64 Tahun, Bagaimanakah Wajah Apoteker Indonesia?

283
tanggal lahir apoteker

Tak terasa kini ikatan Apoteker Indonesia sudah berusia 64 tahun di bumi nusantara. Mari kita telisik sejenak sejarah lahirnya Ikatan Apoteker Indonesia. Kala itu empat orang apoteker lulusan Belanda yakni Lim Tjae Ho, E. Looho, Kwee Hwat Djien, dan Ie Kheng Heng berkumpul pada hari Rabu, 20 April 1955 di rumah Lim Tjae Ho tepatnya di Jalan Cemara No. 22, Menteng, Jakarta. Mereka berempat memiliki tujuan yang sama yakni membentuk sebuah organisasi untuk memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan farmasi pada umumnya dan kepentingan-kepentingan apoteker pada khususnya.

Dari pertemuan itulah dibentuk Panitia Persiapan Ikatan Apoteker Indonesia kemudian mereka melaksanakan muktamar pertama para apoteker Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 1955 di gedung Metropole. Salah satu keputusan dari muktamar tersebut adalah pengesahan nama organisasi yakni Ikatan Apoteker Indonesia yang disingkat IKA.

Dalam perjalanannya nama IKA hingga muktamar VII tahun 1963 di Jawa Bart diubah menjadi Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI). Empat puluh enam tahun kemudian pada tangal 7-9 Desember 2009 saat Kongres XVII ISFI dihasilkan keputusan nama ISFI berubah kembali ke nama awal yakni Ikatan Apoteker Indonesia tapi tidak disingkat IKA melainkan IAI.

Tanggal 18 Juni dinyatakan sebagai hari kelahiran Ikatan Apoteker Indonesia. Pada tahun ini IAI berusia 64 tahun itu berarti 64 tahun sudah apoteker Indonesia ada untuk masyarakat Indonesia. Tapi, apakah keberadaan apoteker Indonesia dirasakan oleh masyarakat Indonesia?

Masyarakat Indonesia masih belum banyak yang merasakan keberadaan apoteker. Walaupun sekarang apoteker sudah berevolusi tidak lagi berorientasi pada produk tapi berorientasi pada pasien. Namun, dengan masih menjamurnya apoteker-apoteker ‘hantu’ atau kita lebih mengenal istilah apoteker tekab, maka keberadaan apoteker di tengah-tengah masyarakat belum dirasakan oleh mereka.

Enam puluh empat tahun, apakah wajah apoteker masih identik dengan apoteker tekab? Susahkah kita mengubah tradisi yang salah tersebut? Apakah sudah terlambat apoteker untuk berubah, karena merasa sudah tua dengan usia tersebut?

Tak ada kata terlambat untuk berubah menuju lebih baik. Berubah tak mengenal kata usia. Diusia berapapun kita bisa berubah. Di saat kita bisa mampu membedakan hal yang baik dan hal yang buruk. Saat itulah kita harus berubah. Hal-hal yang buruk kita tinggalkan dan hal-hal yang baik kita terus jalankan.

Tapi apoteker tekab sudah berjalan lama, tapi apoteker tekab sudah mentradisi, tapi apoteker tekab tetap berjalan aktivitas di apotek, tapi apoteker tekab ……. Silahkan kita cari lagi alasan dengan tapi tapi tapi yang lainnya.

Jika kita masih terkurung dengan kata tapi tapi tapi. Tidak akan ada langkah perubahan yang akan dimulai. Kita akan membiarkan tradisi yang sudah berjalan lama tersebut menjadi suatu yang biasa. Bahkan kita akan turut membenarkan sesuatu hal yang biasa. Sebuah pepatah mengatakan, “Biasakanlah yang benar bukan benarkanlah yang biasa”.

Berubah. Satu kata itulah yang harus diresapi dalam-dalam. Wajah apoteker Indonesia harus berubah. Sudah cukup 64 tahun kita membenarkan yang biasa. Kini saatnya kita membiasakan yang benar. Jika sesuatu hal itu baik maka kerjakanlah tapi jika sesuatu hal itu buruk maka tinggalkanlah.

Tentu perubahan besar itu tidak akan bisa terjadi tanpa diawali dari perubahan kecil. Perubahan kecil yang diawali dari diri sendiri. Diri sendiri yang harus berani dan tegas mengatakan bahwa apoteker tekab itu adalah salah dan tidak mau bercebur ke dalam gelombang yang salah tersebut. Keberanian dan ketegasan dalam diri pribadi itulah yang harus mula-mula dihujamkan ke dalam pribadi masing-masing apoteker. Setiap perubahan memang memiliki risiko layaknya sebuah pilihan yang juga memiliki risiko. Apakah dengan berani dan tegas pada diri sendiri untuk tidak menjadi apoteker tekab, kita tidak akan mendapatkan pekerjaan atau rezeki? Sungguh, itu semua diluar lingkup kendali manusia. Bukankah kita semua sama-sama sepakat bahwa hal-hal yang baik itu akan berbuah baik pula. Begitu juga dengan hal-hal yang buruk akan berbuah buruk pula.

Selanjutnya jika kita sudah melakukan perubahan pada diri sendiri, kini harus diimbangi dengan perubahan pada organisasi, tentu organisasi yang menaungi apoteker. Sebab, dari organisasi inilah yang akan membuat kebijakan-kebijakan dalan menjalankan praktik kefarmasian. Kebijakan- kebijakan yang berani dan tegas untuk melawan dan memberantas apoteker tekab. Para apoteker biasanya mendekati atau berurusan dengan pengurus organisasi, salah satunya untuk mengurus surat rekomendasi. Mungkin, dari sini bisa kita terapkan kebijakan untuk membuat surat perjanjian ataupun bentuk lainnya sebagai penegasan bahwa apoteker yang meminta rekomendasi tersebut tidak menjadi oknum apoteker tekab dan berbagai peraturan atau kebijakan lainnya yang memperjelas bahwa organisasi sangat menentang yang namanya apoteker tekab.

Selama ini organisasi terbuaikan dengan kegiatan-kegiatan rutinitas. Kini, saatnya organisasi juga turut berubah menjadi lebih baik. Wajah apoteker ada di tangan apoteker. Ketegasan dari pimpinan organisasi, ketegasan dari pengurus-pengurus organisasi dari tingkat cabang, daerah maupun pusat menjadi penentu kebijakan-kebijakan yang akan dihasilkan.

Dikala diri pribadi apoteker sudah berani dan tegas untuk mengatakan tidak pada apoteker tekab. Namun, organsasi profesi masih memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk menjalanakan tradisi yang salah tersebut. Maka, tidak akan terjadi sebuah perubahan pada wajah apoteker.

Kita mengharapkan adanya ketegasan dan keberanian pada dua elemen tersebut. Pribadi apoteker sendiri dan organisasi. Saat pribadi apoteker belum tegas dan berani tapi organisasi berani dan tegas untuk menutup celah-celah apoteker tekab. Minimal pribadi apoteker tersebut akan mulai berpikir untuk berubah menjadi lebih baik.

Kondisi yang terakhir ini yang tidak kita harapkan. Kondisi di mana tidak adanya ketegasan dan keberanian antara pribadi apoteker dan organisasi untuk sama-sama menentang bertebarannya apoteker tekab. Mereka memaklumi dan membiarkan kondisi yang ada tersebut. Tidak adanya upaya untuk memutuskan rantai tradisi yang sudah mengakar kuat di tubuh apoteker Indonesia.

Langkah-langkah kecil yang kita harapankan untuk sebuah perubahan besar. Langkah-langkah kecil itu yang akan membawa pada perubahan wajah apoteker Indonesia. Jika kita ragu-ragu untuk melangkah maka tidak akan ada sebuah perubahan.

Perubahan besar tidak bisa terjadi tanpa diawali dari perubahan kecil.
Langkah-langkah besar pun tak bisa dilewati saat tidak ada langkah-langkah kecil.
Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Keniscayaan untuk berubah menjadi lebih baik.

Kita tidak bisa menunggu perubahan besar dan langkah-langkah besar tapi kita bisa melakukan perubahan kecil dan langkah-langkah kecil untuk menjadi pribadi apoteker yang lebih baik lagi. Demi mengubah wajah apoteker Indonesia menjadi lebih baik.

Advertisements
SHARE
Previous articleApoteker Melestarikan Budaya Diskusi
Next articleKosmetika sebagai “Panggung Praktek Apoteker Aestetik” Kekinian
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.