Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.3 Anti Tukak

1.3 Antitukak

Tukak peptik dapat terjadi di lambung, duodenum, esofagus bagian bawah, dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung).

Penyembuhan dapat dibantu dengan berbagai cara seperti penghentian kebiasaan merokok dan minum antasida dan minum obat penghambat sekresi asam, namun sering terjadi kambuh jika pengobatan dihentikan. Hampir semua tukak duodenum dan sebagian besar tukak lambung yang tidak disebabkan oleh AINS, penyebabnya adalah bakteri Helicobacter pylori. Pengobatan infeksi Helicobacter pylori dan tukak yang disebabkan oleh AINS akan dibahas di bawah ini.

Infeksi Helicobacter pylori
Penyembuhan tukak lambung dan tukak duodenum dapat dilakukan dengan cepat melalui eradikasi Helicobacter pylori. Direkomendasikan untuk memastikan terlebih dahulu adanya H. pylori sebelum memulai terapi eradikasi. Penggunaan kombinasi penghambat sekresi asam dengan antibakteri sangat efektif dalam eradikasi H.pylori. Infeksi kambuhan jarang terjadi. Kolitis karena penggunaan antibiotik merupakan risiko yang tidak umum terjadi.

Regimen terapi satu minggu yang terdiri dari 3 jenis obat yaitu penghambat pompa proton, amoksisilin dan klaritromisin atau metronidazol, dapat mengeradikasi H.pylori pada 90 % kasus. Setelah 1 minggu, obat dihentikan, kecuali terjadi komplikasi tukak seperti hemoragi atau perforasi.

Resistensi terhadap klaritromisin atau metronidazol lebih sering terjadi dibandingkan terhadap amoksisilin dan hal ini dapat terjadi pada saat terapi. Karena itu, regimen yang terdiri dari amoksisilin dan klaritromisin direkomendasikan sebagai terapi awal eradikasi dan regimen yang terdiri dari amoksisilin dan metronidazol untuk kegagalan terapi eradikasi. Ranitidin bismut sitrat dapat digunakan sebagai pengganti penghambat pompa proton. Regimen lain, termasuk kombinasi klaritromisin dan metronidazol sangat baik digunakan pada keadaan tertentu. Kegagalan terapi biasanya disebabkan oleh resistensi bakteri atau kepatuhan pasien yang rendah.

Regimen terapi dua minggu yang terdiri dari 3 jenis obat memberikan kemungkinan yang besar dalam kecepatan eradikasi dibandingkan regimen terapi satu minggu, tetapi efek samping sering terjadi dan rendahnya kepatuhan pasien akan lebih sering ditemukan.

Regimen 2 minggu terapi yang terdiri dari 2 jenis obat yaitu penghambat pompa proton dan antibakteri tunggal tidak direkomendasikan.

Regimen 2 minggu menggunakan trikalium disitratobismutat dengan penghambat pompa proton dan dua antibakteri mungkin memiliki peran pada penanganan kasus yang resisten setelah dilakukan konfirmasi adanya H. pylori.

Tinidazol atau tetrasiklin dapat pula digunakan untuk eradikasi H. pylori; obat-obat ini sebaiknya dikombinasi dengan obat penghambat sekresi asam dan antibakteri lain.

Tidak ada bukti yang memadai untuk mendukung terapi eradikasi pada pasien anak-anak, yang terinfeksi H. pylori namun tetap menggunakan AINS.

Tukak yang disebabkan oleh AINS
Perdarahan saluran cerna dan tukak dapat terjadi pada penggunaan AINS (bagian 12.1.1). Jika memungkinkan, penggunaan AINS sebaiknya dihentikan pada keadaan ini. Pada individu yang berisiko mengalami tukak, penghambat pompa proton atau antagonis reseptor-H2 seperti ranitidin diberikan dua kali dosis lazim, atau misoprostol dapat dipertimbangkan untuk mencegah tukak lambung dan tukak duodenum yang disebabkan oleh AINS; reaksi kolik dan diare dapat membatasi dosis misoprostol.

Pada pasien yang sedang dalam terapi AINS, eradikasi H. pylori tidak direkomendasikan karena tidak akan mengurangi risiko perdarahan atau tukak akibat AINS. Akan tetapi, pasien yang baru memulai terapi AINS jangka panjang dengan H. pylori positif atau memiliki riwayat tukak lambung atau tukak duodenum, eradikasi H. pylori dapat mengurangi risiko tukak.

Jika pemberian AINS dapat dihentikan pada pasien yang mengalami tukak, penghambat pompa proton biasanya menghasilkan penyembuhan yang lebih cepat, tetapi tukaknya dapat diterapi dengan antagonis reseptor-H2 atau misoprostol.

Jika terapi AINS perlu diteruskan, hal-hal berikut dapat dilakukan:

  1. Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan selama penyembuhan tetap dilanjutkan dengan pemberian penghambat pom proton (dosis tidak perlu dikurangi karena dapat terjadi tukak yang bertambah parah tanpa disertai gejala)
  2. Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan dilanjutkan dengan misoprostol selama penyembuhan sebagai terapi pemeliharaan (kolik dan diare dapat terjadi, yang memerlukan pengurangan dosis)
  3. Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan kemudian ganti AINS dengan AINS yang selektif yaitu COX-2.
Tabel 1.1 Rekomendasi Regimen untuk eradikasi Helicobacter pylori
Penekan AsamAntibakteri
AmoksisilinKlaritromisinMetronidazol
Esomeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Lansoprazol

30 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
1 g, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Omeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 3 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Pantoprazol

40 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
Rabeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari400 mg, 2 kali sehari
Ranitidin bismuth sitrat

400 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
1 g, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
500 mg, 2 kali sehari500 mg, 2 kali sehari
Tabel 1.2 Rekomendasi Regimen untuk eradikasi Helicobacter pylori pada anak
Terapi EradikasiUsiaDosis Oral

(untuk digunakan dalam kombinasi omeprazol)

Amoksisilin1 – 6 tahun250 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
125 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
6 – 12 tahun500 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
250 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
12 – 18 tahun1 g, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
500 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
Klaritromisin1 – 2 tahun62,5 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
2 – 6 tahun125 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
6 – 9 tahun187,5 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
9 – 12 tahun250 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
12 – 18 tahun500 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
Metronidazol1 – 6 tahun100 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
100 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)
6 – 12 tahun200 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
200 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)
12 – 18 tahun400 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
400 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)

Antitukak dibagi dalam 4 sub-sub kelas terapi sebagai berikut:

1.3.1 Antagonis reseptor-H2

Semua antagonis reseptor-H2 mengatasi tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat penghambatan reseptor histamin-H2. Obat ini dapat juga digunakan untuk mengatasi gejala refluks gastroesofagus (GERD). Meskipun antagonis reseptor-H2 dosis tinggi dapat digunakan untuk mengatasi sindroma Zollinger-Ellison, namun penggunaan penghambat pompa proton lebih dipilih.

Terapi pemeliharaan dengan dosis rendah pada pasien yang mengalami infeksi H. pylori, termasuk untuk anak telah digantikan oleh regimen eradikasi (lihat 1.3). Terapi pemeliharaan kadang digunakan pada pasien yang sering mengalami kekambuhan yang berat dan untuk pasien lansia yang menderita komplikasi tukak.

Pada pasien dengan usia yang lebih muda pengobatan dispepsia dengan antagonis reseptor-H2 dapat diterima, namun perhatian khusus perlu diberikan kepada orang dewasa yang lebih tua karena adanya kemungkinan kanker lambung.

Terapi antagonis reseptor-H2 dapat membantu proses penyembuhan tukak yang disebabkan oleh AINS (terutama duodenum) (bagian 1.3).

Penggunaan antagonis reseptor-H2 pada hematemesis dan melena tidak menunjukkan kemanfaatan, namun penggunaan profilaksis dapat mengurangi frekuensi pendarahan dari erosi gastroduodenum pada kasus koma hepatik, dan mungkin pada kasus-kasus lain yang memerlukan perawatan intensif. Penggunaan antagonis reseptor-H2 juga mengurangi risiko aspirasi asam pada pasien obstetrik pada saat melahirkan (sindroma Mendelson).

Peringatan: Antagonis reseptor-H2 sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal (Lampiran 3), kehamilan (Lampiran 4), dan pasien menyusui (Lampiran 5). Antagonis reseptor-H2 dapat menutupi gejala kanker lambung; perhatian khusus perlu diberikan pada pasien yang mengalami perubahan gejala dan pada pasien setengah baya atau yang lebih tua.

Efek samping: Efek samping antagonis reseptor-H2 adalah diare dan gangguan saluran cerna lainnya, pengaruh terhadap pemeriksaan fungsi hati (jarang, kerusakan hati), sakit kepala, pusing, ruam dan rasa letih. Efek samping yang jarang adalah pankreatitis akut, bradikardi, AV block, rasa bingung, depresi dan halusinasi, terutama pada orang tua atau orang yang sakit parah, reaksi hipersensitifitas (termasuk demam, artralgia, mialgia, anafilaksis), gangguan darah (termasuk agranulositosis, leukopenia, pansitopenia, trombositopenia) dan reaksi kulit (termasuk eritema ultiform, dan nekrolisis epidermal yang toksik). Dilaporkan juga kasus ginekomastia dan impotensi, namun jarang terjadi.

Interaksi: Simetidin menghambat metabolisme obat secara oksidatif di hati dengan cara mengikat sitokrom P450 di mikrosom. Penggunaannya sebaiknya dihindari pada pasien yang sedang mendapat terapi warfarin, fenitoin dan teofilin (atau aminofilin), sedangkan interaksi lain (lihat lampiran 1), mungkin kurang bermakna secara klinis. Famotidin, nizatidin, dan ranitidin tidak memiliki sifat menghambat metabolisme obat seperti halnya simetidin.

Monografi:

FAMOTIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison (lihat keterangan di atas)

Peringatan:
lihat keterangan di atas

Interaksi:
Lampiran 1 (antagonis reseptor-H2) dan keterangan di atas.

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga ansietas, anoreksia, mulut kering, cholestatic jaundice yang sangat jarang.

Dosis:
pengobatan tukak lambung dan duodenum 40 mg sebelum tidur malam; selama 4-8 minggu; pemeliharaan (tukak duodenum) 20 mg sebelum tidur malam; Anak. Tidak dianjurkan.
Refluks esofagitis, 20-40 mg 2 kali sehari selama 6-12 minggu; pemeliharaan, 20 mg 2 kali sehari. Sindroma Zollinger-Ellison (lihat keterangan di atas), 20 mg setiap 6 jam (dosis lebih tinggi pada pasien yang sebelumnya telah menggunakan antagonis reseptor-H2 lain); dosis sampai 800 mg sehari dalam dosis terbagi.

FAMOTIDIN-ANTASIDA
Keterangan:
Lihat 1.1

NIZATIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis

Peringatan:
lihat keterangan di atas; juga hindari injeksi intravena secara cepat (risiko aritmia dan hipotensi postural), gangguan fungsi hati.

Interaksi:
lihat lampiran 1 (antagonis reseptor-H2) dan keterangan di atas

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga berkeringat; hiperurisemia (jarang)

Dosis:
Oral: tukak lambung dan tukak duodenum atau tukak karena AINS, pengobatan 300 mg sebelum tidur malam atau 150 mg 2 kali sehari selama 4-8 minggu: pemeliharaan 150 mg sebelum tidur malam; Anak: tidak dianjurkan.

Refluks esofagitis, 150-300 mg 2 kali sehari selama sampai 12 minggu.

Infus intravena: untuk penggunaan jangka pendek pada tukak lambung pasien rawat inap sebagai alternatif terhadap penggunaan oral, dengan cara infus intravena berselang (intermittent) selama 15 menit, 100 mg 3 kali sehari, atau dengan cara infus intravena berkesinambungan, 10 mg/jam, maksimal 480 mg sehari; Anak: tidak dianjurkan.

RANITIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dispepsia episodik kronis, tukak akibat AINS, tukak duodenum karena H.pylori, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain dimana pengurangan asam lambung akan bermanfaat.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; hindarkan pada porfiria

Interaksi:
Lampiran 1 (Antagonis reseptor – H2) dan keterangan di atas

Kontraindikasi:
penderita yang diketahui hipersensitif terhadap ranitidin

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; takikardi (jarang), agitasi, gangguan penglihatan, alopesia, nefritis interstisial (jarang sekali)

Dosis:
oral, untuk tukak peptik ringan dan tukak duodenum 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg pada malam hari selama 4-8 minggu, sampai 6 minggu pada dispepsia episodik kronis, dan sampai 8 minggu pada tukak akibat AINS (pada tukak duodenum 300 mg dapat diberikan dua kali sehari selama 4 minggu untuk mencapai laju penyembuhan yang lebih tinggi); ANAK: (tukak lambung) 2-4 mg/kg bb 2 kali sehari, maksimal 300 mg sehari. Tukak duodenum karena H. pylori, lihat regimen dosis eradikasi. Untuk Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg sebelum tidur malam selama sampai 8 minggu, atau bila perlu sampai 12 minggu (sedang sampai berat, 600 mg sehari dalam 2-4 dosis terbagi selama 12 minggu); pengobatan jangka panjang GERD, 150 mg 2 kali sehari. Sindrom Zollinger-Ellison (lihat juga keterangan di atas), 150 mg 3 kali sehari; dosis sampai 6 g sehari dalam dosis terbagi.

Pengurangan asam lambung (profilaksis aspirasi asam lambung) pada obstetrik, oral, 150 mg pada awal melahirkan, kemudian setiap 6 jam; prosedur bedah, dengan cara injeksi intramuskuler atau injeksi intravena lambat, 50 mg 45-60 menit sebelum induksi anestesi (injeksi intravena diencerkan sampai 20 mL dan diberikan selama tidak kurang dari 2 menit), atau oral: 150 mg 2 jam sebelum induksi anestesi, dan juga bila mungkin pada petang sebelumnya.

Anak: Neonatus 2 mg/kg bb 3 kali sehari namun absorpsi tidak terjamin; maksimal 3 mg/kg bb 3 kali sehari; Usia 1-6 bulan: 1 mg/kg bb 3 kali sehari (maks. 3 mg/kg bb 3 kali sehari); Usia 6 bulan-12 tahun: 2-4 mg/kg bb (maks. 150 mg) 2 kali sehari; Usia 12-18 tahun: 150 mg 2 kali sehari.

Injeksi intramuskuler: 50 mg setiap 6-8 jam.

Injeksi intravena lambat: 50 mg diencerkan sampai 20 mL dan diberikan selama tidak kurang dari 2 menit; dapat diulang setiap 6-8 jam.

Anak. Neonatus: 0,5-1 mg/kg bb setiap 6-8 jam; Usia 1 bulan-18 tahun: 1 mg/kg bb (maks. 50 mg) setiap 6-8 jam (dapat diberikan sebagai infus intermiten pada kecepatan 25 mg/jam).

Infus intravena: 25 mg/jam selama 2 jam; dapat diulang setiap 6-8 jam.

Anak. Neonatus: 30-60 mg microgram/kg bb/jam (maks. 3 mg/kg bb sehari); Usia 1 bulan-18 tahun: 125-250 mikrogram/kg bb/jam.

Pemberian pada anak untuk injeksi intravena lambat dengan cara diencerkan hingga kadar 2,5 mg/mL menggunakan glukosa 5%, natrium klorida 0,9% atau campuran natrium laktat. Diberikan selama sekurang-kurangnya 3 menit. Untuk infus intravena, diperlukan pengenceran lebih lanjut.

RANITIDIN BISMUTH SITRAT
Indikasi:
mengatasi tukak duodenum dan tukak lambung ringan; eradikasi H. pylori dan mencegah tukak duodenum kambuhan, dalam kombinasi dengan klaritromisin atau amoksisilin.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; lihat juga pada Trikalium disitratobismuthat; gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3)

Interaksi:
lihat lampiran 1 (Antagonis H2 Histamin) dan keterangan di atas

Kontraindikasi:
Kehamilan (lihat Lampiran 4); menyusui (lihat Lampiran 5); porfiria

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; dapat membuat warna lidah lebih gelap atau menghitamkan feses; takikardi (jarang), agitasi, gangguan penglihatan, alopesia, eritema multiforme, vaskulitis (sangat jarang)

Dosis:
Tukak duodenum atau tukak lambung ringan, 400 mg dua kali sehari, lebih disarankan diminum bersama dengan makanan, selama 8 minggu pada tukak lambung ringan atau 4-8 minggu pada tukak duodenum; Anak: tidak direkomendasikan.

Eradikasi H. pylori, lihat regimen dosis eradikasi (1.3) atau 400 mg dua kali sehari dengan amoksisilin 500 mg, empat kali sehari (dua gram sehari) atau klaritromisin 250 mg, empat kali sehari atau 500 mg tiga kali sehari (total dosis sehari, 1-1,5 g) selama dua minggu pertama dan diikuti dengan ranitidin bismuth sitrat 400 mg, dua kali sehari; pengobatan dengan ranitidin bismuth sitrat sebaiknya dilanjutkan selama total 4 minggu; pengobatan jangka panjang (pemeliharaan) tidak direkomendasikan. (maksimum total lama pengobatan adalah 16 minggu dalam tiap 1 tahun); Anak: tidak direkomendasikan.

Konseling: Mungkin membuat warna lidah lebih gelap dan menghitamkan feses. Pemberian dua kali sehari dilakukan pada pagi dan sore hari.

SIMETIDIN
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum jinak, tukak stomal, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellison, kondisi lain di mana pengurangan asam lambung akan bermanfaat.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; injeksi intravena lebih baik dihindari (infus lebih baik) terutama pada dosis tinggi dan pada gangguan kardiovaskuler (risiko aritmia);

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (antagonis-H2) dan keterangan di atas.

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga alopesia; takikardia (sangat jarang), nefritis interstitial

Dosis:
oral, 400 mg 2 kali sehari (setelah makan pagi dan sebelum tidur malam) atau 800 mg sebelum tidur malam (tukak lambung dan tukak duodenum) paling sedikit selama 4 minggu (6 minggu pada tukak lambung, 8 minggu pada tukak akibat AINS); bila perlu dosis dapat ditingkatkan sampai 4 x 400 mg sehari atau sampai maksimal 2,4 g sehari dalam dosis terbagi (misal: stress ulcer); anak lebih 1 tahun, 25-30 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi.

Pemeliharaan, 400 mg sebelum tidur malam atau 400 mg setelah makan pagi dan sebelum tidur malam. Refluks esofagitis, 400 mg 4 kali sehari selama 4-8 minggu.

Sindrom Zollinger Ellison (tapi lihat keterangan di atas), 400 mg 4 kali sehari atau bisa lebih.

Profilaksis tukak karena stres, 200-400 mg setiap 4-6 jam.

Pengurangan asam lambung (profilaksis aspirasi asam; jangan menggunakan sirup), obstetrik 400 mg pada awal melahirkan, kemudian bila perlu sampai 400 mg setiap 4 jam (maksimal 2,4 g sehari); prosedur bedah 400 mg 90-120 menit sebelum induksi anestesi umum.

Short bowel syndrome: 400 mg dua kali sehari (bersama sarapan dan menjelang tidur), disesuaikan menurut respons.Untuk mengurangi degradasi suplemen enzim pankreatik, 0,8-1,6 g sehari dalam 4 dosis terbagi menurut respons 1-1,5 jam sebelum makan.

Anak. Neonatus: 5 mg/kg bb 4 kali sehari; Usia 1 bulan-12 tahun: 5-10 mg/kg bb (maks. 400 mg) 4 kali sehari; Usia 12-18 tahun 400 mg 2-4 kali sehari.

Injeksi intramuskuler: 200 mg setiap 4-6 jam.

Injeksi intravena lambat (tetapi lihat peringatan di atas): 200 mg diberikan selama tidak kurang dari 5 menit; dapat diulang setiap 4-6 jam; bila diperlukan dosis besar atau terdapat gangguan kardiovaskuler, dosis bersangkutan harus diencerkan dan diberikan selama 10 menit (infus lebih baik); maksimal 2,4 g sehari.

Infus Intravena: 400 mg dalam 100 mL natrium klorida 0,9 % infus intravena diberikan selama 0,5-1 jam (dapat diulang setiap 4-6 jam) atau dengan cara infus berkesinambungan pada laju rata-rata 50-100 mg/jam selama 24 jam, maksimal 2,4 g sehari; Bayi di bawah satu tahun melalui injeksi intravena lambat atau infus intravena, 20 mg/kg bb bobot badan sehari dalam dosis terbagi pernah dilakukan: Anak lebih dari satu tahun, 25-30 mg/kg bb bobot badan sehari dalam dosis terbagi.

Anak. (injeksi lambat atau infus intravena): Neonatus 5 mg/kg bb setiap 6 jam; Usia 1 bulan-12 tahun: 5-10 mg/kg bb (maks. 400 mg) setiap 6 jam; Usia 12-18 tahun: 200-400 mg setiap 6 jam.

Pemberian untuk injeksi intravena pada anak tidak melebihi kadar 10 mg/mL dengan natrium klorida 0,9%, diberikan selama 10 menit; untuk infus intravena intermiten, diencerkan dengan glukosa 5% atau natrium klorida 0,9%.

1.3.2 Kelator dan senyawa kompleks

Trikalium disitratobismutat adalah suatu kelat bismut yang efektif dalam mengatasi tukak lambung dan duodenum. Peran trikalium disitratobismutat pada regimen eradikasi Helicobacter pylori pada pasien yang tidak respons terhadap regimen lini pertama dapat dilihat pada bagian 1.3

Ranitidin bismut sitrat digunakan dalam pengobatan tukak lambung dan duodenum, dan dalam kombinasi dengan dua antibakteri untuk eradikasi H. pylori (bagian 1.3).

Sukralfat melindungi mukosa dari asam-pepsin pada tukak lambung dan duodenum. Sukralfat merupakan kompleks aluminium hidroksida dan sukrosa sulfat yang efeknya sebagai antasida minimal. Obat ini sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien yang dirawat secara intensif (Penting: dilaporkan adanya pembentukan bezoar). Sukralfat tidak dianjurkan digunakan pada anak di bawah usia 15 tahun.

Monografi:

SUKRALFAT
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum

Peringatan:
gangguan ginjal (hindari bila berat); kehamilan dan menyusui; pemberian sukralfat dan nutrisi enteral harus berjarak 1 jam

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (sukralfat)
PEMBENTUKAN BEZOAR. Adanya laporan mengenai pembentukan bezoar pada penggunaan sukralfat. Oleh sebab itu penggunaan sukralfat harus berhati-hati pada pasien dengan penyakit yang serius, terutama jika secara bersamaan juga mendapat nutrisi enteral atau pasien mengalami gangguan pengosongan lambung.

Efek Samping:
konstipasi, diare, mual, gangguan pencernaan, gangguan lambung, mulut kering, ruam, reaksi hipersensitifitas, nyeri punggung, pusing, sakit kepala, vertigo, dan mengantuk, pembentukan bezoar (lihat keterangan di atas).

Dosis:
tukak lambung dan duodenum serta gastritis kronis, 2 g 2 kali sehari (pagi dan sebelum tidur malam) atau 1 g 4 kali sehari 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur malam, diberikan selama 4-6 minggu atau pada kasus yang resisten, bisa hingga 12 minggu; maksimal 8 g sehari; Profilaksis tukak akibat stres (suspensi), 1 g 6 kali sehari (maksimal 8 g sehari). Anak di bawah 15 tahun, tidak dianjurkan.

Saran: tablet dapat dilarutkan dalam 10-15 mL air, antasida tidak boleh diberikan setengah jam sebelum atau sesudah pemberian sukralfat.

TRIKALIUM DISITRATOBISMUTAT (KHELAT BISMUT)
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum ringan; lihat juga infeksi Helicobacter pylori (bagian 1.3)

Peringatan:
lihat keterangan di atas;

Interaksi:
Lampiran 1 (trikalium disitratobismutat)

Kontraindikasi:
gangguan ginjal parah, kehamilan

Efek Samping:
dapat membuat lidah berwarna gelap dan feses kehitaman; mual dan muntah.

Dosis:
2 tablet 2 kali sehari atau 1 tablet 4 kali sehari; diminum selama 28 hari selanjutnya 28 hari lagi jika diperlukan. Anak tidak direkomendasikan.

Konseling. Ditelan dengan setengah gelas air; dua kali sehari diminum 30 menit sebelum makan pagi dan 30 menit sebelum makan malam; empat kali sehari harus diminum sebagai berikut; dosis pertama diminum 30 menit sebelum sarapan, dosis berikutnya pada makan siang dan makan malam, dan dosis terakhir diberikan 2 jam setelah makan malam: Jangan diberikan bersamaan dengan susu; jangan minum antasid setengah jam sebelum dan sesudah minum obat ini; dapat membuat lidah berwarna gelap dan feses kehitaman.

1.3.3 Analog prostaglandin

Misoprostol, suatu analog prostaglandin sintetik, memiliki sifat antisekresi dan proteksi, mempercepat penyembuhan tukak lambung dan duodenum. Senyawa ini dapat mencegah terjadinya tukak karena AINS. Penggunaannya paling cocok bagi pasien yang lemah atau sangat lansia di mana penggunaan AINS tidak mungkin dihentikan.

Monografi:

MISOPROSTOL
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, tukak karena AINS terutama pada pasien yang memiliki risiko tinggi mendapat komplikasi tukak lambung, seperti lansia dan penyakit yang melemahkan (debilitating). Diberikan selama terapi AINS. Namun, misoprostol tidak dapat mencegah tukak duodenum pada pasien yang minum AINS.

Peringatan:
keadaan dimana hipotensi dapat mencetuskan komplikasi yang berat (misal penyakit serebrovaskuler, penyakit kardiovaskuler)

Kontraindikasi:
kehamilan atau merencanakan hamil (meningkatkan tonus uterin) (lampiran 4),

Penting: wanita usia subur. Lihat juga keterangan di bawah, dan wanita yang sedang menyusui (Lampiran 5). Wanita usia subur. Misoprostol tidak boleh diberikan pada wanita usia subur, kecuali bila pasien memerlukan terapi AINS dan berisiko tinggi terhadap terjadinya komplikasi tukak karena AINS. Pada pasien seperti ini, misoprostol hanya digunakan bila pasien menggunakan kontrasepsi yang efektif dan telah diberitahu risiko penggunaan misoprostol pada kehamilan.

Efek Samping:
diare (kadang-kadang dapat parah dan obat perlu dihentikan, dikurangi dengan memberikan dosis tunggal tidak melebihi 200 mikrogram dan dengan menghindari antasida yang mengandung magnesium); juga dilaporkan nyeri abdomen, dispepsia, kembung, mual dan muntah, perdarahan vagina yang abnormal (termasuk perdarahaan intermenstrual, menorhagia, dan perdarahaan pascamenopouse), ruam, pusing.

Dosis:
tukak lambung dan duodenum serta tukak karena AINS, 800 mcg sehari (dalam 2-4 dosis terbagi) dengan sarapan pagi dan sebelum tidur malam; pengobatan harus dilanjutkan selama tidak kurang dari 4 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan sampai 8 minggu. Profilaksis tukak lambung karena AINS dan tukak duodenum, 200 mcg 2-4 kali sehari bersama AINS. Anak tidak dianjurkan.

REBAMIPID
Indikasi:
Tukak lambung dalam kombinasi dengan faktor inhibitor ofensif (penghambat pompa proton, antikolinergik dan antagonis H2), gastritis.

Peringatan:
Lansia, kehamilan, menyusui, anak.

Kontraindikasi:
Hipersensitivitas.

Efek Samping:
Sangat jarang: leukopenia, granulositopenia, gangguan fungsi hati, peningkatan AST (SGOT), ALT (SGPT), ?-GTP dan alkalin fosfatase, ruam, pruritus, eksem, konstipasi, rasa tidak nyaman pada abdomen, diare, mual, muntah, mulas, nyeri ulu hati, nyeri abdomen, sendawa, gangguan pengecapan, gangguan menstruasi, peningkatan BUN, udem, merasa benda asing pada faring. Frekuensi tidak diketahui: syok, reaksi anafilaksis, trombositopenia, ikterus, urtikaria, kebas, pusing, mengantuk, mulut kering, pembengkakan dan nyeri payudara, ginekomastia, induksi laktasi, palpitasi, demam, muka memerah, lidah kebas, batuk, kesulitan bernapas, alopesia.

Dosis:
Oral: Tukak lambung. Kombinasi dengan faktor inhibitor ofensif. Dewasa, 100 mg 3 kali sehari. Gastritis. Dewasa, 100 mg 3 kali sehari.

1.3.4 Penghambat pompa proton

Penghambat pompa proton, yaitu omeprazol, esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, dan rabeprazol menghambat sekresi asam lambung dengan cara menghambat sistem enzim adenosin trifosfatase hidrogen-kalium (pompa proton) dari sel parietal lambung. Penghambat pompa proton efektif untuk pengobatan jangka pendek tukak lambung dan duodenum. Selain itu, juga digunakan secara kombinasi dengan antibiotika untuk eradikasi H. pylori.

Terapi awal jangka pendek dengan penghambat pompa proton merupakan terapi pilihan pada penyakit refluks gastroesofagal dengan gejala yang berat; pasien dengan esofagitis erosif, ulseratif atau striktur yang ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopi juga biasanya memerlukan terapi pemeliharaan dengan penghambat pompa proton.

Penghambat pompa proton juga digunakan untuk mencegah dan mengobati tukak yang menyertai penggunaan AINS. Pada pasien yang perlu melanjutkan pengobatan dengan AINS setelah tukaknya sembuh, dosis penghambat pompa proton tidak boleh dikurangi karena dapat memperburuk tukak yang tanpa disertai gejala.

Omeprazol efektif untuk pengobatan sindrom Zollinger-Ellison (termasuk untuk kasus yang resisten terhadap pengobatan lainnya). Lansoprazol, pantoprazol dan rabeprazol juga diindikasikan untuk kondisi ini.

Peringatan: Penghambat pompa proton sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan menyusui. Penghambat pompa proton dapat menutupi gejala kanker lambung ; perhatian khusus perlu diberikan pada orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala yang membahayakan (turunnya berat badan yang signifikan, muntah yang berulang, disfagia, hematemesis atau melena), pada kasus-kasus seperti ini penyakit kanker lambungnya sebaiknya dipastikan terlebih dahulu sebelum dimulai pengobatan dengan penghambat pompa proton.

Efek samping: Efek samping penghambat pompa proton meliputi gangguan saluran cerna (seperti mual, muntah, nyeri lambung, kembung, diare dan konstipasi), sakit kepala dan pusing. Efek samping yang kurang sering terjadi diantaranya adalah mulut kering, insomnia, mengantuk, malaise, penglihatan kabur, ruam kulit dan pruritus. Efek samping lain yang dilaporkan jarang atau sangat jarang terjadi adalah gangguan pengecapan, disfungsi hati, udem perifer, reaksi hipersensitivitas (termasuk urtikaria, angioedema, bronko-spasmus, anafilaksis), fotosensitivitas, demam, berkeringat, depresi, nefritis interstitial, gangguan darah (seperti leukopenia, leukositosis, pansitopenia, trombositopenia), artralgia, mialgia dan reaksi pada kulit (termasuk sindroma Stevens- Johnson, nekrolisis epidermal toksik, bullous eruption). Penghambat pompa proton, dengan mengurangi keasaman lambung, dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna.

Penggunaan pada anak. Hanya omeprazol yang dapat digunakan pada anak untuk pengobatan GERD dengan gejala yang parah. Lansoprazol tidak dianjurkan digunakan pada anak.

Panduan untuk penggunaan penghambat pompa proton pada anak untuk indikasi berikut:

  1. Refluks gastroesofagal digunakan hanya pada gejala yang berat (kurangi dosis bila gejala berkurang) dan pada komplikasi penyakit dengan striktur, tukak, atau pendarahan (dosis penuh harus dipertahankan).
  2. Tukak akibat AINS pada pasien yang memerlukan terapi AINS lebih lanjut–untuk mengobati tukak, dapat digunakan penghambat pompa proton dosis rendah.

Monografi:

ESOMEPRAZOL
Indikasi:
refluks gastroesofagal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD): terapi refluks esofagal erosif, pengobatan jangka panjang pada pasien yang telah sembuh dari esofagitis untuk mencegah kekambuhan, terapi simtomatis GERD; Regimen terapi kombinasi dengan antibakteri yang sesuai untuk eradikasi Helicobacter pylori dan mengobati H. pylori terkait dengan tukak duodenum; Pasien yang memerlukan terapi AINS yang berkesinambungan: mengobati tukak lambung terkait dengan terapi AINS, pencegahan tukak lambung dan duodenum terkait dengan terapi AINS pada pasien dengan risiko, pasien dinyatakan dengan risiko disebabkan oleh usianya (>60 tahun) dan riwayat tukak peptik dan terapi konkomitan dengan anti koagulan dan/atau kortikosteroid.

Peringatan:
lihat catatan di atas, gagal ginjal (lampiran 3). Data keamanan pada kehamilan masih sangat terbatas, pemberian pada wanita hamil hanya apabila pertimbangan manfaat melebihi risiko. Hindarkan pemberian kepada wanita menyusui.

Interaksi:
Lampiran 1 (Penghambat pompa proton).

Kontraindikasi:
riwayat hipersensitifitas pada esomeprazol.

Efek Samping:
lihat catatan di atas, juga dilaporkan dermatitis.

Dosis:
Oral, GERD: terapi refluks esofagal erosif: 40 mg sekali sehari selama 4 minggu. Terapi tambahan selama 4 minggu dianjurkan untuk pasien yang esofagitisnya belum sembuh atau memiliki gejala yang menetap. Esomeprazol 40 mg hanya diberikan untuk pasien dengan mukosa C dan D rusak (berdasarkan sistem klasifikasi LA), derajatnya harus dipastikan melalui endoskopi atau diagnosa radiologi. Pasien GERD dengan derajat esofagitis erosif derajat A dan B direkomendasikan untuk diobati esomeprazol 20 mg; Pengobatan jangka panjang pada pasien yang telah sembuh dari esofagitis untuk mencegah kekambuhan: 20 mg sekali sehari; Terapi simtomatis GERD: 20 mg sekali sehari pada pasien tanpa esofagitis. Jika kontrol gejala tidak tercapai setelah 4 minggu, pasien harus diperiksa lebih jauh. Sekali gejala hilang, kontrol gejala selanjutnya dapat dicapai dengan menggunakan regimen 20 mg sekali bila diperlukan; Regimen terapi kombinasi dengan antibakteri yang sesuai untuk eradikasi H. pylori dan mengobati H.pylori terkait dengan tukak duodenum: 20 mg dikombinasikan dengan klaritromisin 500 mg, keduanya diberikan 2 kali sehari selama 7 hari. Pasien yang memerlukan terapi AINS yang berkesinambungan: mengobati tukak lambung terkait dengan terapi AINS: dosis lazim 20 mg sekali sehari dengan durasi terapi 4-8 minggu; Pencegahan tukak lambung dan duodenum terkait dengan terapi AINS pada pasien dengan risiko: 20 mg sekali sehari.
Anak-anak: esomeprazol tidak dianjurkan diberikan pada anak.
Gangguan fungsi ginjal: tidak perlu penyesuaian dosis pada gangguan fungsi ginjal. Karena terbatasnya penggunaan esomeprazol pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat, pemberian pada pasien ini harus hati-hati.
Gangguan fungsi hati: tidak perlu penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi hati ringan hingga sedang. Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati berat, tidak boleh melampaui dosis maksimum 20 mg.

Keterangan:
Konseling:
Oral: Telan seluruh tablet atau dilarutkan dalam air.
Injeksi: Injeksi intravena disuntikkan sekurang-kurangnya selama 3 menit atau melalui infus intravena, penyakit refluks gastroesofagal, 40 mg satu kali sehari; gejala penyakit refluks tanpa esofagitis, 20 mg sehari, dilanjutkan dengan pemberian oral jika mungkin.

LANSOPRAZOL
Indikasi:
tukak duodenum dan tukak lambung ringan, refluks esofagitis.

Peringatan:
lihat keterangan di atas.

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga dilaporkan alopesia, paraestesia, bruising, purpura, petechiae, lelah, vertigo, halusinasi, bingung; jarang terjadi: ginekomastia, impotensi.

Dosis:
tukak lambung, 30 mg sehari pada pagi hari selama 8 minggu. Tukak duodenum, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu; pemeliharaan 15 mg sehari. Tukak lambung atau tukak duodenum karena AINS, 15-30 mg sekali sehari selama 4 minggu, dilanjutkan lagi selama 4 minggu jika tidak sepenuhnya sembuh; profilaksis, 15-30 mg sekali sehari.

Tukak duodenum atau gastritis karena H. pylori menggunakan regimen eradikasi (lihat 1.1).

Sindroma Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 60 mg sekali sehari, selanjutnya disesuaikan dengan respons; dosis harian sebesar 120 mg atau lebih dibagi menjadi 2 dosis.

Refluks gastroesofagal, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 15-30 mg sehari.

Dispepsia karena asam lambung, 15-30 mg sehari pada pagi hari selama 2-4 minggu. Anak. Belum ada data yang cukup mengenai penggunaan lansoprazol pada anak.

NATRIUM RABEPRAZOL
Indikasi:
lihat pada dosis tukak duodenum yang aktif, tukak lambung jinak yang aktif, simtomatis GERD dengan erosif dan tukak.

Peringatan:
lihat keterangan di atas

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; dilaporkan juga, batuk, faringitis, rinitis, asthenia, sindrom seperti influenza; nyeri dada (kurang umum terjadi), sinusitis, bingung, infeksi saluran urin; stomatitis (jarang), ensefalopati pada penyakit hati parah, anoreksia, peningkatan berat badan

Dosis:
tukak peptik, 20 mg sehari pada pagi hari selama 6 minggu, diikuti 6 minggu berikutnya jika tidak sembuh sepenuhnya. Tukak duodenum, 20 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, dilanjutkan 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya.

Refluks gastroesofagal, 20 mg sekali sehari selama 4-8 minggu; pemeliharaan 10-20 mg sehari; pengobatan simptomatik tanpa esofagitis, 10 mg sehari sampai 4 minggu, kemudian 10 mg sehari bila diperlukan.

Tukak peptik dan tukak duodenum akibat Helicobacter pylori, lihat pada regimen eradikasi. Sindrom Zollinger-Ellison, dosis awal 60 mg sekali sehari disesuaikan menurut respon (maksimal 120 mg sehari); dosis di atas 100 mg sehari diberikan dalam 2 dosis terbagi. Anak. Tidak dianjurkan.

OMEPRAZOL
Indikasi:
tukak lambung dan tukak duodenum, tukak lambung dan duodenum yang terkait dengan AINS, lesi lambung dan duodenum, regimen eradikasi H. pylori pada tukak peptik, refluks esofagitis, Sindrom Zollinger Ellison.

Peringatan:
lihat keterangan di atas

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; juga dilaporkan paraesthesia, vertigo, alopesia, ginekomastia, impotensi, stomatitis, ensefalopati pada penyakit hati yang parah, hiponatremia, bingung (sementara), agitasi dan halusinasi pada sakit yang berat, gangguan penglihatan dilaporkan pada pemberian injeksi dosis tinggi.

Dosis:
tukak lambung dan tukak duodenum (termasuk yang komplikasi terapi AINS), 20 mg satu kali sehari selama 4 minggu pada tukak duodenum atau 8 minggu pada tukak lambung; pada kasus yang berat atau kambuh tingkatkan menjadi 40 mg sehari; pemeliharaan untuk tukak duodenum yang kambuh, 20 mg sehari; pencegahan kambuh tukak duodenum, 10 mg sehari dan tingkatkan sampai 20 mg sehari bila gejala muncul kembali.

Tukak lambung atau tukak duodenum karena AINS dan erosi gastroduodenum, 20 mg sehari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; profilaksis pada pasien dengan riwayat tukak lambung atau tukak duodenum, lesi gastroduodenum, atau gejala dispepsia karena AINS yang memerlukan pengobatan AINS yang berkesinambungan, 20 mg sehari.

Tukak duodenum karena H. pylori menggunakan regimen eradikasi (lihat 1.3).

Sindrom Zollinger Ellison, dosis awal 60 mg sekali sehari; kisaran lazim 20-120 mg sehari (di atas 80 mg dalam 2 dosis terbagi).

Pengurangan asam lambung selama anestesi umum (profilaksis aspirasi asam), 40 mg pada sore hari, satu hari sebelum operasi kemudian 40 mg 2-6 jam sebelum operasi.

Penyakit refluks gastroesofagal, 20 mg sehari selama 4 minggu diikuti 4-8 minggu berikutnya jika tidak sepenuhnya sembuh; 40 mg sekali sehari telah diberikan selama 8 minggu pada penyakit refluks gastroesofagal yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi lain; dosis pemeliharaan 20 mg sekalis sehari.

Penyakit refluks asam (Penatalaksanaan jangka panjang), 10 mg sehari meningkat sampai 20 mg sehari jika gejala muncul kembali. Dispepsia karena asam lambung, 10-20 mg sehari selama 2-4 minggu sesuai respons. Esofagitis refluks yang menyebabkan kondisi tukak yang parah (obati selama 4-12 minggu). ANAK di atas 1 tahun, berat badan 10-20 kg, 10 mg sekali sehari, jika perlu ditingkatkan menjadi 20 mg sekali sehari; Berat badan di atas 20 kg, 20 mg sekali sehari jika perlu ditingkatkan menjadi 40 mg sehari; Pemberian harus diawali oleh dokter anak di rumah sakit.

Anak. Neonatus 700 mcg/kg bb satu kali sehari, ditingkatkan jika perlu setelah 7-14 hari menjadi 1,4 mg/kg bb, beberapa neonatus memerlukan hingga 2,8 mg/kg bb satu kali sehari; Usia 1 bulan-2 tahun: 700 mcg/kg bb satu kali sehari, ditingkatkan jika perlu menjadi 3 mg/kg bb (maks. 20 mg) satu kali sehari; Berat badan 10-20 kg, 10 mg satu kali sehari ditingkatkan jika perlu menjadi 20 mg satu kali sehari (pada kasus refluks esofagitis ulseratif yang parah, maks. 12 minggu dengan dosis lebih tinggi); Berat badan > 20 kg, 20 mg satu kali sehari ditingkatkan jika perlu menjadi 40 mg satu kali sehari (pada kasus refluks esofagitis ulseratif, maks. 12 minggu dengan dosis lebih tinggi).

Eradikasi H. pylori pada anak (dalam kombinasi dengan antibakteri, lihat 1.3): Usia 1-12 tahun, 1-2 mg/kg bb (maks. 40 mg) satu kali sehari; Usia 12-18 tahun: 40 mg satu kali sehari.

Injeksi intravena diberikan selama 5 menit atau melalui infus intravena; profilaksis aspirasi asam, 40 mg harus telah diberikan seluruhnya, 1 jam sebelum operasi. Refluks gastroesofagal, tukak duodenum dan tukak lambung, 40 mg sekali sehari hingga pemberian oral dimungkinkan.

Anak. Injeksi intravena selama 5 menit atau dengan infus intravena: Usia 1 bulan-12 tahun: dosis awal 500 mikrogram/kg bb (maks. 20 mg) satu kali sehari, ditingkatkan menjadi 2 mg/kg bb (maks. 40 mg) jika diperlukan.; Usia 12-18 tahun, 40 mg satu kali sehari.

Saran: Telan seluruh kapsul, larutkan tablet dalam air atau campur isi kapsul dengan sari buah atau yoghurt.

Pemberian pada anak: Oral, sama dengan dewasa.

Enteral: Buka kapsul omeprazol, larutkan omeprazol dalam sejumlah air secukupnya atau dalam 10 mL Natrium Bikarbonat 8,4% (1mmol Na+/mL). Biarkan selama 10 menit sebelum diberikan.

Infus intermiten intravena, encerkan larutan rekonstitusi pada kadar 400 mikrogram/mL dengan glukosa 5% atau Natrium Klorida 0,9%, berikan selama 20-30 menit.

PANTOPRAZOL
Indikasi:
Oral 20 mg: pengobatan jangka panjang penyakit refluks sedang dan berat, simtomatis Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks yang non erosif.

Oral 40 mg: terapi peningkatan gejala dan periode gangguan lambung dan usus halus yang memerlukan penurunan sekresi asam lambung, tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis sedang dan berat, dalam kombinasi dengan 2 antibiotik yang sesuai untuk eradikasi pada pasien H. pylori dengan tukak peptik bertujuan untuk menurunkan kekambuhan tukak lambung dan duodenum yang disebabkan oleh mikroorganisme, sindrom Zollinger-Ellison dan kondisi hipersekresi patologis lainnya.

Injeksi: tukak duodenum dan lambung; kasus inflamasi esophagus sedang dan berat; serta untuk terap kondisi hipersekresi patologis yang terkait dengan sindrom Zollinger-Ellison atau kondisi neoplastik lainnya.

Peringatan:
lihat keterangan di atas; gangguan ginjal (lihat Lampiran 3)

Interaksi:
lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Kontraindikasi:
seharusnya tidak diberikan pada pasien yang hipersensitif pantoprazol

Efek Samping:
lihat keterangan di atas; dilaporkan juga peningkatan trigliserida.

Dosis:
oral, tukak peptik, 40 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya. Refluks gastroesofagal, 20-40 mg pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 20 mg sehari, ditingkatkan sampai 40 mg jika gejala muncul kembali. Tukak duodenum, 40 mg sehari pada pagi hari selama 2 minggu, diikuti 2 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh. Tukak duodenum yang disebabkan Helicobacter pylori, lihat regimen eradikasi. Pencegahan tukak peptik dan tukak duodenum yang disebabkan AINS dengan peningkatan resiko komplikasi gastroduodenum yang membutuhkan pemberian AINS berkesinambungan, 20 mg sehari. Untuk sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 80 mg sekali sehari dan disesuaikan dengan respons (LANSIA: maksimal 40 mg sehari); dosis harian di atas 80 mg diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Injeksi intravena tidak lebih dari 2 menit atau dengan infus intravena, tukak duodenum, tukak lambung dan refluks gastroesofagal sedang hingga berat, 40 mg sehari sampai pemberian oral dapat dilanjutkan lagi. Terapi jangka panjang sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 80 mg, selanjutnya dosis dititrasi (naik atau turun) sesuai kebutuhan dengan panduan pengukuran asam lambung. Untuk dosis di atas 80 mg, harus diberikan dalam dosis terbagi dan diberikan 2 kali sehari. Peningkatan dosis di atas 160 mg untuk sementara waktu diperbolehkan, namun tidak boleh digunakan lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengontrol asam lambung.

Dalam kasus yang memerlukan kontrol asam yang cepat, dosis awal 2 x 80 mg pantoprazol intravena cukup untuk mengendalikan penurunan asam lambung hingga target kisaran (< 10 mEq/h) dalam 1 jam pada kebanyakan pasien.

Anak: penggunaan pantoprazol oral maupun parenteral pada anak tidak dianjurkan.

Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.2 Antispasmodik dan Obat-Obat Lain yang Mempengaruhi Motilitas Saluran Cerna

1.2 Antispasmodik dan Obat-Obat Lain yang Mempengaruhi Motilitas Saluran Cerna

Antispasmodik merupakan golongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos. Obat yang termasuk dalam kelas ini adalah antimuskarinik dan relaksan yang dipercaya bekerja langsung di otot halus usus. Sifat relaksan otot polos dari senyawa antimuskarinik dan obat antispasmodik lain mungkin bermanfaat untuk Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan penyakit divertikular. meskipun antispasmodik dapat mengurangi spasme usus, tetapi penggunaannya untuk dispepsia non-tukak, IBS, dan penyakit divertikular tidak bermanfaat. Manfaat klinik antisekresi lambung obat antimuskarinik konvensional relatif kecil, Sementara efek sampingnya mirip senyawa atropin. Selain itu, keberadaannya telah digantikan oleh obat- obat antisekresi yang lebih kuat dan spesifik, yakni antagonis reseptor-H2 histamin dan antimuskarinik selektif pirenzepin.

Antagonis reseptor dopamin metoklopramid dan domperidon (lihat bagian 1.2.3) menstimulasi (transit) di saluran cerna.

1.2.1 Antimuskarinik

Antimuskarinik (sebelumnya disebut antikolinergik mengurangi motilitas usus. Kelompok obat ini digunakan untuk penatalaksanaan Irritable Bowel Syndrome dan penyakit divertikular. Namun, efektifitasnya belum diketahui dengan pasti dan responsnya bervariasi. Indikasi lain untuk obat antimuskarinik meliputi aritmia (bagian 2.2), asma dan penyakit saluran pernafasan (bagian 3.1.3), motion sickness (bagian 4.6), parkinsonisme (bagian 4.9.2), inkontinensi urin (bagian 7.4.2), midriasis dan siklopegia (bagian 11.3), premedikasi, dan sebagai antidot keracunan organofosfor. Antimuskarinik yang digunakan untuk spasme otot polos saluran cerna meliputi senyawa amin tersier atropin sulfat dan disikloverin hidroklorida (disiklomin hidroklorida) dan senyawa amonium kuaterner propantelin bromida dan hiosin butilbromida. Senyawa amonium kuaterner kurang larut dalam lipid dibandingkan atropin, sehingga lebih sulit menembus sawar darah-otak. Selain itu juga absorpsinya lebih kecil.

Disikloverin hidroklorida memiliki kerja antimuskarinik yang lebih lemah dari pada atropin dan senyawa ini juga bekerja langsung pada otot polos. Hiosin butilbromida absorpsinya sangat kecil. Sediaan injeksinya bermanfaat pada endoskopi dan radiologi. Pengobatan dengan menggunakan atropin dan alkaloid beladona sudah banyak ditinggalkan, karena efek samping atropin lebih besar dibanding manfaat klinisnya.

Peringatan: Antimuskarinik sebaiknya digunakan secara hati-hati pada keadaan Down’s syndrome, pada anak, dan lansia; obat ini juga sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada penyakit refluks gastroesofagus (GERD), diare, kolitis dengan tukak, infark miokard akut, hipertensi, kondisi penyakit dengan gejala takikardi (termasuk hipertiroid, insufisiensi kardiak, operasi jantung), pireksia, kehamilan dan menyusui.

Interaksi: Lampiran 1 (antimuskarinik)

Kontraindikasi: Antimuskarinik dikontraindikasikan pada angle-closure glaucoma, miastenia gravis (namun dapat digunakan untuk menurunkan efek samping muskarinik dari antikolinesterase), ileus paralitik, stenosis pilorik dan pembesaran prostat.

Efek samping: Efek samping antimuskarinik meliputi konstipasi, bradikardi selintas (diikuti takikardia, palpitasi dan aritmia), penurunan sekresi bronkus, sulit berkemih (urinary urgency and retention), dilatasi pupil dengan hilangnya akomodasi, fotofobia, mulut kering, kulit mengering dan memerah. Efek samping yang jarang terjadi adalah kebingungan (terutama pada lansia), mual, muntah dan giddiness (rasa pusing dan gamang), glaukoma sudut sempit sangat jarang terjadi.

Monografi:
ATROPIN SULFAT DAN ALKALOID BELADONA
Indikasi: pengobatan simptomatik gangguan saluran cerna yang ditandai dengan spasme otot polos, midriasis dan sikloplegia; premedikasi; lihat keterangan di atas; lihat juga 15.1.3.
Peringatan: lihat keterangan di atas
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antimuskarinik)
Kontraindikasi: lihat keterangan di atas; glaukoma sudut sempit.
Efek Samping: lihat keterangan di atas

HIOSIN BUTILBROMIDA
Indikasi: terapi tambahan gangguan saluran cerna dan saluran kemih yang ditandai dengan spasmus otot polos (lihat keterangan di atas), dismenore (lihat bagian 6.1)
Peringatan: lihat keterangan di atas
Kontraindikasi: lihat keterangan di atas, hindarkan pada porfiria
Efek Samping: lihat keterangan di atas
Dosis: Oral (namun absorpsinya buruk, lihat keterangan di atas), 20 mg 4 kali sehari; Anak 6-12 tahun: 10 mg 3 kali sehari. Injeksi intramuskuler atau intravena lambat (spasme akut dan spasme pada prosedur diagnostik) 20 mg, bila perlu diulang setelah 30 menit (dapat diulang lebih sering pada endoskopi) maksimal 100 mg sehari; ANAK: tidak disarankan.

PROPANTELIN BROMIDA
Indikasi: pengobatan simptomatik gangguan saluran cerna yang ditandai oleh spasme otot polos.
Peringatan: lihat keterangan di atas
Kontraindikasi: lihat keterangan di atas
Efek Samping: lihat keterangan di atas
Dosis: 15 mg 3 kali sehari sekurang-kurangnya 1 jam sebelum makan dan 30 mg sebelum tidur, maksimal 120 mg sehari; ANAK tidak dianjurkan

1.2.2 Antispasmodik Lain

Beberapa senyawa seperti alverin, mebeverin dan minyak pepermin dipercaya merupakan relaksan yang bekerja langsung pada otot polos usus dan mungkin dapat meringankan nyeri pada IBS dan penyakit divertikular. Senyawa-senyawa tersebut tidak mempunyai efek samping serius, namun sebagaimana antispasmodik lainnya penggunaan obat ini sebaiknya dihindari pada ileus paralitik.

Monografi:

ALVERIN SITRAT
Indikasi: pengobatan tambahan pada gangguan saluran cerna yang ditandai oleh spasmus otot polos; dysmenorrhoea
Peringatan: kehamilan (lihat lampiran 4); menyusui (lihat Lampiran 5)
Kontraindikasi: ileus paralitik; jika dikombinasi dengan sterculia, obstruksi usus, faecal impaction, atoni kolon
Efek Samping: mual, sakit kepala, pruritus, ruam kulit dan mengantuk pernah dilaporkan
Dosis: 60-120 mg 1-3 kali sehari: ANAK berusia di bawah 12 tahun tidak direkomendasikan

MEBEVERIN HIDROKLORIDA
Indikasi: terapi tambahan pada gangguan saluran cerna yang ditandai oleh spasme otot polos
Peringatan: kehamilan (Lampiran 4); hindarkan pada porfiria
Kontraindikasi: ileus paralitik
Efek Samping: jarang terjadi, reaksi alergi (termasuk ruam, urtikaria, angioedema)
Dosis: Dewasa dan anak di atas 10 tahun, 135 – 150 mg 3 kali sehari, sebaiknya 20 menit sebelum makan.

PEPPERMINT OIL
Indikasi: mengatasi rasa sakit dan kembung pada abdomen, terutama pada Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Peringatan: sangat sensitif dengan menthol
Efek Samping: rasa terbakar (heart burn), iritasi perianal; reaksi alergi (termasuk ruam kulit, sakit kepala, bradikardi, tremor otot, ataksia) Iritasi setempat (lokal) kapsul sebaiknya tidak dipatahkan atau dikunyah karena peppermint oil dapat mengiritasi mulut atau esofagus

1.2.3 Stimulan Motilitas

Metoklopramid dan domperidon merupakan antagonis dopamin yang menstimulasi pengosongan lambung dan transit usus halus, dan meningkatkan kekuatan kontraksi sfingter esofagus. Obat-obat ini digunakan pada beberapa pasien dispepsia non-tukak. Metoklopramid juga digunakan untuk mempercepat transit barium selama pemeriksaan intestin, dan sebagai pengobatan tambahan pada penyakit refluks esofagus. Metoklopramid dan domperidon juga bermanfaat pada mual dan muntah yang non-spesifik dan yang disebabkan oleh sitotoksik. Metoklopramid dan kadang-kadang domperidon dapat menginduksi reaksi distonia akut, utamanya pada wanita muda dan anak-anak. Untuk informasi lebih lengkap dan efek samping lainnya dapat dilihat pada bagian 4.4.

Monografi:

CISAPRID
Indikasi: Dewasa: untuk mengatasi gangguan motilitas gastrointestinal, khususnya gastroparesis. Anak-anak: untuk refluks gastroesofagal berat, apabila terapi lain tidak berhasil.
Peringatan: Jangan melebihi dosis yang dianjurkan, gunakan dengan hati-hati pada kondisi yang menyebabkan perpanjangan QT seperti gangguan elektrolit yang tidak terkoreksi (terutama hipokalemia dan hipomagnesemia), gunakan hati-hati pada penderita yang menggunakan obat yang dapat memperpanjang interval QT; hindarkan pemberian cisaprid bersamaan dengan sediaan oral atau parenteral klatiromisin, eritromisin, flukonazol, itrakonazol, ketokonazol, atau mikonazol.
Kontraindikasi: Bila tindakan stimulasi saluran cerna membahayakan; kehamilan dan menyusui.
Efek Samping: Kram abdomen dan diare; sakit kepala dan pusing; kejang; efek ekstrapiramidal dan peningkatan frekuensi berkemih; fungsi hati tidak normal (mungkin kholestatis); aritmia ventrikel (termasuk torsades de pointes).
Dosis: Dewasa: Dosis awal adalah 5 mg 3-4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sampai maksimum 40 mg/hari, dalam 3-4 kali pemberian. Anak: Dosis awal 0,2 mg/kg bb 3-4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan sampai maksimum 0,8 mg/kg bb perhari dan tidak melebihi 20 mg/hari. Dosis untuk anak sebaiknya tidak melebihi 5 mg setiap kali minum. Untuk gangguan hati atau ginjal: dosis dikurangi menjadi ½ kali dosis harian yang direkomendasikan. Obat diminum 15 menit sebelum makan dan ketika akan tidur malam. Setiap 2 minggu pemakaian dilakukan evaluasi oleh dokter.
Keterangan: *Sesuai dengan Press Release dari Direktur Jendral POM pada tanggal 31 Agustus 2000, dilakukan pembatasan indikasi, pembatasan akses dan distribusi. Peresepan hanya dapat dilakukan di rumah sakit tipe A, B, C dengan pemantauan terhadap efek samping obat (ESO)dilakukan selama 1-2 tahun. Untuk penggunaan cisaprid, seperti informasi di atas.

Informasi Obat Sistem Saluran Cerna – 1.1 Dispepsia dan Refluks Gastroesofagal

1.1 Dispepsia dan Refluks Gastroesofagal

Dispepsia

Dispepsia meliputi rasa nyeri, perut terasa penuh, kembung dan mual. Gejala ini dapat muncul bersamaan dengan tukak duodeni dan kanker lambung tapi umumnya tidak diketahui penyebabnya.

Helicobacter pylori mungkin ditemui pada pasien yang mengalami dispepsia. Terapi eradikasi H.pylori sebaiknya dipertimbangkan pada dispepsia dengan gejala serupa dengan tukak, meskipun sebagian besar pasien dengan dispepsia fungsional (non-tukak) tidak memerlukan terapi eradikasi H.pylori. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut bila dispepsia disertai dengan gejala-gejala yang membahayakan (seperti: perdarahan, disfagia, muntah berulang dan penurunan berat badan).

Penyakit refluks gastroesofagal

Penyakit refluks gastroesofagal (termasuk refluks gastroesofagal dan esofagitis erosif) meliputi gejala nyeri pada ulu hati, regurgitasi asam dan kadang-kadang kesulitan menelan (disfagia); inflamasi esofagal (esofagitis), ulserasi dan dapat terjadi striktur yang terkait dengan asma.

Penatalaksanaan gastroesofagal meliputi terapi obat, perubahan gaya hidup dan di beberapa kasus, perlu tindakan operasi. Terapi awal ditentukan oleh tingkat keparahan gejalanya dan kemudian terapi disesuaikan berdasarkan respons. Lamanya penyembuhan tergantung pada tingkat keparahan penyakit, pemilihan terapi dan lama terapi.

Untuk mengatasi gejala ringan dari gastroesofagal, penanganan awal adalah penggunaan antasida. Antagonis reseptor-H2 (bagian 1.3.1) menekan sekresi asam. Obat ini dapat meringankan gejala dan dapat mengurangi pemakaian antasida. Untuk kasus-kasus yang sulit disembuhkan, dapat dipertimbangkan penggunaan penghambat pompa proton (bagian 1.3.5), sebagaimana diuraikan berikut ini penggunaan penghambat pompa proton untuk kasus dengan gejala yang berat.

Untuk mengatasi gastroesofagal dengan gejala yang berat atau untuk pasien dengan patologi yang berat (esofagitis, ulserasi esofagal, refluks esofagofaringeal, esofagus Barrett), penanganan awal menggunakan penghambat pompa proton (bagian 1.3.5); pasien perlu diperiksa kembali bila gejala tetap muncul walaupun sudah diterapi dengan penghambat pompa proton selama 4-6 minggu. Jika gejala berkurang, terapi dapat dikurangi hingga pasien mengalami kondisi stabil dengan terapi tersebut. (Pengurangan terapi ini dapat berupa pengurangan dosis penghambat pompa proton atau pemberian secara berselang atau dengan penggantian obat dengan antagonis reseptor-H2). Namun, untuk kasus refluks gastroesofagal dengan striktur, ulserasi atau erosif (yang dipastikan melalui pemeriksaan endoskopi), terapi dengan penghambat pompa proton biasanya memerlukan dosis pemeliharaan sebesar dosis efektif minimal.

Obat prokinetik seperti metoklopramid (bagian 4.6) dapat memulihkan fungsi sfingter gastroesofagal dan mempercepat pengosongan lambung.

Pasien dengan penyakit gastroesofagal perlu diberi saran mengenai perubahan gaya hidup (menghindari konsumsi alkohol dan makanan yang merangsang lambung seperti lemak yang berlebihan); pengukuran lainnya meliputi pengurangan berat badan, penghentian kebiasaan merokok dan membiasakan posisi tidur dengan kepala di atas bantal.

Anak. Penyakit gastroesofagal umum terjadi pada bayi usia 12–18 bulan, namun sebagian besar gejalanya dapat hilang tanpa terapi. Pada bayi, gejala refluks ringan atau sedang tanpa komplikasi pada awalnya dapat diatasi dengan merubah frekuensi dan volume pemberian makanan; dapat digunakan pengental makanan atau formula makanan yang kental (dengan saran dari ahli gizi). Untuk anak yang lebih tua, terapi perubahan gaya hidup dapat dilakukan sebagaimana anjuran perubahan gaya hidup pada orang dewasa.

Anak yang tidak memberikan respons atau yang memiliki masalah seperti gangguan pernafasan atau adanya dugaan esofagitis perlu dirujuk ke rumah sakit; di mana mungkin diperlukan antagonis reseptor-H2 (bagian 1.3.1) untuk mengurangi sekresi asam. Jika esofagitis resisten terhadap antagonis reseptor-H2, dapat digunakan penghambat pompa proton (bagian 1.3.5). Penghambat pompa proton (bagian 1.3.5) dapat digunakan pada bayi dan anak untuk terapi esofagitis non-erosif dengan gejala sedang yang tidak memberikan respons terhadap pemberian antagonis reseptor-H2. Untuk kasus penyakit refluks gastroesofagal dengan striktur, ulserasi atau erosif, yang dipastikan melalui pemeriksaan endoskopi pada pasien anak umumnya diterapi dengan penghambat pompa proton. Perlu dilakukan pemeriksaan kembali bila gejala tetap muncul walaupun sudah diterapi dengan penghambat pompa proton selama 4-6 minggu; penggunaan jangka panjang dari antagonis reseptor-H2 atau penghambat pompa proton tidak boleh dilakukan jika tanpa pemeriksaan yang menyeluruh dalam rangka mencari penyebabnya.

Penggunaan stimulan motilitas (bagian 1.2.3) seperti domperidon dapat memperbaiki kontraksi sfingter gastroesofagal dan mempercepat pengosongan lambung, namun efikasinya dalam penggunaan jangka panjang tidak terbukti.

1.1.1 Antasida dan Simetikon

Antasida masih bermanfaat untuk mengobati penyakit saluran cerna. Antasida seringkali dapat meringankan gejala-gejala yang muncul pada penyakit dispepsia tukak maupun non-tukak, serta pada penyakit refluks gastro-esofagal (gastroesofagitis) tanpa erosi. Antasida juga kadang-kadang digunakan dalam dispepsia fungsional (non-tukak) tapi bukti kemanfaatannya belum dapat dipastikan.

Antasida paling baik diberikan saat muncul atau diperkirakan akan muncul gejala, lazimnya diantara waktu makan dan sebelum tidur, 4 kali sehari atau lebih.

Dosis tambahan mungkin diperlukan, yakni sampai interval setiap jam. Pemberian dosis lazim (misal 10 mL, 3 atau 4 kali sehari) cairan antasida magnesium-aluminium, meskipun dapat meningkatkan penyembuhan tukak tetapi kurang efektif bila dibandingkan dengan antisekresi (lihat 1.3.1 sampai dengan 1.3.5).

Pemilihan sediaan antasida bergantung pada kapasitas penetralan, kandungan ion natrium, efek samping, palatibilitas, dan kemudahan penggunaannya.

Pemberian antasida dengan kandungan natrium tinggi (misal campuran magnesium trisilikat) harus dihindari pada pasien yang memerlukan pembatasan masukan natrium. Demikian pula pada kondisi gagal ginjal dan jantung atau kehamilan.

Hipermagnesemia mungkin terjadi bila antasida yang mengandung magnesium diberikan pada pasien yang mengalami gagal ginjal.

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat lain sebaiknya dihindari karena mungkin dapat mengganggu absorpsi obat lain. Selain itu, antasida mungkin dapat merusak salut enterik yang dirancang untuk mencegah pelarutan obat dalam lambung: lihat Lampiran 1 (antasida dan AINS).

Pemberian antasida bersama-sama dengan obat lain sebaiknya dihindari karena mungkin dapat mengganggu absorpsi obat lain. Selain itu, antasida mungkin dapat merusak salut enterik yang dirancang untuk mencegah pelarutan obat dalam lambung: lihat Lampiran 1 (antasida dan AINS).

Antasida adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menetralkan asam lambung atau mengikatnya. Sediaan antasida dapat digolongkan menjadi:

1.1.1.1 Antasida Dengan Kandungan Aluminium dan/atau Magnesium

Antasida yang mengandung magnesium atau aluminium yang relatif tidak larut dalam air seperti magnesium karbonat, hidroksida, dan trisilikat serta aluminium glisinat dan hidroksida, bekerja lama bila berada dalam lambung sehingga sebagian besar tujuan pemberian antasida tercapai. Sediaan yang mengandung magnesium mungkin dapat menyebabkan diare, sedangkan yang mengandung aluminium mungkin menyebabkan konstipasi; antasida yang mengandung magnesium dan aluminium dapat mengurangi efek samping pada usus besar ini. Akumulasi aluminium tampaknya tidak menjadi risiko bila fungsi ginjal normal.

Manfaat sediaan campuran dibanding sediaan tunggalnya belum jelas benar, kapasitas penetralan keduanya mungkin sama. Selain itu, kompleks seperti hidrotalsit, tidak menunjukkan manfaat khusus.

Monografi:
ALUMINIUM HIDROKSIDA
Indikasi: dispepsia, hiperfosfatemia (lihat 9.5.2.2)
Peringatan: lihat keterangan di atas; gangguan ginjal (Lampiran 3)
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia, porfiria
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Suspensi: 1-2 sachet (7-14 mL), 3-4 kali sehari, anak lebih 8 tahun: ½ -1 sachet, 3-4 kali sehari

MAGNESIUM HIDROKSIDA
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal (lampiran 3)
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia
Efek Samping: diare, bersendawa karena terlepasnya karbondioksida
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Suspensi: 5 mL, 3-4 kali sehari.

Kombinasi Mg(OH)2, CaCO3, Famotidin
Indikasi: untuk mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak duodeni, yang tidak dapat diatasi dengan antasida.
Peringatan: gangguan ginjal, gangguan hati, hamil, menyusui; Tidak dianjurkan digunakan terus menerus lebih dari 2 minggu kecuali atas petunjuk dokter.
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia, alergi terhadap famotidin atau antagonis reseptor H2 lainnya.
Efek Samping: konstipasi, diare, mual, muntah, sakit kepala, pusing, gangguan irama jantung dan ruam kulit.
Dosis: Dewasa dan anak di atas 12 tahun: sehari 2 x 1 tablet kunyah, diminum jika timbul gejala atau 1 jam sebelum makan. Maksimum 2 tablet/hari (2 tablet dalam 24 jam). Sebaiknya tidak diminum bersama makanan. Tablet dikunyah sebelum ditelan. Untuk anak kurang dari 12 tahun: sesuai petunjuk dokter.

KOMPLEKS MAGNESIUM HIDROTALSIT
Indikasi: untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, tukak lambung, tukak duodeni dengan gejala-gejala seperti mual, kembung dan perasaan penuh pada lambung.
Peringatan: gangguan ginjal; lihat juga catatan di atas.
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida dan adsorben).
Dosis: Dewasa: 3-4 kali sehari, 1-2 tablet. Anak-anak 6-12 tahun: sehari 3-4 kali, ½-1 tablet. Dianjurkan untuk minum obat ini segera pada saat timbul gejala dan dilanjutkan 1-2 jam sebelum makan atau setelah makan dan sebelum tidur malam. Dapat diminum dengan air atau dikunyah langsung.

MAGNESIUM KARBONAT
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal; dan lihat juga catatan di atas;
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida)
Kontraindikasi: hipofosfatemia
Efek Samping: diare, bersendawa karena terlepasnya karbondioksida
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan; Suspensi: 10 mL 3 x sehari

MAGNESIUM TRISILIKAT
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal ; lihat juga catatan di atas,
Interaksi: lihat Lampiran 1 (antasida dan adsorben).
Kontraindikasi: hipofosfatemia
Efek Samping: diare, sendawa akibat dari dihasilkannya CO2, batu ginjal berasal dari silica dilaporkan pada terapi jangka panjang.
Dosis: 1-2 tablet dikunyah, diberikan hingga 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Suspensi: 1-2 sachet (7-14 mL), 3-4 kali sehari, anak > 8 tahun: ½ – 1 sachet, 3-4 kali sehari.

1.1.1.2 Antasida Dengan Kandungan Natrium Bikarbonat

Natrium bikarbonat merupakan antasida yang larut dalam air dan bekerja cepat. Namun dalam dosis berlebih dapat menyebabkan alkalosis. Seperti antasida lainnya yang mengandung karbonat, terlepasnya karbon dioksida menyebabkan sendawa. Natrium bikarbonat sebaiknya tidak diberikan lagi dalam bentuk sediaan tunggal untuk dispepsia, tapi merupakan bagian dari kombinasi zat aktif untuk pengobatan saluran cerna. Pemberian natrium bikarbonat dan sediaan antasida dengan kandungan natrium yang tinggi, seperti campuran magnesium trisilikat, sebaiknya dihindari pada pasien yang sedang diet rendah garam (pada gagal jantung, gangguan hati dan ginjal).

1.1.1.3 Antasida Dengan Kandungan Bismut dan Kalsium

Antasida yang mengandung bismut (kecuali kelat) sebaiknya dihindari karena bismut yang terabsorpsi bersifat neurotoksik, menyebabkan ensefalopati, dan cenderung menyebabkan konstipasi.

Antasida yang mengandung kalsium dapat menginduksi sekresi asam lambung. Pada dosis rendah manfaat klinisnya diragukan. sedangkan penggunaan dosis besar jangka panjang dapat menyebabkan hiperkalsemia dan alkalosis, serta memperburuk sindrom susu-alkalis.

Interaksi lihat Lampiran 1 (antasida).

1.1.1.4 Antasida Dengan Kandungan Simetikon

Senyawa antasida lain sering kali ditemukan dalam sediaan tunggal maupun kombinasi. Simetikon (bentuk aktif dimetikon), diberikan sendiri atau ditambahkan pada antasida sebagai antibuih untuk meringankan kembung (flatulen). Pada perawatan paliatif, dapat mengatasi cegukan.

Daftar Bahan Obat dan Tindakan yang Dilarang dalam OlahRaga (Anti Doping)

Penggunaan setiap obat hanya dapat dilakukan pada kondisi yang dibenarkan secara medis

BAHAN OBAT DAN TIDAKAN YANG DILARANG SETIAP SAAT (DI DALAM MAUPUN DI LUAR KOMPETISI)

stop doping daftar obat doping
STOP DOPING

Bahan Obat yang Dilarang

S1. BAHAN ANABOLIK

Bahan anabolik tidak diizinkan.

1. Steroid Androgenik Anabolik

a. Steroid Androgenik Anabolik Eksogen, antara lain:

1-androstendiol (5?-androst-1-ene-3?,17?-diol)
1-androstendione (5?-androst-1-ene-3,17-dione)
Bolandiol (19-norandrostendiol)
Bolasteron
Boldenon
Boldion (androsta-1,4-diene-3,17-dione)
Kalusteron
Klostebol
Danazol (17?-ethynyl-17?-hydroxyandrost-4-enol[2,3-d]isoxazole)
Dehidroklormetiltestosteron (4-chloro-17?-hydroxy-17?-methylandrosta-1,4-dien-3-one)
Desoksimetiltestosteron (17?-methyl-5?-androst-2-en-17?-ol)
Drostanolon
Etilestrenol (19-nor-17? -pregn-4-en-17-ol)
Fluoksimesteron
Formebolon
Furazabol (17?-hydroxy-17?-methyl-5?-androstanol[2,3-c]-furazan)
Gestrinon
4-hydroxytestosterone (4,17?-dihydroxyandrost-4-en-3-one)
Mestanolon
Mesterolon
Metenolon
Metandienon (17?-hydroxy-17?-methylandrosta-1,4-dien-3-one)
Metandriol
Metasteron (2?,17?-dimethyl-5?-androstane-3-one-17?-ol)
Metildienolon (17?-hydroxy-17?-methylestra-4,9-dien-3-one)
Methyl-1-testosterone (17?-hydroxy-17?-methyl-5?-androst-1-en-3-one)
Metilnortestosteron (17?-hydroxy-17?-methylestr-4-en-3-one)
Metiltrienolon (17?-hydroxy-17?-methylestra-4,9,11-trien-3-one)
Metiltestosteron
Miboleron
Nandrolon
19-norandrostenedione (estr-4-ene-3,17-dione)
Norklostebol
Nortandrolon
Oksabolon
Oksandrolon
Oksimesteron
Oksimetolon
Prostanozol ([3,2-c]pyrazole-5?-etioallocholane-17?-tetrahydropyranol)
Kuinbolon
Stanozolol
Stenbolon
1-testosterone (17?-hydroxy-5?-androst-1-en-3-one)
Tetrahidrogestrinon (18a-homo-pregna-4,9,11-trien-17?-ol-3-one)
Trenbolon dan senyawa lain dengan struktur kimia atau efek biologis yang mirip.

b. Steroid Androgenik anabolik Endogen, antara lain:

Androstenediol (androst-5-ene-3?,17?-diol)
Androstenedion (androst-4-ene-3,17-dione)
Dihidrotestosteron (17?-hydroxy-5?-androstan-3-one)
Prasteron (dehydroepiandrosterone, DHEA)
Testosteron serta metabolit dan isomernya berikut:
5?-androstane-3?,17?-diol
5?-androstane-3?,17?-diol
5?-androstane-3?,17? –diol
5?-androstane-3?,17?-diol
Androst-4-ene-3?,17?-diol
Androst-4-ene-3?,17?-diol
Androst-4-ene-3?,17?-diol
Androst-5-ene-3?,17?-diol
Androst-5-ene-3?,17?-diol
Androst-5-ene-3?,17?-diol
4-androstenediol (androst-4-ene-3?,17?-diol)
5-androstenedione (androst-5-ene-3,17-dione)
Epi-dihydrotestosterone
3?-hydroxy-5?-androstan-17-one
3?-hydroxy-5?-androstan-17-one
19-norandrosterone
19-noretiocholanolone

2.Bahan Anabolik lain tidak dibatasi; antara lain:

  • Klenbuterol
  • Tibolon
  • Zeranol
  • Zilpaterol

Catatan:
Eksogen artinya bahan yang tidak biasa dapat diproduksi oleh tubuh secara alami. Endogen artinya bahan yang dapat diproduksi oleh tubuh secara alami.

S2. HORMON DAN BAHAN YANG BERHUBUNGAN

Bahan-bahan berikut, termasuk bahan lain dengan struktur kimia sejenis atau efek biologi sejenis, dan faktor penyebabnya dilarang, antara lain:

Erythropoietin (EPO)
Growth Hormone (hGH), Insulin-like Growth Factors (eg. IGF-1),
Mechano Groeth Factors (MGFs)
Gonadotropins (LH, hCG) dilarang hanya pada pria
Insulin
Corticotrophins

S3. AGONIS BETA-2

Semua agonis beta-2 dilarang termasuk isomer D- dan L- nya, kecuali formoterol, salbutamol, salmeterol, dan terbutalin jika digunakan melalui inhalasi, berdasarkan pemeriksaan medis atau dokter untuk kebutuhan pengobatan.

S4. BAHAN DENGAN AKTIVITAS ANTI- ESTROGEN

Anti-estrogen golongan berikut dilarang, antara lain:

1. Inhibitor aromatase, termasuk zat berikut namun tidak terbatas pada:

Anastrozol

Lestrozol

Aminoglutetimid

Eksemestan

Formestan

Testolakton

2. Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs), termasuk zat berikut namun tidak terbatas pada:

Raloksifen

Tamoksifen

Toremifen

3. Bahan anti-estrogen lain, termasuk zat berikut namun tidak terbatas pada:

Klomifen

Siklofenil

Fulvestrant

S5. DIURETIK DAN MASKING AGENTS LAIN

Masking agents yang dilarang, yaitu termasuk:

Diuretik
Epitestosteron
Probenesid
Inhibitor alfa-reduktase, seperti:

  • Finasterid
  • Dutasterid
Plasma expanders, seperti:

  • Albumin
  • Dekstran
  • Hydroxyethyl starch
Dan bahan lain dengan efek biologi sejenis

Diuretik yang dilarang termasuk:

Asetazolamid
Amilorid
Bumetanid
Kanrenon
Klortalidon
Asam etrakinat
Furosemid
Indapamid
Metolazon
Spironolakton
Tiazid, seperti:

  • Bendroflumetiazid
  • Klorotiazid
  • Hidroklorotiazid
Triamteren
Dan bahan lain dengan struktur kimia sejenis atau efek biologi sejenis (kecuali drosperinon yang tidak dilarang)

Metode Pengobatan yang Dilarang

M1. MENINGKATKAN TRANSFER OKSIGEN

Metode berikut dilarang:

1. Doping darah, termasuk penggunaan darah atologos, homologos, atau heterologos atau produk sel darah merah dari sumber apapun.
2. Peningkatan uptake, transpor, atau penghantaran oksigen buatan, termasuk hal berikut namun tidak terbatas pada:

  • Perfluorochemicals
  • Efaproxiral (RSR13)
  • dan produk hemoglibin modifikasi (seperti haemoglobin-based blood substitutes, micro encapsulated haemoglobin products)

M2. MANIPULASI KIMIA DAN FISIKA

1. Mengganggu, atau mencoba mengganggu, sebagai usaha mengaburkan integritas dan validitas sampel yang dikumpulkan se- lama pengawasan doping adalah dilarang. Hal ini termasuk namun tidak terbatas pada kateterisasi, substitusi urine dan atau penggantian urine.
2. Infus intravena adalah dilarang, kecuali untuk tujuan terapi resmi.

M3. DOPING GEN

Penggunaan non-terapetik dari sel, gen, elemen genetik, atau modulasi ekspresi gen, yang berpotensi dapat meningkatkan performa atlet, adalah dilarang.

BAHAN OBAT DAN TINDAKAN YANG DILARANG DI DALAM KOMPETISI

Sebagai tambahan dari kategori S1 sampai S5 dan M1 sampai M3 yang telah dijelaskan di atas, kategori berikut juga dilarang dalam kompetisi:

Bahan Obat yang Dilarang

S6. STIMULAN

Semua stimulan (termasuk isomer optik keduanya (D- dan L-) yang berhubungan) adalah dilarang, kecuali imidazol dan derivatnya untuk penggunaan topikal dan stimulan yang termasuk dalam Monitoring Program 2007*.

Yang termasuk stimulan:

Adrafinil
Adrenalin **
Amfepramon
Amifenazol
Amfetamin
Amfetaminil
Benzfetamin
Bromantan
Katin ***
Klobenzorex
Kokain
Kropropamid
Krotetamid
Cyclazodon
Dimetilamfetamin
Efedrin ****
Etamivan
Etilamfetamin
Etilefrin
Famprofazon
Fenbutrazat
Fenkafamin
Fenkamin
Fenetilin
Fenfluramin
Fenproporex
Furfenorex
Heptaminol
Isomethepten
Levmetafetamin
Meklofenoksat
Mefenoreks
Mefentermin
Mesocarb
Metamfetamin (D-)
Metilendioksimetamfetamin
p-metilamfetamin
Metilefedrin ****
Metilfenidat
Modafinil
Niketamid
Norfenefrin
Norfenfluramin
Oktopamin
Ortetamin
Oksilofrin
Parahidroksiamfetamin
Pemolin
Pentetrazol
Fendimetrazin
Fenmetrazin
Fenprometazin
Fentermin
4-fenilpiracetam (carphedon)
Prolintan
Propilheksedrin
Selegilin
Sibutramin
Strychnine
Tuaminoheptan
Dan bahan lain dengan struktur kimia atau efek biologi yang sejenis

Bahan berikut termasuk ke dalam Monitoring Program 2007 (bupropion, kafein, fenilefrin, fenilpropanolamin, pipradol, pseudoefedrin, sinefrin) tidak termasuk bahan yang dilarang.

** Adrenalin yang digunakan sebagai bahan anastetik lokal atau digunakan secara lokal (seperti nasal, atau optalmologik) tidak dilarang.

*** Cathine dilarang jika kadarnya pada urin lebih besar dari 5 mcg per mililiter.

**** Setiap efedrin dan metilefedrin dilarang jika kadarnya pada urin lebih besar dari 10 mcg per mililiter

S7. NARKOTIK

Narkotik berikut dilarang:

Buprenorfin
Dekstromoramid
Diamorfin (heroin)
Fentanil dan derivatnya
Hidromorfon
Metadon
Morfin
Oksikodon
Oksimorfon
Pentazosin
Petidin

S8. KANABIOID

Kanabioid (seperti hashish, marijuana) adalah dilarang.

S9. GLUKOKORTIKOSTEROID

Semua glukokortikosteroid adalah dilarang jika digunakan secara oral, rektal, intravena atau intramuskular. Penggunaannya harus dengan berdasarkan pemeriksaan medis atau dokter untuk kebutuhan pengobatan.

Rute penggunaan lainnya (injeksi intraartikular / periartikular/peritendinus/epidural/intradermal dan inhalasi) harus berdasarkan pemeriksaan medis atau dokter untuk kebutuhan pengobatan, kecuali seperti keterangan berikut.

Sediaan topikal jika digunakan untuk gangguan dermatologi (termasuk iontoforesis/fonoforesis), aurikular, nasal, optalmik, buccal, gingival dan perianal adalah tidak dilarang dan tidak harus berdasarkan pemeriksaan medis atau dokter untuk kebutuhan pengobatan.

BAHAN OBAT YANG DILARANG PADA CABANG OLAHRAGA TERTENTU

P1. ALKOHOL

Alkohol (etanol) hanya dilarang di dalam kompetisi pada cabang olahraga tertentu saja. Deteksi dilakukan dengan pemeriksaan napas dan/atau darah. Batas yang dianggap sebagai doping (nilai pemeriksaan hematologi) untuk setiap Federasi dilaporkan dalam parentesis.

Aeronautika (FAI)0,20 g/L
Panah (FITA, IPC)0,10 g/L
Automobil (FIA)0,10 g/L
Boules (CMSB, IPC bowls)0,10 g/L
Karate (WKF)0,10 g/L
Pentalon modern (UIPM) for disciplines  involving shooting0,10 g/L
Motorcycling (FIM)0,10 g/L
Powerboating (UIM)0,30 g/L

P2. BETA BLOKER

Kecuali dinyatakan lain, beta-bloker dilarang pada kompetisi cabang olahraga berikut:

Aeronautika (FAI)
Panah (FITA, IPC)
Juga dilarang di kompetisi
Automobil (FIA)
Billiard (WCBS)
Bobsleigh (FIBT)
Boubles (CMSB, IPC bowls)
Bridge (FMB)
Curling (WCF)
Senam (FIG)
Motorcycling (FIM)
Pentalon modern (UIPM)
untuk bidang yang melibatkan menembak
Bowling sembilan-pin (FIQ)
Berlayar (ISAF)
hanya untuk  pertandingan dengan helm
Menembak (ISSF, IPC)
juga dilarang di luar kompetisi
Ski atau snowboarding (FIS)
Gulat (FILA)

Beta-bloker termasuk zat berikut, namun tidak terbatas pada:

Asebutolol
Alprenolol
Atenolol
Betaksolol
Bisoprolol
Bunolol
Karteolol
Karvedilol
Celiprolol
Esmolol
Labetalol
Levobunolol
Metipranolol
Metoprolol
Nadolol
Oksprenolol
Pindolol
Propanolol
Sotalol
Timolol

BAHAN OBAT TERTENTU

Bahan obat tertentu adalah sebagai berikut:

  • Semua agonis Beta-2 inhalasi, kecuali:
    • Salbutamol (free plus glukuronid) di atas 1000 ng/mL
    • Klenbuterol
  • Probenesid
  • Cathine
  • Kropropamid
  • Krotetamid
  • Efedrin
  • Etamivan
  • Famprofazon
  • Heptaminol
  • Isomepheptan
  • Levemetamfetamin
  • Meklofenoksat
  • p-metilamfetamin
  • Metilefedrin
  • Niketamid
  • Norfenefrin
  • Oktopamid
  • Ortetamin
  • Oksilofrin
  • Fenprometamin
  • Propilheksedrin
  • Selegilin
  • Sibutramin
  • Tuaminoheptan
  • Dan stimulan lain yang tidak secara langsung disebutkan pada bagian S6 di mana atlit menyatakan memenuhi persyaratan yang dijelaskan pada bagian S6.
  • Kanabioid
  • Semua glukokortikosteroid
  • Alkohol
  • Semua beta-blocker

Penggunaan obat-obat yang terdapat dalam “Daftar bahan obat dan tindakan yang dilarang dalam olahraga (anti-doping)” dengan tujuan untuk terapi dan bukan untuk meningkatkan kinerja olahraga, tidak dikategorikan sebagai pelanggaran doping atau dapat mengurangi sanksi pelanggaran doping.

Sumber: World anti-Doping Agency
Berlaku secara internasional
Versi tahun 2007

Pedoman Umum IONI

Kepentingan Informatorium Nasional

Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Berbagai pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu penyakit. Tidak kalah penting, obat harus selalu digunakan secara benar agar memberikan manfaat klinik yang optimal. Terlalu banyaknya jenis obat yang tersedia ternyata juga dapat memberikan masalah tersendiri dalam praktek, terutama menyangkut bagaimana memilih dan menggunakan obat secara benar dan aman. Para pemberi pelayanan (provider) atau khususnya para dokter (prescriber) harus selalu mengetahui secara rinci, obat yang dipakai dalam pelayanan. Di banyak sistem pelayanan kesehatan, terutama di negara-negara berkembang, informasi mengenai obat maupun pengobatan yang sampai ke para dokter seringkali lebih banyak berasal dari produsen obat. Informasi ini seringkali cenderung mendorong penggunaan obat yang diproduksi oleh masing-masing produsennya dan kurang obyektif.

Dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, mutlak diperlukan sumber informasi obat yang netral, agar para dokter dapat memperoleh informasi yang obyektif setiap saat memerlukannya. Salah satu bentuk informasi obat yang komprehensif adalah buku informatorium nasional. Pada dasarnya, pengertian formatorium obat adalah kumpulan informasi dari produk-produk obat yang telah diijinkan untuk digunakan dalam suatu sistem pelayanan kesehatan.

Informatorium Obat Nasional Indonesia atau disingkat IONI, memuat informasi mengenai produk-produk obat yang disetujui beredar di Indonesia. Sesuai ketentuan yang berlaku, sebelum disetujui beredar di Indonesia, obat harus melalui penilaian khasiat, keamanan dan mutu, sehingga obat yang beredar telah memenuhi 3 kriteria tersebut. Informasi tersebut mencakup informasi mengenai farmakodinamik dan farmakokinetik obat, indikasi dan cara penggunaannya, keamanannya dan informasi lainnya. Pengembangan IONI tidak terlepas dari prinsip kedokteran berdasarkan bukti (evidence-based medicine), dengan informasi yang dicantumkan adalah yang paling banyak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang berkaitan dengan kemanfaatan dan keamanan penggunaan obat. Informasi yang dimuat dalam suatu informatorium merupakan informasi yang telah ditelaah secara cermat berdasarkan data penelitian.

Kepentingan dan manfaat informatorium dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:

  • Mencakup produk-produk obat yang telah mendapat izin edar (legal)
  • Memuat informasi obat, terutama mengenai indikasi, penggunaan dan cara penggunaan, serta informasi keamanan obat yang resmi disetujui (approved).
  • Menghindari pemberian infomasi obat yang salah (tidak berimbang, bias, tidak lengkap).
  • Mendorong penggunaan obat yang efektif, aman dan rasional.

Penggolongan Obat

Terdapat tiga jenis golongan obat yaitu obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas adalah berupa lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

Lingkaran Hijau ? tanda khusus obat bebas

Obat bebas terbatas adalah obat yang dijual bebas dan dapat dibeli tanpa dengan resep dokter, tapi disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus untuk obat ini adalah lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam.

Lingkaran Biru ? obat bebas terbatas

Khusus untuk obat bebas terbatas, selain terdapat tanda khusus lingkaran biru, diberi pula tanda peringatan untuk aturan pakai obat, karena hanya dengan takaran dan kemasan tertentu, obat ini aman dipergunakan untuk pengobatan sendiri. Tanda peringatan berupa empat persegi panjang dengan huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari 6 macam, yaitu:

Peringatan No 1

Peringatan No 2

Peringatan No 3

Peringatan No 4

Peringatan No 5

Peringatan No 6

Obat Keras adalah obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Ciri-cirinya adalah bertanda lingkaran bulat merah dengan garis tepi berwarna hitam, dengan huruf K ditengah yang menyentuh garis tepi. Obat ini hanya boleh dijual di apotik dan harus dengan resep dokter pada saat membelinya.

Lingkaran merah,dengan huruf K di tengah ? obat keras

Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA)

Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan yang ringan, dirasa perlu ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendirisecara tepat, aman dan rasional. Melakukan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional dapat dicapai melalui bimbingan apoteker yang disertai dengan informasi yang tepat sehingga menjamin penggunaan yang tepat dari obat tersebut.

Peran apoteker di apotik dalam pelayanan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri.

Obat Wajib Apotek adalah beberapa obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter, namun harus diserahkan oleh apoteker di apotek. Pemilihan dan penggunaan obat DOWA harus dengan bimbingan apoteker. Daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan. Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan diserahkan tanpa resep dokter.

Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek tercantum dalam:

  1. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/ MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1
  2. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/ Menkes / Per / X / 1993 tentang DaftarObat Wajib Apotek No.2
  3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.3

Obat Esensial

Obat esensial adalah obat terpilih yang paling diperlukan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi, yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.

Penerapan Konsep Obat Esensial dilakukan melalui Daftar Obat Esensial Nasional, Pedoman Pengobatan, Formularium Rumah Sakit dan Informatorium Obat Nasional Indonesia. Keempat komponen ini merupakan komponen yang saling terkait untuk mencapai peningkatan ketersediaan dan suplai obat serta kerasionalan penggunaan obat.

Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) merupakan daftar obat terpilih yang paling dibutuhkan dan yang diupayakan tersedia di unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.

Dari sisi medis, obat esensial sedikit banyak dapat dikaitkan dengan obat pilihan (drug of choice). Dalam hal ini hanya obat yang terbukti memberikan manfaat klinik paling besar, paling aman, paling ekonomis, dan paling sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada yang dimasukkan sebagai obat esensial.

Tujuan kebijakan obat esensial adalah untuk meningkatkan ketepatan, keamanan, kerasionalan penggunaan dan pengelolaan obat yang sekaligus meningkatkan daya guna dan hasil guna biaya yang tersedia sebagai salah satu langkah untuk memperluas, memeratakan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kriteria obat esensial yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan juga telah diadopsi di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit risk ratio) yang paling menguntungkan pasien
  • Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan ketersediaan hayati (bioavailability)
  • Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
  • Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan tenaga, sarana dan fasilitas kesehatan
  • Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien
  • Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung
  • Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa,maka pilihan diberikan kepada obat yang:
    • Sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah
    • Sifat farmakokinetiknya diketahui paling banyak menguntungkan
    • Stabilitas yang paling baik
    • Paling mudah diperoleh
    • Obat yang telah dikenal
  • Obat jadi kombinasi tetap, dengan kriteria sebagai berikut:
    • Obat bermanfaat bagi pasien hanya bila dalam bentuk kombinasi tetap
    • Kombinasi tetap terbukti memberikan khasiat dan keamanan lebih baik dibanding masing-masing komponennya
    • Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang tepat untuk sebagian besar pasien yang memerlukan kombinasi tersebut.
    • Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat dan keamanan
    • Kombinasi antibakteri harus dapat mencegah atau mengurangi terjadinya resistensi atau efek merugikan lain.

Di Indonesia, penerapan DOEN harus dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus di semua unit pelayanan kesehatan.

Obat Generik

Obat yang beredar di pasaran umumnya berdasarkan atas nama dagang yang dipakai oleh masing-masing produsennya. Karena tiap produsen jelas akan melakukan promosi untuk masing-masing produknya, maka harga obat dengan nama dagang umumnya lebih mahal. Kebijakan obat generik adalah salah satu kebijakan untuk mengendalikan harga obat, di mana obat dipasarkan dengan nama bahan aktifnya.

Agar para dokter dan masyarakat dapat menerima dan menggunakan obat generik, diperlukan langkah-langkah pengendalian mutu secara ketat. Di Indonesia, kewajiban menggunakan obat generik berlaku di unit-unit pelayanan kesehatan pemerintah.

Agar upaya pemanfaatan obat generik ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka kebijakan tersebut mencakup komponen-komponen berikut:

  • Produksi obat generik dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Produksi dilakukan oleh produsen yang memenuhi syarat CPOB dan disesuaikan dengan kebutuhan akan obat generik dalam pelayanan kesehatan.
  • Pengendalian mutu obat generik secara ketat.
  • Distribusi dan penyediaan obat generik di unit-unit pelayanan kesehatan sesuai dengan Cara Distribusi Obat yang Baik
  • Peresepan berdasarkan nama generik, bukan nama dagang.
  • Penggantian (substitusi) dengan obat generik diusulkan diberlakukan di unit-unit pelayanan kesehatan.
  • Informasi dan komunikasi mengenai obat generik bagi dokter dan masyarakat luas secara berkesinambungan.
  • Pemantauan dan evaluasi berkala terhadap penggunaan obat generik.

Mutu obat generik tidak perlu diragukan mengingat setiap obat generik juga mendapat perlakuan yang sama dalam hal evaluasi terhadap pemenuhan kriteria khasiat, keamanan dan mutu obat. Namun, sekarang ini terdapat kecenderungan bahwa penggunaan obat generik mulai menurun. Untuk itu hasil dari pemeriksaan mutu dan informasi mengenai obat generik harus selalu dikomunikasikan kepada pemberi pelayanan maupun ke masyarakat luas.

Formularium Rumah Sakit

Bagi suatu rumah sakit, tidak mungkin untuk menyediakan semua jenis obat yang ada di pasaran untuk pelayanan rumah sakit. Untuk itu dikembangkan kebijakan formularium rumah sakit, yang pada dasarnya adalah merupakan upaya pemilihan obat di rumah sakit. Setiap rumah sakit di negara maju dan juga dibanyak negara berkembang umumnya telah menerapkan formularium rumah sakit. Formularium rumah sakit (FRS) pada hakekatnya merupakan daftar produk obat yang telah disepakati untuk dipakai di rumah sakit yang bersangkutan, beserta informasi yang relevan mengenai indikasi, cara penggunaan dan informasi lain mengenai tiap produk. FRS yang telah disepakati di satu rumah sakit perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh (commitment) dari pihak-pihak yang terkait, meliputi:

  • Pengelola obat menyediakan obat-obat di rumah sakit sesuai dengan FRS
  • Dokter menggunakan obat-obat yang ada di FRS.

Formularium Rumah Sakit disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)/Komite Farmasi dan Terapi (KFT) Rumah Sakit berdasarkan DOEN dan disempurnakan dengan mempertimbangkan obat lain yang terbukti secara ilmiah dibutuhkan untuk pelayanan di Rumah Sakit tersebut. Penyusunan Formularium Rumah Sakit juga mengacu pada pedoman pengobatan yang berlaku.

Mengingat pengembangan dan penerapan FRS adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui penggunaan obat yang aman, efektif, rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan, maka pengembangan FRS perlu melibatkan berbagai pihak yang terkait di rumah sakit, yakni pihak pengelola obat, manajemen rumah sakit, dan keahlian- keahlian klinik yang ada. Keputusan untuk memasukkan suatu obat dalam FRS harus didasarkan atas kesepakatan akan kriteria tertentu yang mencakup bukti, manfaat klinis obat, keamanan obat, kesesuaian obat dengan pelayanan yang ada di rumah sakit dan biaya. Faktor-faktor ini harus dikaji secara ilmiah dari sumber-sumber informasi ilmiah yang layak dipercaya. Kajian tidak cukup hanya berdasarkan informasi yang diberikan oleh produsen obat.

FRS yang telah dikembangkan harus disosialisasikan di kalangan dokter, dan dalam penerapannya harus dilakukan pemantauan secara berkesinambungan. Hasil pemantauan dipakai untuk pelaksanaan evaluasi dan revisi agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

Pedoman Pengobatan

Di banyak sistem pelayanan kesehatan, baik di negara maju maupun negara berkembang, saat ini banyak dikembangkan dan dilaksanakan pedoman pelayanan termasuk pedoman pengobatan dalam berbagai tingkat pelayanan. Unit-unit pelayanan kesehatan, baik di tingkat primer, sekunder maupun tersier, membutuhkan suatu pedoman pengobatan yang bertujuan untuk meningkatkan efektifitas, keamanan maupun cost-effectiveness tindakan farmakoterapi yang diberikan.

Kebutuhan pedoman pengobatan dilator-belakangi oleh banyaknya alternatif pengobatan yang ada untuk setiap jenis penyakit dan juga adanya kebiasaan pengobatan yang sangat beragam di antara para dokter berdasarkan pengalamannya masing-masing. Prinsip kedokteran berdasarkan bukti (evidence based medicine) menuntut bahwa alternatif terapi yang terbukti secara ilmiah paling bermanfaat, paling aman, paling sesuai dan paling ekonomis untuk pasien yang harus dipilih dan diberikan kepada pasien.

Agar pedoman pengobatan dapat memberikan manfaat sesuai dengan tujuannya, maka beberapa hal berikut perlu mendapatkan perhatian:

  • Pedoman pengobatan dikembangkan berdasarkan informasi ilmiah yang layak dan handal.
  • Pedoman pengobatan dikembangkan dengan melibatkan berbagai faktor dalam sistem pelayanan kesehatan yang bersangkutan.
  • Pedoman pengobatan perlu disosialisasikan kepada para dokter.
  • Perlu pemantauan ketaatan terhadap pedoman pengobatan melalui audit atau studi penggunaan obat di unit-unit pelayanan kesehatan.
  • Pedoman pengobatan memuat penyakit yang umum dijumpai di unit pelayanan kesehatan.
  • Pedoman pengobatan harus disesuaikan dengan sarana pelayanan dan pelaku pelayanan yang ada.

Mengembangkan pedoman pengobatan dan menyebarluaskannya ke unit-unit pelayanan kesehatan saja tidak akan memberikan banyak dampak perubahan terhadap kebiasaan penggunaan obat. Pedoman pengobatan perlu dipakai dan ditaati oleh para dokter dalam pelaksanaan pelayanan dan secara berkala dilakukan pemeriksaan (audit) dan pemantauan (monitoring) kebiasaan penggunaan obat. Hasil pemeriksaan dan pemantauan ini perlu diumpanbalikkan kepada para dokter sebagai masukan yang diharapkan akan meningkatkan mutu penggunaan obatnya.

Masalah Dalam Penggunaan Obat

Penggunaan obat yang tidak tepat, tidak efektif, tidak aman dan juga tidak ekonomis atau yang lebih populer, dengan istilah tidak rasional, saat ini telah menjadi masalah tersendiri dalam pelayanan kesehatan, baik di negara maju maupun negara berkembang. Masalah ini dijumpai di unit-unit pelayanan kesehatan, misalnya di rumah sakit, puskesmas, praktek pribadi, maupun di masyarakat luas.

Penggunaan obat yang tidak tepat jika risiko yang mungkin terjadi tidak imbang dengan manfaat yang diperoleh dari tindakan memberikan suatu obat. Dengan kata lain, penggunaan obat dapat dinilai tidak rasional jika:

  • Indikasi penggunaan tidak jelas atau keliru
  • Pemilihan obat tidak tepat, artinya obat yang dipilih bukan obat yang terbukti paling bermanfaat, paling aman, paling sesuai, dan paling ekonomis
  • Cara penggunaan obat tidak tepat, mencakup besarnya dosis, cara pemberian, frekuensi pemberian dan lama pemberian
  • Kondisi dan riwayat pasien tidak dinilai secara cermat, apakah ada keadaan-keadaan yang tidak memungkinkan penggunaan suatu obat, atau mengharuskan penyesuaian dosis (misalnya penggunaan aminoglikosida pada gangguan ginjal) atau keadaan yang akan meningkatkan risiko efek samping obat
  • Pemberian obat tidak disertai dengan penjelasan yang sesuai kepada pasien atau keluarganya
  • Pengaruh pemberian obat, baik yang diinginkan atau yang tidak diinginkan, tidak diperkirakan sebelumnya dan tidak dilakukan pemantauan secara langsung atau tidak langsung.

Latar belakang penyebab terjadinya masalah penggunaan obat bersifat kompleks karena berbagai faktor ikut berperan. Ini mencakup faktor yang berasal dari dokter, pasien, sistem dan sarana pelayanan yang tidak memadai, dan dari kelemahan-kelemahan regulasi yang ada. Tidak kalah pentingnya adalah faktor yang berasal dari promosi obat yang berlebihan dan adanya informasi yang tidak benar mengenai manfaat dan keamanan suatu obat. Masalah penggunaan obat tidak semata- mata berkaitan dengan kekurangan informasi dan pengetahuan dari profesional kesehatan (dokter, apoteker atau tenaga kesehatan lainnya) maupun pasien atau masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan yang sudah mendalam, dan perilaku pihak-pihak yang terlibat didalamnya.

Untuk menjamin penggunaan obat yang tepat, semua profesional kesehatan harus mewaspadai lima hal yang harus tepat dalam pemberian obat yaitu: “Tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat rute pemberian dan tepat waktu pemberian”. Dalam manajemen risiko, semua hal yang harus tepat ini diubah/ dibalik menjadi kategori medication error. Beberapa masalah dalam pemberian obat yang dikategorikan sebagai medication error, adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan obat yang salah yaitu memberikan obat yang sebenarnya tidak diresepkan untuk pasien tersebut.
  2. Kelebihan jumlah sediaan yang diberikan, yaitu apabila sediaan yang diberikan lebih besar dari total jumlah sediaan pada saat diminta oleh dokter. Contoh: apabila dokter meminta obat untuk diberikan hanya pada pagi hari namun pasien juga menerima obat untuk digunakan pada sore hari.
  3. Kesalahan dosis atau kesalahan kekuatan obat yaitu apabila pada sediaan yang diberikan terdapat kesalahan jumlah dosis
  4. Kesalahan rute pemberian yaitu apabila obat diberikan melalui rute yang berbeda dengan yang seharusnya, termasuk juga sediaan yang diberikan pada tempat yang salah. Contoh: obat seharusnya diteteskan pada telinga sebelah kanan tetapi diteteskan pada telinga sebelah kiri.
  5. Kesalahan waktu pemberian yaitu apabila waktu pemberian obat berbeda dari seharusnya tanpa ada alasan yang kuat dan memberikan perbedaan efek yang cukup signifikan.
  6. Kesalahan bentuk sediaan yaitu apabila bentuk sediaan yang diberikan berbeda dengan yang diminta oleh dokter Contoh: memberikan tablet padahal yang diminta adalah suspensi

Contoh medication error yang berhubungan dengan singkatan dan simbol

SingkatanMaksud sebenarnyaErrorRekomendasi
Nama Obat
Singkatan:
Jangan menyingkat nama obat
MTXMetotreksatMitosantron
MSMorfin SulfatMagnesium Sulfat (MgSO4)
Stemmed names:
Nitro dripNitroprusidNitrogliserin
Simbol
/Memisahkan dua dosis atau untuk mengindikasikan per1 (angka 1); contoh lain misalnya 25unit/10 unit dibaca sebagai 110 unitTuliskan ‘per’ jangan menuliskan simbolnya
+Tanda tambahSalah dibaca sebagai angka 4Tuliskan ‘dan’
Nilai desimal
Nol setelah nilai desimal (contoh 1.0 mg)1 mgSalah dibaca sebagai 10 mgPencantuman angka “Nol” setelah koma berbahaya karena dapat disalah artikan, karena itu jangan digunakan

Singkatan istilah. Pada umumnya, istilah-istilah dari obat dan sediaan sebaiknya ditulis secara lengkap. Misalnya penulisan sediaan injeksi antibiotik dengan kekuatan 1 gram seringkali ditulis “1 g”. Hal ini sebaiknya ditulis secara lengkap yaitu “1 gram”.

Kekuatan dan kuantitas. Kekuatan atau kuantitas dari sediaan kapsul, tablet hisap, tablet, dan lain-lain harus ditetapkan oleh dokter penulis resep.

Jika apoteker menerima resep yang tidak lengkap untuk suatu sediaan yang digunakan secara sistemik dan berpendapat bahwa pasien tidak perlu kembali ke dokter, prosedur seperti berikut ini dapat diterapkan:

  1. Harus dilakukan usaha untuk menghubungi dokter penulis resep untuk memastikan maksudnya.
  2. Jika usaha yang dilakukan untuk menghubungi dokter penulis resep berhasil, sesudah itu jika memungkinkan apoteker harus mengusahakan supaya kuantitas, kekuatan yang dapat digunakan, dan dosis dapat disisipkan/disusulkan oleh penulis resep pada resep yang tidak lengkap tersebut.
  3. Selanjutnya, meskipun dokter penulis resep telah berhasil dihubungi, perlu didokumentasikan secara tertulis pada resep bahwa dokter sudah dihubungi dan tambahkan informasi mengenai kuantitas dan kekuatan yang dapat digunakan dari sediaan yang tersedia, dan dosis sesuai indikasi. Catatan tersebut sebaiknya diberi nama dan tanggal oleh apoteker.
  4. Apabila dokter penulis resep tidak dapat dihubungi dan atau apoteker ragu-ragu dalam mengambil keputusan, resep yang tidak lengkap tersebut sebaiknya dikirimkan kembali kepada dokter penulis resep.

Eksipien/Bahan Tambahan

Bahan resmi, yang dibedakan dari sediaan resmi, tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan, kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan, pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tambahan tersebut. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi atau dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia, bahan-bahan yang diperlukan seperti bahan dasar, penyalut, pewarna, penyedap, pengawet, pemantap dan pembawa dapat ditambahkan ke dalam sediaan resmi untuk meningkatkan stabilitas, manfaat atau penampilan maupun untuk memudahkan pembuatan. Bahan tambahan tersebut dianggap tidak sesuai dan dilarang digunakan, kecuali (a) bahan tersebut tidak membahayakan dalam jumlah yang digunakan, (b) tidak melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk memberikan efek yang diharapkan, (c) tidak mengurangi ketersediaan hayati, efek terapi atau keamanan dari sediaan resmi, (d) tidak mengganggu dalam pengujian dan penetapan kadar.

Udara dalam wadah sediaan resmi dapat dikeluarkan atau diganti dengan karbondioksida, helium, nitrogen atau gas lain yang sesuai. Gas tersebut harus dinyatakan pada etiket, kecuali dinyatakan lain dalam monografi.

Sediaan yang dibuat baru

Suatu produk sebaiknya hanya dibuat baru apabila tidak ada produk tersebut yang beredar di pasaran.

British Pharmacopoeia (BP) mengatur bahwa sediaan yang harus dibuat segar berarti bahwa sediaan tersebut harus dibuat tidak lebih dari 24 jam sebelum sediaan tersebut digunakan. Tujuan pengaturan agar suatu sediaan sebaiknya dibuat baru menunjukkan bahwa perubahan/peruraian cenderung terjadi apabila sediaan tersebut disimpan selama lebih dari 4 minggu pada temperatur 15-250C.

Kata air tanpa keterangan lain berarti merupakan air yang direbus dan air purifikasi yang didinginkan.

Keamanan di rumah

Pasien harus diingatkan untuk menyimpan semua obat jauh dari jangkauan anak-anak. Semua sediaan padat, cair oral dan eksternal harus diserahkan dalam wadah yang dapat ditutup yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak kecuali jika:

  • Kemasan asli obat tidak memungkinkan hal ini
  • Pasien akan mengalami kesulitan dalam membuka kemasan yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak
  • Adanya permintaan khusus supaya sediaan tersebut tidak diserahkan dalam kemasan yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak
  • Tidak tersedia kemasan yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak khususnya untuk sediaan cair
  • Semua pasien sebaiknya disarankan untuk membuang obat yang sudah tidak terpakai.

Produk Komplemen

Dewasa ini, informasi mengenai obat herbal atau produk komplemen telah semakin banyak ditemui. Namun, IONI hanya menyajikan informasi mengenai produk yang dikategorikan sebagai obat. Referensi mengenai obat herbal atau produk komplemen beserta interaksi obat herbal dengan obat dari bahan kimia antara lain dapat dilihat pada Buku Informatorium Suplemen Makanan–Badan POM.

Obat dan Pengaruhnya Terhadap Kewaspadaan Saat Menjalankan Mesin

Tenaga kesehatan harus memberi informasi kepada pasien jika terapi yang diberikan dapat mempengaruhi kemampuan dalam mengendarai kendaraan bermotor. Pasien harus diberi informasi bahwa selama minum obat seperti golongan sedatif, jangan menjalankan mesin atau mengendarai kendaraan bermotor. Efek obat golongan sedatif dapat meningkat dengan adanya alkohol, karena itu hindari minum obat ini bersama-sama dengan alkohol.

Nama Obat

Nama obat harus muncul pada etiket kecuali dokter menginstruksikan hal lain.

  1. Kekuatan obat harus dinyatakan dalam kemasan/etiket, jika sediaan (bentuk tablet, kapsul atau bentuk sediaan lain) memiliki berbagai kekuatan yang berbeda.
  2. Jika dokter menginginkan ada keterangan seperti misalnya “tablet sedatif” pada etiket obat, dokter harus menuliskannya pada resep
  3. Nama obat dapat tidak ditulis jika terdapat beberapa kandungan obat (merupakan kombinasi)
  4. Nama obat yang ditulis pada etiket harus sama dengan nama obat yang tertulis pada resep

Menjaga Keamanan dan Keabsahan Resep

Untuk menjamin validitas resep dan tidak disalahgunakan, disarankan agar:

  • tidak meninggalkan blanko resep di meja praktek tanpa pengawasan
  • tidak meninggalkan blanko resep di dalam mobil dan tampak dari luar
  • jika tidak digunakan, sebaiknya blanko resep disimpan dalam tempat yang terkunci.

Jika terdapat keraguan terhadap keabsahan suatu resep, apoteker harus menghubungi dokter penulis resep.

Keamanan dan Kesehatan

Dalam menangani zat kimia atau biologi yang memerlukan perhatian, agar diwaspadai adanya kemungkinan reaksi alergi, memicu api atau ledakan, menimbulkan radiasi atau keracunan. Senyawa-senyawa, seperti kortikosteroid, beberapa antimikroba, fenotiazin, dan sitotoksik bersifat iritan (menimbulkan iritasi) dan sangat poten sehingga harus ditangani dengan hati-hati. Hindari paparan pada kulit atau terhisap serbuknya.

Penggunaan Obat Rasional

Proses farmakoterapi
Pada waktu pasien berhadapan dengan dokter, seharusnya dilakukan proses konsultasi secara lengkap untuk menentukan atau memperkirakan diagnosis dan memberikan tindakan terapi setepat mungkin. Kerangka konsep proses konsultasi medis secara lengkap mencakup proses berikut ini:

  • Penggalian riwayat penyakit atau anamnesis. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari informasi mengenai gejala dan riwayat penyakit.
  • Pemeriksaan pasien. Pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pada beberapa keadaan mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan, misalnya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis dan sebagainya, untuk mendukung penegakan diagnosis penyakit.
  • Penegakan diagnosis. Berdasarkan gejala dan tanda-tanda serta hasil pemeriksaan, diagnosis penyakit ditegakkan. Diagnosis pasti tidak selalu dapat ditegakkan secara langsung, sehingga diperlukan perawatan atau pengobatan yang bersifat sementara sebelum diagnosis pasti ditegakkan.
  • Pemberian terapi. Terapi dapat dilakukan dengan obat (farmakoterapi), bukan obat, atau kombinasi keduanya. Tergantung pada penyakit atau masalah yang diderita oleh pasien, terapi yang diperlukan mungkin istirahat total, fisioterapi, terapi bedah, pemberian nutrisi, dan sebagainya. Jika diperlukan terapi obat, maka dipilih obat yang secara ilmiah telah terbukti paling bermanfaat untuk kondisi penyakitnya, paling aman dan paling ekonomis serta paling sesuai untuk pasien.
  • Pemberian informasi. Pasien atau keluarganya perlu diberi penjelasan mengenai penyakit yang dideritanya serta terapi yang diperlukan. Penjelasan ini akan meningkatkan kepercayaan dan ketaatan pasien dalam menjalani pengobatan.

Karena proses konsultasi medis antara dokter dan pasien ini telah menjadi proses yang rutin, seringkali hal ini justru kurang banyak diperhatikan dalam kenyataan praktek klinis. Para dokter perlu diingatkan kembali akan pentingnya proses-proses ini sebelum memutuskan untuk memberikan obat.

Prinsip farmakoterapi rasional
Agar tercapai tujuan pengobatan yang efektif, aman, dan ekonomis, maka pemberian obat harus memenuhi prinsip-prinsip farmakoterapi sebagai berikut:

  • Indikasi tepat.
  • Penilaian kondisi pasien tepat.
  • Pemilihan obat tepat, yakni obat yang efektif, aman, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi pasien.
  • Dosis dan cara pemberian obat secara tepat.
  • Informasi untuk pasien secara tepat.
  • Evaluasi dan tindak lanjut dilakukan secara tepat.

Komunikasi antara dokter dengan pasien
Komunikasi antara dokter dengan pasien memegang peran penting dalam farmakoterapi. Mengenai komunikasi ini pasien akan memperoleh pengertian mengenai penyakit yang dideritanya, tindakan pengobatan, obat yang diperlukan dan bagaimana menggunakannya. Hal ini akan membantu meningkatkan ketaatan pasien dalam menggunakan obat secara benar. Sayangnya komunikasi antara dokter dan pasiennya di unit-unit pelayanan kesehatan di Indonesia relatif masih belum memadai. Di Puskesmas misalnya, kontak antara pasien dengan dokter hanya berkisar rata-rata 3 menit, tidak cukup untuk memberikan informasi secara lengkap kepada pasien. Saat ini, pasien mempunyai hak untuk mengetahui penyakit yang dideritanya dan pengobatan yang akan diberikan kepadanya. Lebih dari itu, di banyak sistem pelayanan pasien juga berhak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan yang akan diterima, sesudah menerima penjelasan secara rinci tentang manfaat dan risiko yang akan terjadi. Jelas bahwa dokter mempunyai kewajiban profesional untuk memberikan penjelasan kepada pasiennya dengan pola komunikasi dua arah. Unsur-unsur informasi yang perlu dikomunikasikan kepada pasien atau keluarganya seharusnya mencakup hal-hal berikut:

  • Informasi tentang penyakit. Ini mencakup informasi tentang penyebab, perjalanan penyakit, kemungkinan komplikasi, dan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk pencegahan dan penyembuhannya.
  • Informasi tentang penanganan penyakit Informasi mengenai penanganan penyakit tanpa obat atau dengan obat, tujuan penanganan, manfaat dan risiko masing- masing alternatif terapi.
  • Informasi tentang obat. Informasi ini mencakup jenis obatnya, manfaat klinik dan efek terapi yang akan dirasakan, kemungkinan risiko efek samping dan gejalanya, dosis dan cara penggunaannya. Pasien perlu diberi motivasi untuk menggunakan obat secara benar.
  • Pesan untuk meningkatkan kepercayaan pasien. Penting untuk memberikan pesan yang bersifat membangkitkan kepercayaan, agar pasien mantap dan percaya diri mengenai proses penyembuhannya. Pesan ini harus diberikan secara memadai sesuai dengan kondisi penyakit dan keadaan pasien dan lingkungannya.
  • Informasi mengenai tindaklanjut. Informasi mengenai tindak lanjut, misalnya pemeriksaan tambahan apa yang diperlukan, kapan harus diperiksa kembali (kontrol), dan apa yang perlu dilakukan jika muncul gejala yang tidak diinginkan.

Dalam konsep pelayanan kesehatan modern saat ini, pasien bukan lagi dianggap sebagai obyek keputusan terapi, tetapi juga subyek yang berhak untuk mengetahui serta ikut memutuskan alternatif apa yang akan diberikan.

Penulisan Resep
Resep merupakan dokumen legal yang digunakan sebagai sarana komunikasi secara profesional dari dokter kepada penyedia obat, agar penyedia obat memberikan obat kepada pasien sesuai dengan kebutuhan medis yang telah ditentukan oleh dokter.

Resep harus ditulis secara jelas dan mudah dimengerti. Harus dihindari penulisan resep yang menimbulkan ketidakjelasan, keraguan, atau salah pengertian mengenai nama obat serta takaran yang harus diberikan. Menulis resep secara tidak jelas seperti yang sering terjadi saat ini, merupakan kebiasaan yang tidak benar.

Resep harus memuat unsur-unsur informasi mengenai pasien, pengobatan yang diberikan dan nama dokter yang menulis resep. Informasi tentang pasien mencakup nama, jenis kelamin, dan umur. Di beberapa unit pelayanan kesehatan di negara-negara tertentu, diagnosis juga sering ditulis dalam resep. Ini memungkinkan dilakukan pengecekan ulang terhadap jenis obat yang ditulis oleh dokter pada saat pemberi obat menyediakan obatnya. Informasi tentang obat mencakup nama obat (seyogyanya nama generik, kecuali kalau memang benar-benar diperlukan nama dagang), bentuk sediaan dan kekuatan sediaan, cara dan aturan penggunaan, serta jumlah satuan yang diinginkan. Informasi mengenai dokter mencakup nama dokter, alamat, keahlian, nomor ijin dokter atau ijin praktek. Beberapa pesan khusus bila perlu ditulis secara jelas, misalnya diminum berapa jam sebelum makan, diminum pada saat perut kosong dan sebagainya. Resep harus memuat tanda tangan dokter secara resmi.

Pendidikan Berkelanjutan
Pendidikan berkelanjutan berperan penting dalam mengikuti kemajuan-kemajuan mutakhir di bidang farmakoterapi, terutama jika dikaitkan dengan prinsip kedokteran berdasarkan bukti (evidence based medicine). Kemajuan farmakoterapi dan penemuan obat-obat baru sedemikian pesatnya, sehingga dokter harus selalu mengikuti kemajuan-kemajuan ini agar dapat menelaah serta memilih secara kritis, obat yang layak digunakan dalam praktek.

Adalah sikap yang keliru untuk menerapkan begitu saja suatu obat yang baru tanpa menelaah dan membandingkannya dengan pilihan utama yang sudah ada, dalam hal manfaat klinis, keamanan, biaya dan kesesuaian dengan situasi dan kondisi pasien yang harus menggunakan obat.

Para dokter juga harus dapat menelaah dan memilih alternatif sumber informasi maupun media (misalnya kegiatan ilmiah) yang akan diikuti untuk pendidikan berkelanjutan. Banyak media ilmiah yang sebenarnya merupakan ajang promosi obat baru, namun dikemas sedemikian rupa sehingga pesannya tersamarkan. Organisasi-organisasi profesi sering menyelenggarakan kegiatan pendidikan berkelanjutan, tetapi sayangnya juga seringkali tidak dapat lepas dari beban promosi obat baru.

Dalam perkembangan pelayanan kedokteran di tingkat global ini, perlu dikembangkan suatu mekanisme atau sistem pendidikan berkelanjutan yang benar-benar terakreditasi, bebas dari pesan-pesan promosi produk teknologi kedokteran dan obat.

Penyerahan Obat ke Pasien
Penyerahan obat ke pasien oleh penyedia obat (dalam hal ini apoteker atau asisten apoteker) berperan penting dalam upaya agar pasien mengerti dan menggunakan obat secara benar seperti yang dianjurkan. Kekeliruan dalam penyediaan obat dan penyerahan obat ke pasien sering mengakibatkan kerugian bagi pasien. Apoteker atau tenaga kesehatan lain yang bertugas dalam penyediaan dan penyerahan obat adalah orang terakhir yang berhubungan dengan pasien atau keluarganya, sebelum obat digunakan. Oleh karena itu penting untuk selalu mengingat dan mengikuti proses penyediaan dan penyerahan obat secara benar (Good Dispensing Practice). Proses penyediaan dan penyerahan obat ke pasien mencakup kegiatan-kegiatan berikut:

  • Membaca dan mengerti isi resep. Perlu diteliti keabsahan resep, asal resep, nama obat, bentuk dan kekuatan sediaan, dosis dan cara penggunaannya. Jika ada keraguan, konsultasikan dengan kolega lain atau tanyakan kepada dokter pembuat resep.
  • Menyediakan obat secara benar. Teliti ketersediaan obat, waktu kadaluwarsa, serta cermati bentuk dan kekuatan sediaan.
  • Menentukan jumlah obat. Menghitung jumlah tablet atau kapsul harus dilakukan dalam cawan yang bersih. Pengukuran sediaan cair harus memakai alat pengukur yang bersih, misalnya gelas ukur.
  • Mengemas dan memberi etiket. Obat harus diserahkan ke pasien dengan kemasan dan etiket berisi informasi yang lengkap dan tepat. Kemasan yang baik akan memberikan kesan yang baik terhadap pelayanan yang diberikan. Informasi yang jelas dan lengkap akan menghindari kekeliruan penggunaan. Informasi pada etiket harus lengkap memuat nama obat, bentuk dan kekuatan sediaan, dosis serta frekuensi dan cara penggunaan. Nama pasien, tanggal serta identitas dan alamat apotik harus jelas. Nama obat sebaiknya tidak ditutup dengan etiket yang diberikan oleh apotik, karena konsumen berhak atas informasi obat yang dikonsumsinya.
  • Menyerahkan obat dan memberikan informasi. Pada waktu menyerahkan obat ke pasien atau keluarganya, informasi yang lengkap mengenai nama obat, kegunaan, efek yang diinginkan, efek yang tidak diinginkan yang harus diwaspadai dan bagaimana menghadapinya, dan juga efek yang tidak diinginkan namun tidak berbahaya, hal-hal yang harusdiperhatikan serta cara penggunaan obat harus diberikan. Informasi mengenai obat ini sebaiknya diberikan melalui proses konsultasi obat pada konsumen, yang memungkinkan adanya komunikasi dua arah antara apoteker dan konsumen. Pada akhir proses konsultasi ini, harus diyakini betul bahwa pasien menjadi tahu dan mengerti terhadap semua informasi obat yang akan dikonsumsinya. Hal ini akan meningkatkan kepatuhan pasien untuk mengikuti anjuran pengobatan.

Interaksi Obat
Interaksi obat adalah peristiwa di mana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan. Efek obat dapat bertambah kuat atau berkurang karena interaksi ini. Akibat yang tidak dikehendaki dari peristiwa interaksi ini ada dua kemungkinan yakni meningkatnya efek toksik atau efek samping obat atau berkurangnya efek klinis yang diharapkan. Mekanisme interaksi dapat dibagi menjadi:

  • Interaksi farmasetik
  • Interaksi farmakokinetik, dan
  • Interaksi farmakodinamik.

Interaksi farmasetik terjadi jika antara dua obat yang diberikan bersamaan tersebut terjadi inkompabilitas atau terjadi reaksi langsung, yang umumnya di luar tubuh dan berakibat berubahnya atau hilangnya efek farmakologis obat yang diberikan. Sebagai contoh, pencampuran penisilin dan aminoglikosida akan menyebabkan hilangnya efek farmakologik yang diharapkan.

Interaksi farmakokinetik terjadi jika perubahan efek obat terjadi dalam proses absorpsi, dis tribusi obat dalam tubuh, metabolisme, atau dalam proses ekskresi di ginjal. Interaksi dalam proses absorpsi terjadi jika absorpsi suatu obat dipengaruhi oleh obat lain. Misalnya, absorpsi tetrasiklin berkurang bila diberikan bersamaan dengan logam berat seperti kalsium, besi, magnesium atau aluminium, karena terjadi ikatan langsung antara molekul tetrasiklin dan logam-logam tersebut sehingga tidak dapat diabsorpsi. Interaksi dalam proses distribusi terjadi terutama bila obat-obat dengan ikatan protein yang lebih kuat menggusur obat-obat lain dengan ikatan protein yang lebih lemah dari tempat ikatannya pada protein plasma. Akibatnya kadar obat bebas yang tergusur ini akan lebih tinggi pada darah dengan segala konsekuensinya, terutama terjadinya peningkatan efek toksik. Sebagai contoh, peningkatan efek toksik antikoagulan warfarin atau obat hipoglikemik (tolbutamid, klorpropamid) karena pemberian bersama dengan fenilbutason, sulfa atau asetosal. Interaksi dalam proses metabolisme terjadi kalau metabolisme suatu obat dipacu atau dihambat oleh obat lain. Ini akan mengakibatkan menurunnya atau meningkatnya kadar obat, dengan segala akibatnya. Obat-obat yang dikenal luas, sebagai pemacu metabolisme (enzyme inducer) termasuk rifampisin dan obat-obat antiepilepsi. Sedangkan obat yang dikenal sebagai penghambat metabolisme (enzyme inhibitor) misalnya simetidin, INH dan eritromisin. Obat-obat yang mengalami metabolisme di hati dapat dipengaruhi oleh obat-obat ini. Kasus kegagalan kontrasepsi sering dilaporkan pada pasien-pasien yang menggunakan kontrasepsi steroid dan pada saat bersamaan menjalani pengobatan dengan rifampisin, oleh karena menurunnya kadar steroid dalam darah. Interaksi dalam proses ekskresi terjadi kalau ekskresi suatu obat (melalui ginjal) dipengaruhi oleh obat lain. Contoh yang populer adalah penghambatan ekskresi penisilin oleh probenesid, berakibat meningkatnya kadar antibiotik dalam darah. Interaksi ini justru dimanfaatkan untuk meningkatkan kadar penisilin dalam darah.

Interaksi farmakodinamik terjadi di tingkat reseptor dan mengakibatkan berubahnya efek salah satu obat, yang bersifat sinergis bila efeknya menguatkan, atau antagonis bila efeknya saling mengurangi. Sebagai contoh adalah meningkatnya efek toksik glikosida jantung pada keadaan hipokalemia. Dokter harus selalu waspada terhadap kemungkinan interaksi jika memberikan dua obat atau lebih bersamaan apapun mekanismenya. Daftar interaksi yang bermakna secara klinis dapat dilihat pada Lampiran 1.

Obat untuk Penggunaan Khusus
(Special Access Scheme / SAS)
Pemasukan obat jalur khusus merupakan mekanisme pemasukan obat dalam jumlah terbatas untuk penggunaan terapi khusus yang dibutuhkan pasien, yang berdasarkan justifikasi ilmiah Dokter Penanggung Jawab, pasien menderita penyakit mengancam jiwa atau serius dan membutuhkan obat tersebut. Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1379.A/Menkes/SK/XI/2002 tentang Pengelolaan dan Penggunaan Obat, Alat dan Makanan Kesehatan Khusus, yang dimaksud dengan obat, alat dan makanan kesehatan khusus adalah obat, alat dan makanan kesehatan yang belum mempunyai persetujuan izin edar di Indonesia namun dibutuhkan pasien berdasarkan justifikasi dokter.

Permohonan pemasukan obat penggunaan khusus berdasarkan justifikasi dokter untuk penggunaan pribadi dan keperluan donasi, dapat dilakukan oleh importir berdasarkan permintaan Dokter Penanggung Jawab. Permohonan pemasukannya diajukan ke Direktur Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan RI Berdasarkan pertimbangan bahwa obat untuk uji klinik merupakan satu kesatuan dalam konsep quality system uji klinik, obat penggunaan khusus yang tujuan penggunaanya untuk uji klinik dan pengembangan produk berkaitan dengan registrasi obat maka permohonannya diajukan ke Badan POM.

Narkotika dan Psikotropika
Narkotika dan psikotropika di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Peresepan obat golongan ini harus diberi tanda tangan, tanggal pemberian dan alamat penulis resep obat (prescriber). Resep harus ditulis dengan tulisan tangan oleh dokter, yang mencantumkan: nama dan alamat pasien, bentuk dan kekuatan obat yang diberikan, total jumlah preparat atau jumlah unit dosis. Interval waktu pemberian harus dijelaskan, dan tidak diperbolehkan penggunaan resep berulang.

Berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, obat yang termasuk narkotika golongan I adalah tanaman Papaver somniferum L, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), tanaman koka, daun koka, kokain mentah, kokaina, tanaman ganja, tetrahidrocannabinol, delta-9-tetrahydro-cannabinol, asetorfina, acetil-alfa-metilfentanil, alfa-metilfentanil, alfa-metiltiofentanil, beta-hidroksifentanil, beta-hidroksi-3-metilfentanil, desomorfina, etorfina, heroina, ketobemidona, 3-metilfentanil, 3- metiltiofentanil, MPPP, para-fluorofentanil, PEPAP, tiofentanil, brolamfetamina (DOB), DET, DMA, DMHP, DMT, DOET, etisiklidina (PCE), etriptamina, katinona, (+)-lisergida (LSD, LSD-25), MDMA, meskalina, metkatinona, 4-metilaminoreks, MMDA, N-etil MDA, N-hidroksi MDA, paraheksil, PMA, psilosina, psilotsin, psilosibina, rolisiklidina (PHP, PCPY), STP, DOM, tenamfetamina (MDA), tenosiklidina (TCP), TMA, amfetamina, deksamfetamina, fenetilina, fenmetrazina, fensiklidina (PCP), levamfetamina, levometamfetamina, meklokualon, metamfetamina, metakualon, zipepprol, Opium obat, campuran atau sediaan opium obat dengan bahan lain bukan narkotika.

Narkotika golongan II adalah Afasetilmetadol, Alfameprodina, Alfametadol, Alfaprodina, Alfentanil, Alilprodina, Anileridina, Benzetidin, Benzilmorfina, Betameprodina, Betametadol, Betaprodina, Betasetilmetadol, Bezitramida, Dekstramoramida, Diampromida, Dietiltiambutena, Difenoksilat, Difenoksin, Dihidromorfina, Dimetheptanol, Dimenoksadol, Dimetiltiambutena, Dioksafetil butirat, Dipipanona, Drotebanol, Ekgonina, termasuk ester dan derivatnya yang setara dengan ekgonina dan kokaina,

Etilmetiltiambutena, Etokseridina, Etonitazena, Furetidina, Hidrokodona, Hidroksipetidina, Hidromorfinol, Hidromorfona, Isometadona, Fenadoksona, Fenampromida, Fenazosina, Fenomorfan, Fenoperidina, Fentanil, Klonitazena, Kodoksima, Levofenasilmorfan, Levomoramida, Levometorfan, Levorfanol, Metadona, Metadona intermediate, Metazosina, Metildesorfina, Metildihidromorfina, Metopon, Mirofina, Moramida intermediate, Morferidina, Morfina-N-oksida, Morfin metabromida dan turunan morfina nitrogen pentafalent lainnya, termasuk bagian turunan Morfina-N-oksida, salah satunya Kodeina-N-oksida, Morfina Nikomorfina, Norasimetadol, Norlevorfanol, Normetadona, Normorfina, Norpipanona, Oksikodon, Oksimorfona, Petidina intermediat A, Petidina intermediat B, Petidina intermediat C, Petidina, Piminodin, Piritramida, Proheptasina, Properidina, Rasemetorfan, Rasemoramida, Rasemorfan, Sufentanil, Tebaina, Tebakon, Tilidina, Trimeperidina, bentuk garam dari narkotika yang telah disebutkan tadi. Narkotika golongan III adalah asetildihidrokodeina, dekstropropoksifena, dihidrokodeina, etilmorfina, kodeina, nikodikodina, nikokodina, norkodeina, polkodina, propiram, buprenorfina, garam-garam dari narkotika dalam golongan tersebut di atas, campuran atau sediaan difenoksin dengan bahan lain bukan narkotika, campuran atau sediaan difenoksilat dengan bahan lain bukan narkotika.

Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, obat-obat yang termasuk golongan psikotropika golongan I adalah brolamfetamina, etisiklidina, etriptamina, katinon, (+)-lisergida, metkatinon, psikosibina, rolisiklidina, tenamfetamina, tenosiklidina. Psikotropika golongan II adalah amfetamina, deksamfetamina, fenetilina, fenmetrazina, fensiklidina, levamfetamina, meklokualon, metamfetamina, metakualon, metilfenidat, sekobarbital, zipepprol. Psikotropika golongan III adalah amobarbital, buprenorfina, butalbital, glutetimida, katina, pentazosina, pentobarbital, siklobarbital. Psikotropika golongan IV adalah allobarbital, alprazolam, amfepramona, aminorex, barbital, benzfetamina, bromazepam, brotizolam, delorazepam, diazepam, estazolam, etil amfetamina, etil loflazepate, etinamat, etklorvinol, fencamfamina, fendimetrazina, fenobarbital, fenproporeks, fentermina, fludiazepam, flurazepam, halazepam, haloksazolam, kamazepam, ketazolam, klobazam, kloksazolam, klonazepam, klorazepat, klordiazepoksida, klotiazepam, lefetamina, loprazolam, lorazepam, lo rmetazepam, mazindol, medazepam, mefenoreks, meprobamat, mesokarb, metilfenobarbital, metiprilon, midazolam, nimetazepam, nitrazepam, nordazepam, oksazepam, oksazolam, pemolina, pinazepam, pipradol, pirovalerona, prazepam, sekbutabarbital, temazepam, tetrazepam, triazolam, vinilbital.

Selain narkotika dan psikotropika, prekursor dan alat-alat yang potensial dapat disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana narkotika ditetapkan sebagai barang di bawah pengawasan Pemerintah.

Reaksi Obat yang Merugikan
Pada beberapa obat dapat terjadi reaksi yang tidak diinginkan. Dokter dan apoteker sangat perlu mendeteksi dan mencatat terjadinya reaksi ini. Kecurigaan adanya reaksi silang pada bahan terapetik tertentu harus dilaporkan, meliputi obat (baik obat self medication maupun diresepkan), produk darah, vaksin, media kontras, X-ray, material gigi atau bedak, alat-alat intrauterin, produk herbal, dan cairan lensa kontak. Pelaporan ini mencakup semua reaksi serius yang dicurigai, baik yang berakibat fatal, mengancam nyawa, menyebabkan ketidakmampuan, menurunkan kapasitas hidup, ataupun memperlama perawatan di rumah sakit.

Obat-Obat dan Vaksin yang Tersedia
Dokter, dokter gigi, coroners (penyidik penyebab kematian), apoteker dan perawat diminta untuk melaporkan semua reaksi serius yang dicurigai termasuk yang fatal, mengancam nyawa, melumpuhkan, atau mengakibatkan perpanjangan perawatan. Mereka harus melaporkan meskipun efek sudah dikenal dengan baik. Contoh meliputi: anafilaksis, gangguan darah, gangguan endokrin, efek terhadap kesuburan, pedarahan, kerusakan ginjal, jaundice, kerusakan mata, efek pada sistim saraf pusat yang berat, reaksi pada kulit yang parah, reaksi terhadap wanita hamil, dan interaksi obat lainnya.

Laporan efek samping yang serius diperlukan untuk membandingkan suatu obat dengan obat lain dalam kelas terapi yang sama. Laporan overdosis (sengaja atau tidak sengaja) dapat mempersulit penilaian dari efek samping obat yang tidak diinginkan, tetapi merupakan informasi penting pada potensi toksik dari obat.

Untuk obat yang profil keamanannya sudah diketahui dengan baik tidak perlu dilaporkan, efek samping yang bahayanya relatif kecil seperti mulut kering dengan anti depresan trisiklik atau konstipasi dengan opioid tidak perlu dimasukan dalam pelaporan.

Masalah Khusus
Efek obat yang tertunda.
Beberapa reaksi (misalnya kanker, retinopati klorokuin, dan fibrosis retroperitoneal) terjadi/muncul beberapa bulan atau tahun setelah pemberian. Bila ada kecurigaan harus dilaporkan. Pada lansia, dokter perlu mengawasi terjadinya reaksi ini karena risikonya lebih besar.

Jika bayi lahir dengan abnormalitas kongenital atau pada kasus abortus dengan malformasi, dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan sebagai reaksi obat dan perlu mencatat seluruh riwayat pengobatan selama hamil termasuk self medication.

Untuk anak diperlukan pemantauan khusus untuk mengidentifikasi dan melaporkan reaksi yang tidak diinginkan, termasuk yang disebabkan oleh penggunaan obat-obat yang tidak disetujui (off-label); semua reaksi yang dicurigai harus dilaporkan.

Pencegahan terjadinya reaksi yang tidak diinginkan ini meliputi:

  • Jangan gunakan obat jika indikasinya tidak jelas. Jika pasien dalam kondisi hamil, jangan gunakan obat kecuali benar-benar dibutuhkan.
  • Alergi dan idiosinkrasi merupakan sebab penting terjadinya reaksi ini. Pasien perlu ditanyakan adanya riwayat reaksi sebelumnya.
  • Tanyakan pada pasien apakah sedang mengkonsumsi obat lain, termasuk self medication, karena bisa terjadi interaksi obat.
  • Umur dan penyakit hati atau renal memperlambat metabolisme dan eksresi sehingga dibutuhkan dosis yang lebih kecil. Faktor genetik juga mungkin terkait dengan variasi kecepatan metabolisme, khususnya isoniazid dan anti depresan.
  • Resepkan obat sesedikit mungkin dan beri petunjuk yang jelas, terutama pada lanjut usia dan pasien yang nampaknya sulit mengerti instruksi yang diberikan.
  • Jika mungkin gunakan obat-obat yang sudah dikenal. Jika menggunakan obat baru, harus diperingatkan terhadap efek samping atau kejadian yang tidak diharapkan.
  • Jika kemungkinan terjadinya reaksi pada pasien cukup serius perlu untuk memperingatkan pasien.

Pemantauan keamanan penggunaan obat dilakukan melalui program Monitoring Efek Samping Obat (MESO) karena beberapa jenis efek samping yang tidak terdeteksi pada tahap pengembangan obat dapat timbul setelah penggunaan obat secara luas pada jangka waktu lama. Di Indonesia, Program MESO

dimulai sejak tahun 1975, dan dicanangkan pada tahun 1981. Tujuan utama program MESO Nasional ini adalah mendeteksi sedini mungkin setiap kemungkinan timbulnya efek obat yang tidak diinginkan yang terjadi di Indonesia, untuk mencegah kejadian efek samping serupa secara luas. Dengan pelaksanaan MESO diharapkan akan diperoleh informasi baru mengenai efek samping obat (ESO), tingkat kegawatan serta frekuensi kejadiannya, sehingga dapat segera dilakukan tindak lanjut yang diperlukan.

Dalam program MESO Nasional, digunakan pelaporan secara sukarela (voluntary reporting). Pemilihan metode ini karena merupakan sistem yang relatif sedikit membutuhkan biaya dan bila terlaksana dengan baik cukup efektif untuk pengumpulan laporan ESO dari profesi kesehatan. Keuntungan lain dari sistem ini adalah kemungkinan dapat menemukan ESO yang jarang terjadi, fatal atau gawat. Disamping itu kualitas laporan ESO cukup objektif karena tidak dikaitkan dengan suatu kewajiban atau biaya. Namun kelemahan sistem pelaporan secara sukarela ini adalah bergantung pada peran aktif dokter, dokter gigi, apoteker dan tenaga kesehatan lain, dan tenaga kesehatan tersebut di Rumah Sakit pada khususnya sebagai sumber yang potensial dalam pelaporan ESO.

Secara fungsional pusat MESO Nasional berada di Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

Untuk pelaksanaan MESO, dibentuk Panitia MESO Nasional yang bertugas untuk menilai laporan ESO yang diterima, menganalisis data hasil evaluasi, dan memberikan rekomendasi tindak lanjut yang perlu dilakukan. Dalam penyelenggaraan MESO, Pusat MESO Nasional bekerjasama dengan WHO Collaborating Center for International Drug Monitoring. Dalam kerjasama ini, Pusat MESO Nasional secara teratur menerima informasi mengenai MESO dari WHO dan juga memberikan masukan kepada WHO. Formulir laporan MESO tersedia di Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan

PKRT, Badan Pengawas Obat dan Makanan. Selain MESO, Badan POM juga memonitor efek samping obat tradisional; efek samping suplemen makanan dan efek samping kosmetik dengan menggunakan Formulir Monitoring Efek Samping Obat Tradisional MESOT), Formulir Monitoring Efek Samping Suplemen Makanan (MESOSM) dan Formulir Monitoring Efek Samping Kosmetik (MESK)

Formulir laporan monitoring kategori produk tersebut di atas dapat diperoleh Direktorat Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Kosmetik, Badan Pengawas Obat dan Makanan

Efek Samping Obat Pada Mulut
Kelainan pada mulut yang diinduksi obat mungkin disebabkan oleh tindakan lokal pada mulut atau efek sistemik yang dapat menyebabkan perubahan pada mulut. Untuk efek sistemik tersebut, rujukan segera ke dokter mungkin diperlukan.

Mukosa mulut
Sisa obat yang tertinggal dengan atau diaplikasikan langsung pada mukosa mulut terutama dapat menyebabkan inflamasi atau ulserasi; perlu juga diingat kemungkinan terjadi alergi.

Tablet asetosal diijinkan untuk dilarutkan dalam sulkus untuk mengatasi sakit gigi dapat membuat titik putih yang kemudian menjadi ulkus.

Zat tambahan, terutama minyak-minyak esensial, dapat menyebabkan kulit sensitif, tetapi pembengkakan mukosa yang terjadi biasanya tidak terlalu nyata.

Pasien yang diberi obat sitotoksik mudah sekali terserang ulkus terutama pada mukosa oral, misalnya metotreksat. Obat-obat lain yang menyebabkan ulkus meliputi emas, nikorandil, AINS, pankreatin, penisilamin, dan proguanil. Kaptopril (dan penghambat ACE lainnya) dapat menyebabkan stomatitis.

Berbagai bentuk eritema (termasuk sindrom Steven-Johnson) dapat terjadi setelah penggunaan bermacam-macam obat, seperti

antibakteri, golongan sulfonamid, dan antikonvulsan; mukosa mulut dapat terjadi ulserasi yang meluas, dengan lesi pada kulit dengan karakter khusus. Lesi mulut pada toxic epidermal necrolysis (Lyell’s sindrom) telah dilaporkan terjadi pada obat-obat. Erupsi lisenoid dikaitkan dengan penggunaan AINS, metildopa, klorokuin, antidiabetik oral, diuretik tiazid, dan emas.

Kandidiasis dapat memperburuk pengobatan dengan antibakteri dan immunosuppresan dan merupakan efek samping kadang terjadi pada pemberian kortikosteroid inhaler.

Gigi dan Rahang
Noda coklat pada gigi sering terjadi setelah penggunaan obat cuci mulut klorheksidin, semprot atau gel, tetapi dengan mudah dihilangkan dengan polishing. Larutan garam besi dapat menyebabkan pewarnaan hitam pada email gigi. Pewarnaan permukaan gigi dilaporkan jarang pada penggunaan suspensi co-amoksiklav.

Pewarnaan yang menetap pada gigi umumnya disebabkan oleh tetrasiklin. Tetrasiklin mempengaruhi gigi jika diberikan pada saat sekitar 4 bulan dalam kandungan sampai usia 12 tahun. Semua tetrasiklin dapat menyebabkan noda yang menetap, pewarnaan yang mengganggu penampilan, warna berkisar dari kuning hingga abu-abu. Fluor yang tertelan dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan florosis dental yang disertai bintik putih pada enamel dan hipoplasia atau lubang. Suplementasi fluor kadang dapat menyebabkan bintik putih ringan jika diberikan dosis yang terlalu besar pada usia anak. Perhitungkan juga jumlah fluor yang terkandung dalam air minum. Ostenonekrosis pada rahang telah dilaporkan pada pasien yang mendapat bisfosfonat secara intravena, tetapi jarang bila digunakan dengan cara oral. Pada pembedahan gigi selama dan sesudah pengobatan, jika mungkin bifosfonat harus dihindari. Lihat juga bab tentang bifosfonat.

Periodontium
Pertumbuhan gingival yang terlalu cepat (gingival hyperplasia) merupakan efek samping dari fenitoin dan kadang-kadang akibat siklosporin atau nifedipin (dan beberapa antagonis kalsium lain). Trombositopenia mungkin berkaitan dengan obat dan dapat menyebabkan perdarahan pada daerah gusi, yang mungkin secara spontan atau akibat dari trauma ringan (seperti sikat gigi).

Kelenjar Ludah
Umumnya efek obat berakibat pada kelenjar ludah yaitu mengurangi aliran (xerostomia). Pasien dengan mulut kering yang menetap mungkin higienitas mulutnya kurang; hal ini dapat berkembang menjadi karies gigi, dan infeksi pada mulut. (terutama kandidiasis). Penggunaan yang berlebihan dari diuretik dapat juga mengakibatkan xerostomia. Banyak obat yang mengakibatkan xerostomia, terutama antimuskarinik (antikolinergik), antidepresan (termasuk antidepresan trisiklik, dan selective serotonin re-uptake inhibitors), baklofen, bupropion, klonidin, opioid, dan tizanidin. Beberapa obat (seperti klozapin, neostigmin) dapat meningkatkan produksi ludah tetapi hal ini jarang terjadi, kecuali jika pasien mengalami kesulitan menelan,

Rasa sakit pada kelenjar ludah telah dilaporkan pada pemberian beberapa antihipertensi (seperti: klonidin, metildopa) dan alkaloid vinka. Bengkak pada kelenjar ludah dapat diakibatkan oleh Iodida, obat antitiroid, fenotiazin, ritodrin dan sulfonamid.

Pengecap
Sensasi rasa dapat berkurang ketajamannya atau berubah. Obat yang mengakibatkan sensasi rasa meliputi amiodaron, kaptopril (dan penghambat ACE lain), karbimazol, emas, griseofulvin, garam litium, metronidazol, penisilamin, penindion, propafenon, terbinafin, dan zopiklon

Peresepan Pada Anak
Anak terutama neonatus mempunyai respons yang berbeda terhadap pemberian obat dibandingkan dengan orang dewasa. Perhatian khusus perlu diberikan pada masa neonatus (umur 0-30 hari) karena dosis harus selalu dihitung dengan cermat. Pada umur ini, risiko efek toksik bertambah karena filtrasi ginjal yang belum efisien, defisiensi relatif enzim, sensitivitas organ target yang berbeda, dan belum memadainya sistim detoksifikasi yang menyebabkan lambatnya eksresi obat.

Jika memungkinkan, injeksi intramuskular harus dihindarkan karena menyebabkan rasa sakit pada anak.

Seyogyanya obat yang diresepkan untuk anak memang obat yang mempunyai lisensi khusus untuk anak, namun demikian anak sering membutuhkan obat yang tidak mempunyai lisensi khusus.

Reaksi Obat yang Merugikan Pada Anak
Identifikasi dan pelaporan dari reaksi obat yang tidak diinginkan sangat penting mengingat:

  • Kerja obat dan profil farmakokinetika obat pada anak (terutama yang masih sangat muda) mungkin berbeda dengan orang dewasa.
  • Obat tidak secara ekstensif diujikan pada anak sebelum diijinkan untuk beredar
  • Banyak obat yang tidak secara khusus diindikasikan untuk anak.
  • Formula yang sesuai mungkin tidak tersedia untuk dosis yang tepat yang diperbolehkan bagi anak
  • Sifat dan jenis penyakit dan efek samping yang tidak diinginkan mungkin berbeda antara anak dan orang dewasa.

Meskipun sediaan bentuk cair terutama disediakan untuk anak, namun sediaan ini mengandung gula yang mempercepat kerusakan gigi. Untuk terapi jangka panjang, dianjurkan menggunakan sediaan obat yang tidak mengandung gula.

Menetapkan kekuatan sediaan obat dalam bentuk kapsul atau tablet penting dilakukan karena sebetulnya banyak anak yang bisa menelan kapsul atau tablet dan menyukai obat dalam bentuk padat. Orang tua mempunyai peranan yang penting dalam membantu menentukan sediaan yang tepat untuk anak. Apabila dibutuhkan resep obat berbentuk sediaan cair yang diberikan secara oral kurang dari 5 ml, maka bisa diberikan bentuk sediaan tetes yang diberikan secara oral. Pada emberian sediaan tetes secara oral, hendaknya orang tua anak diberi tambahan informasi untuk jangan menambahkan sediaan tersebut pada susu atau makanan bayi/anak. Apabila diberikan bersama dengan susu atau makanan bayi/anak, kemungkinan bisa terjadi interaksi atau dosis yang diberikan berkurang karena anak tidak menghabiskan susu atau makanan tersebut.

Orang tua harus diperingatkan agar menjauhkan semua obat dari jangkauan anak.

Dosis untuk Anak
Perhitungan Dosis
Umumnya dosis untuk anak-anak diukur berdasarkan berat badan (karena itu dibutuhkan perkalian dengan berat badan dalam kilogram untuk menentukan dosis anak); kadang dosis ditentukan berdasarkan luas permukaan tubuh (dalam m2). Metoda di atas lebih baik digunakan dibandingkan dengan menghitung dosis untuk anak berdasarkan dosis yang digunakan untuk orang dewasa.

Pada umumnya dosis tersebut tidak boleh melebihi dosis maksimum orang dewasa. Misalnya: jika dosis ditentukan 8 mg/kg (maksimum 300 mg), seorang anak dengan berat 10 kg, dosis yang diberikan 80 mg, tetapi jika berat anak 40 kg dosis yang diberikan 300 mg (bukan 320 mg).

Anak mungkin memerlukan dosis per kilogram yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa karena kecepatan metabolismenya lebih tinggi. Beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan antara

lain, anak yang gemuk akan mendapat dosis yang terlalu besar, untuk itu dosis harus diperhitungkan berdasarkan berat ideal dan dikaitkan dengan tinggi badan dan umur. Penghitungan berdasarkan luas permukaan tubuh lebih akurat dibandingkan dengan berat badan karena fenomena fisiologis tubuh lebih dekat berhubungan dengan luas permukaan tubuh. Rata-rata luas permukaan tubuh pada orang dewasa dengan berat badan 70 kg adalah 1,8 m2. Untuk anak-anak rumus yang bisa digunakan adalah:

Luas permukaan tubuh pasien (m2) x dosis dewasa
1,8

Metode persentase dari dosis dewasa digunakan untuk menghitung dosis obat yang memiliki cakupan terapi yang lebar antara dosis terapetik dan dosis toksik. Hati-hati dengan penggunaan obat baru yang mempunyai potensi toksik.

Frekuensi Dosis
Umumnya antibakteri diberikan dalam waktu tertentu dalam beberapa hari. Untuk menghindari anak bangun pada malam hari diberikan beberapa fleksibilitas. Misalnya dosis malam hari diberikan pada saat mau tidur.

Peresepan Pada Kehamilan
Penggunaan obat selama masa kehamilan dapat menimbulkan efek yang membahayakan bagi janin. Hal ini penting untuk diingat ketika meresepkan obat untuk wanita dan laki-laki usia subur. Selama masa trimester pertama kehamilan, obat dapat menyebabkan malformasi kongenital (teratogenesis), dan risiko terbesar berada pada minggu ketiga sampai dengan minggu ke sebelas kehamilan. Selama trimester ke dua dan ke tiga kehamilan, obat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fungsional janin atau dapat berefek toksik pada organ janin. Obat yang diberikan sesaat sebelum atau selama persalinan dapat menyebabkan efek samping yang merugikan terhadap proses persalinan atau pada bayi yang baru dilahirkan.

Pada Lampiran 4: Kehamilan dicantumkan daftar obat yang:

  • Mungkin memiliki efek yang membahayakan terhadap kehamilan dan angka dalam kurung menunjukkan trimester yang berisiko.
  • Belum diketahui bahayanya terhadap kehamilan.

Daftar ini disusun berdasarkan data penggunaan obat pada manusia, tetapi juga mencakup data uji pada hewan untuk beberapa obat yang jika tidak dicantumkan bisa menyesatkan.

Obat hanya boleh diresepkan pada masa kehamilan jika manfaat bagi ibu lebih besar daripada risiko pada janin dan jika mungkin semua obat harus dihindari selama trimester pertama. Obat yang sudah secara luas digunakan pada kehamilan dan biasanya aman harus lebih dipilih dibandingkan obat baru atau obat yang belum diuji coba, tetapi dengan menggunakan dosis efektif terendah Beberapa obat telah diketahui bersifat teratogenik pada manusia. Namun tidak diragukan lagi bahwa tidak ada obat yang aman jika diberikan pada awal kehamilan. Prosedur screening (USG) merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui risiko cacat yang mungkin terjadi.

Bila obat tidak ada dalam daftar tidak berarti obat tersebut aman digunakan pada kehamilan.

Peresepan Pada Laktasi
Pemberian beberapa obat (seperti ergotamin) kepada ibu menyusui dapat menimbulkan efek yang membahayakan bagi bayi, sedangkan pemberian obat lain (seperti digoksin) hanya memberikan efek yang ringan. Beberapa obat menghambat laktasi (seperti bromokriptin, kontrasepsi oral mengandung estrogen).

Toksisitas pada bayi dapat terjadi jika obat masuk ke dalam ASI dengan jumlah yang bermakna secara farmakologis. Pada beberapa obat, kadar dalam ASI dapat melebihi kadar di dalam plasma ibu sehingga dosis terapetik pada ibu dapat menyebabkan toksik pada bayi. Beberapa obat dapat menghambat refleks mengisap pada bayi (seperti fenobarbital). Secara teoritis, obat di dalam ASI dapat menyebabkan hipersensivitas pada bayi, meskipun dalam kadar sangat rendah untuk menghasilkan efek farmakologis. Pada Lampiran 5: Menyusui, dicantumkan daftar obat yang:

  • harus digunakan dengan perhatian atau yang dikontraindikasikan pada wanita menyusui dengan pertimbangan di atas
  • berdasarkan bukti terkini dapat diberikan selama menyusui karena terdistribusi dalam ASI dalam jumlah yang sangat kecil untuk dapat menimbulkan efek yang membahayakan bayi
  • belum diketahui menimbulkan efek yang membahayakan bayi, meskipun terdistribusi dalam ASI dalam jumlah yang bermakna.

Banyak obat yang belum memiliki cukup bukti yang dapat dijadikan acuan, karena itu disarankan hanya obat-obat essensial saja yang diberikan pada wanita menyusui. Dikarenakan kurangnya informasi tersebut, daftar pada lampiran tersebut hanya sebagai panduan; apabila obat tidak terdapat dalam daftar bukan berarti obat tersebut aman untuk digunakan pada wanita menyusui.

Peresepan Pada Lansia
Sejumlah perubahan akan terjadi dengan bertambahnya usia, termasuk anatomi, fisiologi, psikologi dan sosiologi. Karena itu terapi pengobatan pada pasien lansia secara signifikan berbeda dari pasien pada usia muda. Dampak yang timbul dari penggunaan obat-obatan yang digunakan sebelumnya juga mempengaruhi terapi pengobatan. Keputusan terapi untuk pasien lansia sedapat mungkin didasarkan pada hasil uji klinik yang secara khusus didesain untuk pasien lansia.

Peresepan yang Tepat
Pasien lansia memerlukan pelayanan farmasi yang berbeda dari pasien usia muda. Penyakit yang beragam dan kerumitan regimen pengobatan adalah hal yang sering terjadi pada pasien lansia. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam mematuhi proses pengobatan mereka sendiri seperti menggunakan obat dengan indikasi yang salah, menggunakan obat dengan dosis yang tidak tepat atau menghentikan penggunaan obat.

Pada pasien lansia keseimbangan antara manfaat pemberian dengan bahaya yang mungkin timbul dari beberapa obat-obatan dapat berubah. Oleh karena itu, obat untuk pasien lansia harus ditinjau secara berkala dan obat-obatan yang tidak bermanfaat harus dihentikan.

Untuk mengatasi gejala seperti sakit kepala, sulit tidur dan pusing lebih tepat menggunakan pendekatan non farmakologikal, bila hal ini berhubungan dengan tekanan sosial seperti menjanda, kesepian dan diusir/dikucilkan keluarga.

Pada beberapa kasus pemberian obat-obat profilaksis mungkin tidak tepat jika obat-obat tersebut dapat menyebabkan komplikasi dengan pengobatan yang sedang dijalani atau menyebabkan efek samping yang sebenarnya bisa dihindari, terutama pada pasien lansia dengan prognosis atau kondisi kesehatan yang buruk. Bagaimanapun, pasien lansia tidak dapat mengesampingkan obat-obatan yang dapat membantu mereka, seperti antikoagulan atau obat anti platelet untuk fibrilasi atrial, antihipertensi, statin, dan obat untuk osteoporosis.

Bentuk Sediaan
Pasien lansia yang lemah sulit untuk menelan tablet; jika tertinggal di mulut, dapat menyebabkan ulserasi. Karena itu mereka harus selalu menelan tablet atau kapsul dengan menggunakan banyak cairan sambil berdiri untuk menghindari kemungkinan ulserasi esofageal. Jika memungkinkan akan sangat membantu bila dapat berdiskusi dengan pasien untuk kemungkinan pemberian obat dalam bentuk cairan.

Karakteristik Pasien Lansia
Pada pasien yang sangat tua, manifestasi dari ketuaan secara normal dapat meyebabkan kesalahan dalam mendefinisikan penyakit dan dapat mengantarkan pada peresepan yang tidak tepat. Biasanya, usia berhubungan dengan melemahnya otot dan kesulitan untuk menjaga keseimbangan tetapi hal ini jangan selalu dikaitkan dengan penyakit saraf. Gangguan seperti pusing tidak ada hubungan dengan hipotensi postural atau postprandial sehingga tidak selalu ditolong dengan menggunakan obat.

Pengobatan Sendiri
Seperti halnya pada pasien dengan usia lebih muda, pengobatan sendiri dengan produk obat bebas (OB) atau obat bebas terbatas (OBT) atau mengkonsumsi obat yang diresepkan untuk penyakit-penyakit sebelumnya (atau bahkan mengkonsumsi obat dari orang lain) dapat menambah komplikasi. Diskusi dengan pasien dan keluarganya atau lebih baik kunjungan ke rumah mungkin diperlukan untuk menetapkan apa yang sebaiknya diberikan pada pasien lansia.

Sensitivitas
Akibat penuaan pada sistem saraf menyebabkan melemahnya kepekaan pada banyak obat yang biasa digunakan, seperti analgesik opioid, benzodiazepin, antipsikotik dan obat antiparkinson, di mana semua harus digunakan dengan hati-hati. Begitu juga, organ-organ yang lain akan makin peka terhadap efek obat seperti obat antihipertensi dan AINS.

Farmakokinetik
Efek yang paling penting dari lansia adalah berkurangnya klirens ginjal. Banyak pasien lansia akan mengalami perlambatan ekskresi obat, dan makin rentan terhadap obat nefrotoksik. Penyakit akut dapat menyebabkan penurunan klirens ginjal secara cepat, terutama bila disertai dehidrasi. Demikian juga metabolisme beberapa obat dapat menurun pada pasien lansia. Perubahan farmakokinetik dapat ditandai dengan meningkatnya kadar obat dalam jaringan pada pasien lansia, terutama pada pasien yang lemah sehingga memerlukan pengurangan dosis. Obat-obatan dengan indeks terapetik sempit harus diberikan dengan pengurangan dosis, contohnya adalah digoksin dan aminoglikosida dan pengurangan dosis sebanyak 50% sebagai dosis awal dianjurkan pada banyak kasus. Penyesuaian dosis dapat tidak diperlukan untuk obat dengan indeks terapetik yang luas, contoh: penisilin. Bagaimanapun, profesi kesehatan harus waspada terhadap obat-obat yang potensial menimbulkan masalah pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.

Farmakodinamik
Sensitivitas jaringan terhadap obat juga mengalami perubahan sesuai pertambahan umur seseorang. Mempelajari perubahan farmakodinamik lansia lebih kompleks dibanding farmakokinetiknya karena efek obat pada seseorang pasien sulit dikuantifikasi; di samping itu bukti bahwa perubahan farmakodinamik itu memang ada harus dalam keadaan bebas pengaruh efek perubahan farmakokinetik. Perubahan farmakodinamik dipengaruhi oleh degenerasi reseptor obat di jaringan yang mengakibatkan kualitas reseptor berubah atau jumlah reseptornya berkurang.

Berikut ini disampaikan beberapa contoh obat yang sering digunakan pada lansia dengan beberapa pertimbangan sesuai respons yang bisa berbeda:

Warfarin: perubahan farmakokinetik tak ada, maka perubahan respon yang ada adalah akibat perubahan farmakodinamik. Sensitivitas yang meningkat adalah akibat berkurangnya sintesis faktor-faktor pembekuan pada lansia.

Nitrazepam: perubahan respons juga terjadi tanpa perubahan farmakokinetik yang berarti. Hal ini menunjukkan bahwa pada lansia sensitivitas terhadap nitrazepam memang meningkat. Lebih lanjut data menunjukkan bahwa pemberian diazepam intravena pada pasien lansia memerlukan dosis yang lebih kecil dibandingkan pasien dewasa muda, selain itu efek sedasi yang diperoleh memang lebih kuat dibandingkan pada usia dewasa muda. Triazolam: pemberian obat ini pada warga lansia dapat mengakibatkan postural sway– nya bertambah besar secara signifikan dibandingkan dewasa muda.

Sensitivitas obat yang berkurang pada lansia juga terlihat pada pemakaian obat propranolol. Penurunan frekuensi denyut nadi setelah pemberian propranolol pada usia 50 – 65 tahun ternyata lebih rendah dibandingkan mereka yang berusia 25 – 30 tahun. Efek tersebut adalah pada reseptor ?1; efek pada reseptor ?2 yakni pelepasan insulin dan vasodilatasi akibat pemberian isoprenalin tidak terlihat.

Perubahan sensitivitas menunjukkan bahwa terdapat perubahan pada pasca-reseptor intraselular.

Efek yang Tidak Diinginkan
Pada pasien lansia efek obat yang tidak diinginkan sering tersamarkan dan biasanya tidak spesifik. Kebingungan seringkali merupakan gejala yang timbul (yang disebabkan oleh hampir semua obat-obat yang biasa digunakan). Manifestasi lain yang biasa terjadi adalah konstipasi (untuk obat antimuskarinik dan beberapa transkuiliser), hipotensi postural dan terjatuh (untuk diuretik dan beberapa psikotropik)

Hipnotik
Banyak psikotik dengan waktu paruh yang panjang menyebabkan efek hangover seperti mengantuk, sempoyongan, bahkan cacian dan kebingungan. Hipnotik dengan waktu paruh pendek dapat digunakan, walaupun juga dapat meyebabkan masalah (bagian 4.1.1). Penjelasan singkat mengenai hipnotik kadang-kadang berguna untuk membantu pasien dengan penyakit akut atau kegawatan yang lain, tetapi setiap upaya harus dibuat untuk menghindari ketergantungan. Benzodiazepin mengurangi keseimbangan, yang dapat mengakibatkan terjatuh.

Diuretik
Diuretik diresepkan pada pasien lansia dan tidak boleh digunakan dalam jangka waktu lama untuk mengatasi udema gravitasional yang biasanya memberikan respon terhadap meningkatkan pergerakan, mengangkat kaki dan menggunakan support stocking. Pemberian diuretik untuk beberapa hari dapat mempercepat pengecilan udem tetapi jarang memerlukan terapi yang berlanjut.

AINS
Pendarahan yang terkait dengan asetosal dan golongan AINS lain lebih sering terjadi pada lansia yang dapat berakibat serius atau fatal. AINS juga menimbulkan efek yang membahayakan bagi pasien penyakit jantung atau gagal ginjal sehingga menempatkan pasien lansia ini memiliki risiko khusus. Karena pasien lansia makin peka terhadap efek samping AINS, maka dibuat beberapa anjuran sebagai berikut:

  • Untuk osteoartritis, lesi pada jaringan lunak dan nyeri pada punggung, pertama coba lakukan langkah-langkah seperti pengurangan berat badan (jika mengalami obesitas), hangatkan, olahraga dan gunakan tongkat untuk berjalan
  • Untuk osteoartritis, lesi jaringan lunak, nyeri pada punggung dan nyeri karena artritis rematoid, pertama kali gunakan parasetamol yang biasanya cukup untuk mengurangi nyeri.
  • Alternatif lain, gunakan AINS dosis rendah (misalnya dapat diberikan ibuprofen sampai 1,2 g sehari)
  • Untuk mengurangi nyeri yang tidak dapat diatasi oleh obat lain, dapat diberikan parasetamol dosis penuh ditambah AINS dosis rendah
  • Jika diperlukan, dosis AINS dapat ditingkatkan atau berikan analgesik opioid bersama parasetamol
  • Jangan berikan 2 macam obat golongan AINS secara bersamaan

Jika pengobatan dengan AINS perlu dilanjutkan, lihat saran untuk profilaksis AINS yang menyebabkan ulkus peptikum pada bagian 1.3.

Obat Lain
Obat lain yang biasanya menyebabkan efek yang tidak diinginkan adalah obat antiparkinson, antihipertensi, psikotropik dan digoksin. Dosis pemeliharaan digoksin pada pasien dengan usia sangat lanjut adalah 125 mcg sehari (62,5 mcg pada pasien dengan penyakit ginjal); dosis yang lebih rendah seringkali tidak mencukupi tetapi biasanya terjadi toksisitas pada pemberian 250 mcg sehari.

Obat yang menyebabkan gangguan pada darah lebih jauh lebih sering terjadi pada lansia. Begitu juga obat yang dapat menyebabkan depresi sumsum tulang belakang (misalnya kotrimoksasol, mianserin) harus dihindarkan kecuali tidak ada alternatif lain yang tersedia. Pada umumnya pasien lansia memerlukan dosis pemeliharaan warfarin yang rendah dibandingkan dengan dewasa muda; dengan kemungkinan pendarahan yang mungkin terjadi cenderung lebih serius.

Pedoman
Selalu pertimbangkan bahwa obat memang benar-benar diindikasikan

Pembatasan. Sebaiknya obat yang diberikan terbatas saja dengan efek obat pada pasien lansia sudah diketahui dengan pasti.

Penurunan Dosis. Umumnya dosis untuk pasien lansia lebih rendah dibandingkan untuk pasien dengan usia yang lebih muda. Dosis biasanya dimulai dari 50% dosis dewasa. Pemakaian beberapa obat (misalnya antidiabetik kerja panjang seperti glibenklamid dan klorpropamid) harus dihindari sama sekali.

Pengkajian secara berkala. Secara berkala buat kajian terhadap resep obat yang diberikan berulang. Berdasarkan pemantauan kemajuan klinis, beberapa pasien dapat dihentikan pemberian beberapa obatnya. Bila fungsi ginjal menurun kemungkinan diperlukan pengurangan dosis beberapa obat.

Sederhanakan Regimen. Pengobatan dengan regimen yang sederhana akan menguntungkan bagi pasien lansia. Hanya obat dengan indikasi jelas yang diresepkan dan apabila memungkinkan diberikan 1 atau 2 kali sehari. Regimen yang interval dosisnya membingungkan harus dihindari.

Terangkan Dengan Jelas. Tulis instruksi secara lengkap pada setiap resep (termasuk pengulangan resep) jadi kemasan harus diberi label dengan petunjuk lengkap. Hindari keterangan ”seperti petunjuk”. Kemasan yang mudah rusak oleh anak-anak mungkin tidak sesuai.

Pengulangan dan Pemusnahan. Beritahukan pasien apa yang harus dilakukan bila obat sudah habis, dan juga bagaimana menyingkirkan obat apabila tidak diperlukan lagi. Resepkan dengan jumlah yang sesuai. Apabila petunjuk ini diikuti diharapkan b anyak lansia akan mampu mengatasi masalah terkait obat yang digunakan. Jika instruksi ini tidak diikuti maka perlu diikut sertakan pihak ketiga (biasanya keluarga atau teman) untuk membantu.

Peresepan Pada Terapi Paliatif
Terapi paliatif adalah terapi pada pasien yang tidak responsif dengan terapi kuratif. Tujuannya adalah mengurangi nyeri dan gejala yang lain, mengurangi masalah psikologis, sosial dan spiritual, serta yang paling penting meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pemantauan gejala dan apa yang diperlukan pasien dilakukan oleh tim multidisiplin. Jumlah obat diusahakan sesedikit mungkin. Preparat oral biasanya lebih memuaskan. Namun bila terjadi mual, muntah, sakit menelan, lemah, dan koma dibutuhkan pemberian parenteral.

Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI)

Buku Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI) merupakan buku yang berisi informasi obat yang akurat, tidak bias, serta ringkas dan mudah untuk digunakan sebagai referensi oleh tenaga kesehatan. Buku IONI pertama kali diterbitkan pada tahun 2000. Seiring dengan perkembangan dunia kesehatan, berbagai obat baru telah ditemukan dan dipasarkan di Indonesia. Oleh karenanya Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) telah melakukan revisi buku IONI 2000, IONI 2008 dan menerbitkan buku IONI 2013 ini.

Buku IONI 2013 ini direvisi berdasarkan data ilmiah terkini (scientific-based data) dan informasi approved label dari produk obat yang beredar di Indonesia yang telah disetujui oleh Badan POM melalui evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu yang berbasiskan bukti (evidence-based medicine). Informasi lainnya juga dirujuk dari berbagai acuan farmakologi seperti Current Medical Diagnosis and Treatment (CMDT), Farmakologi dan Terapi, dan informasi program kesehatan bagi masyarakat seperti Program Penanggulangan Tuberkulosis, Program Pemberantasan Penyakit Malaria, Program Penyelenggaraan Imunisasi, dan Program Waspada Flu Burung.

Secara garis besar, IONI 2013 terdiri dari tiga bagian, Pedoman Umum, Informasi Obat, dan Lampiran. Pada masing-masing bagian mengalami penyesuaian dengan penambahan informasi. Bagian Pedoman Umum mengalami penambahan informasi yang penting untuk diketahui, seperti Penggolongan Obat, Peresepan pada Kehamilan, Peresepan pada Laktasi, serta Daftar Bahan Obat yang Dilarang Digunakan pada Olahragawan (Anti-Dopping). Bagian Informasi Obat dibagi dalam 18 Bagian kelas terapi, yang masing-masing terdiri atas informasi kelas terapi dan monografi obat serta informasi mengenai penanggulangan pada keracunan. Dua Bagian kelas terapi yang ditambahkan dari buku sebelumnya yaitu Bab 17. Media Kontras dan Bab 18. Radio Farmaka. Monografi obat hanya terdiri dari obat-obat yang telah mendapat izin edar dari Badan POM dan beredar di Indonesia. Bagian Lampiran terdiri dari 6 bagian, masing-masing Interaksi Obat, Gagal Hati, Gagal Ginjal, Kehamilan, Menyusui, serta Petunjuk Praktis Penggunaan Obat yang Benar.

Dalam rangka penyempurnaan pada revisi IONI berikutnya, Tim Penyusun dengan senang hati akan menerima segala kritik, saran dan komentar dari para pembaca.

Sebagi akhir kata, Tim Penyusun IONI 2013 menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penerbitan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2013. Tim Penyusun sangat berharap IONI 2013 ini dapat memberi manfaat dan kontribusi nyata bagi pelayanan informasi obat pada khususnya dan pelayanan kesehatan pada umumnya serta mendukung pengunaan obat yang rasional oleh tenaga kesehatan.

Jakarta, Desember 2013
Tim Penyusun IONI 2013
Pusat Informasi Obat Nasional

Daftar Isi Buku IONI:

  • PEDOMAN UMUM
  • BAB 1 SISTEM SALURAN CERNA
  • BAB 2 SISTEM KARDIOVASKULER
  • BAB 3 SISTEM SALURAN NAPAS
  • BAB 4 SISTEM SARAF PUSAT
  • BAB 5 INFEKSI
  • BAB 6 SISTEM ENDOKRIN
  • BAB 7 OBSTETRIK, GINEKOLOGIK, DAN SALURAN KEMIH
  • BAB 8 KEGANASAN DAN IMUNOSUPRESI
  • BAB 9 GIZI DAN DARAH
  • BAB 10 OTOT SKELET DAN SENDI
  • BAB 11 MATA
  • BAB 12 TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK
  • BAB 13 KULIT
  • BAB 14 PRODUK IMUNOLOGIS DAN VAKSIN
  • BAB 15 ANESTESIA
  • BAB 16 PENANGANAN DARURAT PADA KERACUNAN
  • BAB 17 MEDIA KONTRAS
  • BAB 18 RADIOFARMAKA
  • LAMPIRAN 1 : INTERAKSI OBAT
  • LAMPIRAN 2 : GAGAL HATI
  • LAMPIRAN 3 : GAGAL GINJAL
  • LAMPIRAN 4 : KEHAMILAN
  • LAMPIRAN 5 : MENYUSUI
  • LAMPIRAN 6 : PETUNJUK PRAKTIS PENGGUNAAN OBAT YANG BENAR
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better