhamil dan menyusui. Misalnya obat-obatan yang berbahaya diminum oleh ibu hamil, utamanya pada 12 minggu atau trisemester pertama. Pada masa ini terjadi pembentukan organ-organ vital tubuh, otan, jantung, paru-paru, ginjal. Hati, kepala, kaki dan tangan. Beberapa obat antipsikosis, benzodiasepim, antikonvulsan, anti hipertensi (beta bloker, ACE I), NSAID dsb. Berefek teratogenik atau perubahan struktur pada bayi.

O yang ketiga, menggunakan jari tengah, menjawab pertanyaan obat ini berapa dosisnya.

Masyarakat awam dalam hal memilih dan mendapatkan obat utamanya obat-obat OTC (Over the counter) masih belum bisa membedakan obat dengan kandungan sama, khasiat nya sama sata. Misalnya obat-obat lambung (P***g, M****ta). Untuk menyembuhkan nyeri (M***L, A***C). Yang mengakibatkan kemungkinan meminum bersamaan obat-obat tersebut. Bila tidak diperhatikan dengan baik, masalah ini akan terjadi Over Dosis obat, berakibat fatal, keracunan bahkan mengancam jiwa.

Apakan menjadi masalah pula bila, meminum obat-obat dalam indek terapi sempit atau dengan kenaikan dosis yang sedikit saja akan mengakibatkan efek buruk pada tubuh. Demikian pula dengan bayi, anak, orang tua, ibu hamil dan menyusui, pasien dengan masalah hati dan ginjal. Dosis obat sangat berpengaruh pada kesembuhannya.

O yang ke empat, menggunakan jari manis, menjawab pertanyaan obat ini bagaimana aturan pemakaiannya.

Selama ini masyarakat menganggap bahwa meminum obat 3 x 1 hanyalah diminum pagi, sore dan malam. Anggapan ini tidak tepat secara ilmu farmakologi (obat-obatan). Yang benar adalah sehati, 24 jam dibagi dalam 3 waktu. Berarti tiap 8 jam sekali. Begitupun dengan aturan 2 x 1 dan 1 x 1. Tiap delapan jam itu berarti bahwa, sebelum obatnya pertama diminum habis maka obat yang diminum selanjutnya akan mengisi atau menyambung efek yang menyembuhkan. Dikhawatirkan bila obat diminum dalam waktu yang berdekatan, obat akan beresiko menjadi racun. Dan bila diminum dengan jarak waktu yang jauh obat, kadar obat dalam tubuh aka habis. Dimana untuk menyembuhkan suatu penyakit kadar obat dalam tubuh harus berkesinanmbungan atau tidak boleh putuh.

Selain itu, ada obat-obat yang digunakan berdasarkan bentuk sediaanya (tablet, kapsul, sirup, suppo, ovula, tablet sublingual, dsb). Ada pula yang diminum sebelum makan (obat-obat lambung). Pada saat makan (obat antidiabet), pada malam hari (kolesterol, laksatif), pagi (diuretik) dsb.

O yang kelima, menggunakan jari kelingking, menjawab pertanyaan obat ini apa efek sampingnya.

Setiap obat meski mempunyai efek samping baik itu merugikan ataupun tidak merugikan. Ada yang dikehendari dan ada yang tidak dikehendaki. Beberapa dengan mengetahui efek sampingnya maka akan meningkatkan kepatuhan pasien dalam meminum obat. Misalnya obat diuretik, pasien yang meminum obat diuretik, maka akan sering buang air kecil. Maka dari itu jarang heran bila setelah meminum obat ini, akan sering buang air. Obat Rimfampisin, akan menyebabkan air seni berwarna merah. Obat laksatif akan sering BAB. Captopril dapat menyebabkan batuk.

Beberapa efek samping juga merugikan seperti, antibiotik, obat-obat lambung, hipersensitivitas (alergi). Misalnya diare, mual, muntah, ruam kulit, keringan, gatal. Bila meminum obat terjadi realsi seperti ini dan mengganggu aktifitas kentimbang menyembuhkan penyakit maka segera hentikan penggunaan obat tersebut.

Dengan penjelasan seperti yang diuraikan di atas, menjadi benarlah bahwa tanyakanlah kepada apoteker dan dokter anda tentang obat-obat yang kita gunakan. harapannya timbul kesadaran, keterampilan dan perilaku masyarakat cerdas gunakan obat.

Hadir Kembali! Pharmaceutical Seminar Universitas Indonesia (Phase UI) 84

Farmasi.Asia – Pharmaceutical Seminar Universitas Indonesia (Phase UI) atau yang lebih dikenal “Phase UI” merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh Program Studi Apoteker Universitas Indonesia. Saat ini, Phase 84 UI kembali hadir degan mengangkat tema “Integrasi Kompetensi Farmasi untuk Membangun Negeri”, yang bertujuan untuk memfasilitasi para peserta sehingga lebih memahami beberapa hal untuk pendalaman pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang Apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Pada tahun ini, rangkaian acara Phase 84 UI terdiri atas seminar danworkshop. Rangkaian acara akan dilaksanakan pada tanggal 9-10 September 2017 di Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan dan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.

Seminar nasional hadir dengan tema Peningkatan Peran Apoteker Dalam Menjamin Peredaran Sediaan Farmasi yang Aman, Bermutu, Bermanfaat, dan Terjangkau di Indonesia. Seminar ini mengundang pembicara diantaranya adalah:

  1. Kepala BPOM, Dr.Ir.Penny K.Lukito, MCP,
  2. Ketua IAI, Drs.Nurul Falah Eddy Pariang, Apt.
  3. Selain pembicara, terdapat pula diskusi panel yang dipimpin oleh seorang yang ahli dibidangnya (lihat pada poster).

Workshop Phase 84 UI akan dibagi menjadi 3 (tiga) kelas, yaitu:

  1. Workshop herbal dengan tema “Pemanfaatan dan aplikasi ionic liquid dalam pengembangan bahan baku obat herbal“,
  2. PHASE84 - Workshop Herbal
    PHASE84 – Workshop Herbal
  3. workshop Penggunaan Obat Rasional (POR) dengan tema “Meningkatkan profesionalisme Apoteker dalam mewujudkan penggunaan obat yang rasional melalui program pemerintah” dan
  4. PHASE84 - workshop Penggunaan Obat Rasional (POR)
    Workshop Penggunaan Obat Rasional (POR)
  5. workshop Pelayanan Informasi Obat dengan tema “Meningkatkan profesionalisme Apoteker dalam melakukan teknik komunikasi pada pelayanan informasi obat
  6. PHASE84 - workshop Pelayanan Informasi Obat (PIO)
    Workshop Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat pada:

Twitter : @phaseui
Instagram : phase_ui
Facebook : phaseUI
Line : @phaseUI
Website : www.phase.farmasi.ui.ac.id
Contact Person : 089675531731

Pendaftaran dapat melalui Website atau SMS ke 085372908900

Bahaya Membeli Obat Jika Tanpa Disertai Penjelasan oleh Apoteker

Farmasi.Asia – Apoteker mempunyai peranan yang sangat penting di pelayanan farmasi seperti apotek. Tidak melulu harus selalu meracik atau mengerjakan resep obat, apoteker juga memiliki tugas dalam pemantauan dan pencegahan beredarnya obat palsu hingga transaksi obat tanpa melalui resep dokter (terutama golongan obat keras, prekursor, psikotropika dan narkotika).

Seperti dikutip dari situs Viva.co.id, Ketua Pengurus Pusat IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) bapak Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, Apt., rasio perbandingan jumlah apoteker untuk kebutuhan rumah sakit berkisar antara 8-18 (tergantung tipe rumah sakit). Indonesia saat ini tercatat memiliki apoteker dengan jumlah mendekati 70.000 orang yang sudah teregistrasi. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk mengisi kebutuhan akan tenaga apoteker di seluruh Indonesia.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) Tahun 2016, pada dasarnya segala bentuk layanan kefarmasian bisa dilakukan JIKA apoteker yang bertanggung jawab ada di tempat.

“Kalau apotekernya tidak ada, berarti tempat tersebut tidak bisa melakukan penjualan/transaksi obat atau tutup,” Kata bapak Nurul Falah kepada VIVA.co.id.

Bapak Nurul Falah juga menekankan, KEMENKES (Kementerian Kesehatan) mengkehendaki diberlakukannya law enforcement untuk apoteker yang terbukti melanggar aturan atau kedisiplinan. Atau, jika ternyata ada kasus yang fatal, bukan tidak mungkin Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) yang bersangkutan akan dicabut.

Sehingga, teruntuk pasien atau keluarga pasien yang mau membeli obat di tempat-tempat layanan kefarmasian seperti apotek, sebisa mungkin melakukan cek terlebih dahulu; “apakah apoteker-nya ada/standby?“. Seperti yang tercantum dalam PERMENKES Nomor 9 Tahun 2017, apoteker harus memasang papan nama di mana ia berpraktek. Dan ketika bertugas, Apoteker memakai jas berwarna putih gading atau putih kekuningan dengan tulisan “Apoteker” pada dadanya.

“Tanyakan, apakah ada apotekernya, jika tidak ada, sebaiknya pindah ke apotek lain yang apotekernya ada. Kalau terdapat pelanggaran, apoteker juga bisa dilaporkan ke Pengurus Cabang IAI di mana pelanggaran itu terjadi.”, kata Bapak Nurul Falah.

Selain itu, pendistribusian atau jual-beli obat keras secara bebas di apotek-apotek nakal juga merupakan tanggungjawab dari seorang apoteker. Meskipun, pada umumnya apotek tempat apoteker bekerja adalah milik orang lain (bos/investor), akan tetapi SIA (Surat Izin Apotek) yang diterbitkan menggunakan nama sang apoteker.

Jadi, sudah menjadi kewajiban bahwa seorang apoteker seharusnya bisa mencegah terjadinya transaksi jual-beli obat dengan bebas. Karena, obat adalah “barang” khusus dalam dunia kesehatan, bukan komoditi yang bisa diperjual-belikan secara umum tanpa pengawasan apoteker.

Pelaporan Prekursor Farmasi dan Obat Mengandung Prekursor Farmasi

Sehubungan dengan telah terbitnya Peraturan Kepala Badan POM RI No.40 tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Prekursor Farmasi dan/atau Obat Mengandung Prekursor Farmasi, Badan POM menginformasikan masa transisi akan berlangsung dari Januari hingga Juni 2014 (khusus Pedagang Besar Farmasi/PBF); dan untuk itu, kepada rekan-rekan Apoteker yang menjadi Apoteker Penanggungjawab PBF untuk melaporkan kegiatan:

Sosialisasi Peraturan Kepala Badan POM RI No. 40 Tahun 2013 di Banjarmasin

Upaya memahami dan mengimplementasikan Per-Ka Badan POM No. 40 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Prekursor Farmasi/Obat yang mengandung Prekursor Farmasi, merupakan langkah antisipatif yang sangat positif dilakukan oleh GP Farmasi Kalsel bagi anggotanya dalam rangka mengantisipasi secara dini potensi diversi obat yang mengandung prekursor farmasi di tingkat distributor (PBF).

Pembicara sosperkabpom no 40 2013 tentang prekursor

Hal ini sejalan dengan upaya Balai Besar POM di Banjarmasin yang terus memotivasi stake holder terkait untuk terlibat dalam pengawasan secara integral pencegahan penyimpangan distribusi dan penyalahgunaan obat yang cukup tinggi di Kalsel.

Dalam acara sosialisasi yang diselenggarakan oleh GP Farmasi Kalsel pada hari Kamis, 9 Januari 2014, dihadiri seluruh anggota GF Farmasi Kalsel terdiri dari Pimpinan dan Apoteker Penanggungjawab PBF. Kepala Balai Besar POM di Banjarmasin Dra. Dewi Prawitasari, Apt. M.Kes hadir sebagai Narasumber di dampingi Kabid Pemdik Drs. Safriansyah, Apt., M.Kes., menyampaikan Per-Ka Badan POM No.40/2013 dan SK Ka Badan POM terkait Dekstrometorfan dan Karisoprodol. Hadir pula mewakili Ka Dinkes Kalsel, Kabid Bina Farmasi dan Makanan, Drs. A. Yani, M.Si., Apt. menyampaikan Permenkes tentang PBF.

peserta apoteker penanggungjawab PBF sosperkabpom no 40 2013 tentang prekursor

Memanfaatkan momen pertemuan ini Ka BBPOM di Banjarmasin berkenan memperkenalkan program GN-WOMI dan menyematkan PIN GN-WOMI bersama Ketua GP Farmasi Kalsel, Hadi Awarsa Kusuma, kepada perwakilan Pimpinan PBF dan Apoteker Penanggungjawab, sebagai wujud komitmen anggota GF Farmasi Kalsel untuk berperan aktif dalam pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal. (sumber: www.pom.go.id/new/index.php/view/berita/5155/Sosialisasi-Peraturan-Kepala–Badan-POM-RI-No–40-Tahun-2013.html )

kabbpom bersama kacab pbf kalsel

Bagi rekan sejawat yang masih belum memiliki Peraturan Kepala Badan POM RI No.40 Tahun 2013 tentang Tata Kelola Prekursor bisa mendownloadnya di sini 😉

Perubahan Keputusan atas Pembatalan Izin Edar Obat yang Mengandung Dekstrometorfan Sediaan Tunggal

Seperti yang pernah kami tulis di Penarikan Obat Mengandung Dekstrometorfan (Dextromethorphan) Tunggal, posting kali ini adalah hasil revisi atas Surat Keputusan Nomor HK.04.1.35.06.13.3534 Tahun 2013 tanggal 27 Juni 2013. Ada 2 file yang kami dapatkan. File pertama adalah surat yang menyatakan bahwa SK Nomor HK.04.1.35.06.13.3534 Tahun 2013 tanggal 27 Juni 2013 telah direvisi menjadi Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No. HK.04.1.35.07.13.3855 tahun 2013 tanggar 24 Juli 2013.

Perhatikan:

Bikin Bukti Lapor Dan Lolos Butuh Apoteker…

Cuma share pengalaman bikin bukti lapor sama lolos butuh buat apoteker baru…..

Semoga bermanfaat…. 🙂

Setiap apoteker baru punya kewajiban untuk melaporkan dirinya ke Dinas Kesehatan provinsi setempat. Kalau udah lapor, barulah kita terdaftar sebagai Apoteker. Nahhh…… kalau mau kerja di provinsi yang beda dari tempat lulusnya (misal: saya kan lulusan ITB <Jawa Barat>, pengennya kerja di Kalimantan Selatan) harus bikin surat lolos butuh dulu sebagai pengantar dari Dinas Kesehatan Provinsi tempat kita lulus untuk menyerahkan tenaga Apoteker ke Dinas Kesehatan Provinsi tempat kita kerja nanti.

Gimanakah cara bikin surat bukti lapor dan surat lolos butuh apoteker?
Cukup datang ke Dinkes Provinsi setempat, dengan membawa persyaratan2 berikut ini (ini persyaratan di Dinkes Prov. Jabar, untuk provinsi lain sepertinya kurang lebih aja, tapi cek aja lagi ke Dinkes setempat ya….. 🙂 )

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better