6C yang Harus Dimiliki Apoteker pada Tahun 2022

121
apoteker 6c
ilustrasi | gambar: Google Images

Farmasi.Asia – Baru beberapa hari kita memasuki tahun 2022, tantangan di hadapan mata sangat jelas. Terlebih kini kita sudah di era industri 4.0 bahkan ada yang mengatakan sudah mulai memasuki era industri 5.0. Semua lini harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Begitu pula dengan apoteker. Apoteker harus beradaptasi dengan era yang serba digital. Era yang serba cepat dan dinamis. Saat kita berdiam diri, kita akan tertinggal. Begitu pula jika kita tidak mau mengikuti perubahan, kita pun akan tertinggal jauh bahkan akan hilang perlahan-lahan.

Berikut 6C yang harus dimiliki oleh apoteker dalam menjawab tantangan di tahun 2022, antara lain:

1. Computation (komputasi)

Seorang apoteker harus mampu mengoperasikan berbagai teknologi, terlebih teknologi yang mendukung saat berpraktik. Baik itu dari laptop/komputer ataupun smartphone dengan berbagai aplikasi. Dengan kata lain, apoteker harus bisa menjalankan aplikasi yang terus berkembang saat ini di dunia kefarmasian. Komputasi yang bermakna lain digitalisasi. Apoteker harus siap dengan era digitalisasi yang harus diterapkan saat berpraktik.

2. Creative (kreatif)

Apoteker harus kreatif. Kreatif bisa dimaknai sebagai kemampuan untuk menciptakan, baik itu hal-hal baru ataupun mengemas hal-hal yang lama dengan cara yang berbeda. Semua orang memiliki kreativitas yang berbeda-beda, begitu juga dengan apoteker. Namun, kadang kita kurang mengasah kreativitas di dalam dunia kefarmasian, baik saat pengelolaan obat ataupun berinteraksi langsung dengan pasien.

3. Critical (kritis)

Kemampuan berpikir kritis inilah yang harus ditumbuhkan sebab disaat apoteker tidak berpikir kritis maka dia akan mengikuti arus yang sudah ada bahkan arus yang salah. Kritis bisa kita artikan pikiran kritis yang mau mengikuti perkembangan zaman dan berani mengatakan hal yang salah adalah salah dan hal yang benar adalah benar. Saat pikiran atau sifat kritis tidak ada di dalam diri apoteker, maka dia tidak akan berkembang dan tidak percaya pada dirinya sendiri.

4. Collaboration (kolaborasi)

Bukan zamannya lagi berpikiran aku aku, kamu kamu. Kini saatnya apoteker saling berangkulan dengan teman sejawat ataupun rekan profesi yang lain. Era saling bekerja sama, dukung-mendukung satu dengan yang lainnya. Saling melengkapi. Dengan mau berkolaborasi berarti apoteker membuka diri untuk sama-sama belajar dari dunia luar dan mau menerima hal-hal baru yang berkaitan dengan ilmu kefarmasian pada khususnya dan ilmu kesehatan pada umumnya.

5. Communication (komunikasi)

Komunikasi menjadi kunci penting bagi seorang apoteker. Bagaimana dia bisa melaksanakan pelayanan kefarmasian, jika komunikasi masih bermasalah? Komunikasi yang terjalin baik kepada pasien, dokter, perawat, bidan, ahli gizi, analis kesehatan, dan berbagai profesi lainnya. Dengan komunikasi yang efektif kita bisa mengurangi bahkan mencegah terjadinya kesalahan pengobatan. Berapa banyak kesalahan pengobatan yang terjadi akibat misscommunication?

6. Compassion (kasih sayang)

Kasih sayang yang kita artikan sebagai rasa kasih sayang yang harus kita miliki untuk terlibat aktif bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh pasien saat berkunjung ke apotek. Kasih sayang ini pula yang menyebabkan tidak semua pasien yang datang ke apotek harus diberikan obat. Rasa peduli, empati, dan prihatin terhadap setiap orang merupakan bentuk lain dari kasih sayang yang harus ditanamkan oleh setiap apoteker.

Sudahkah 6C dimiliki oleh seorang apoteker?
Jika sudah, pertahankanlah.
Jika belum, mulailah.

Advertisements
SHARE
Previous articleTanda Penyakit Jantung Pada Wanita Post Menopause
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.