Ada Apa Dengan RUU Kefarmasian?

380
RUU Kefarmasian 2020

Udara segar menyelimuti akhir bulan Januari. Beberapa hari yang lalu telah disahkan beberapa rancangan undang-undang (RUU) program legislasi nasional oleh DPR RI, salah satunya adalah RUU Kefarmasian. RUU Kefarmasian mendapatkan urutan ke 29 dari 50 RUU yang akan dibahas.

Dari 50 RUU tersebut ada 4 RUU yang termasuk omnibus law. Apakah itu omnibus law? Sebuah metode yang digunakan untuk mengganti dan/atau mencabut beberapa materi hukum dalam berbagai UU. Atau lebih singkatnya dengan adanya omnibus law, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan RUU tersebut akan ‘digantikan’ secara langsung oleh RUU yang masuk dalam omnibus law. Peraturan perundang-undangan sebelumnya akan ‘digantikan’ dalam artian dipangkas, disederhanakan, dan diselaraskan.

Dengan masuknya RUU Kefarmasian dalam omnibus law berarti peraturan perundang-undangan yang ada sebelumnya tentang kefarmasian akan “diwakilkan” pada RUU Kefarmasian. Begitu banyaknya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kefarmasian akan terangkum dalam RUU Kefarmasian sehingga masih diharapkan berbagai saran dan masukan dari banyak pihak salah satunya adalah apoteker sendiri. Sebagian pengurus cabang ataupun pengurus daerah ada yang mengadakan forum tersendiri untuk bersama-sama memberikan masukan dan saran demi perbaikan RUU tersebut yang akan diteruskan kepada pengurus pusat.

Secara garis besar RUU Kefarmasian terdiri dari 21 bab dan 210 pasal. Ada beberapa pasal yang menarik untuk sama-sama diperbincangkan. Untuk lebih lengkapmya silahkan mendonwload file RUU Kefarmasian di link ini.

Pertama, pasal 1 (8) dicantumkan bahwa tenaga kefarmasian adalah tenaga kesehatan yang melakukan praktik kefarmasian. Pada pasal 26 tertulis tenaga kefarmasian terdiri atas: (a) tenaga akademik di bidang kefarmasian, (b) tenaga profesi dan spesialis di bidang kefarmasian, (c) tenaga teknis di bidang kefarmasian, (d) asisten tenaga kefarmasian. Dua pasal tersebut nampaknya bertolak belakang sebab pasal 1 menyatakan tenaga kesehatan yang melalukan praktik kefarmasian bisa dipersingkat dengan kata “orang yang berpraktik kefarmasian”. Sedangkan, pasal 26 menyebutkan “orang yang tidak berpraktik kefarmasian” yang mereka fokus di ranah akademik mulai dari sarjana hingga doktor. Padahal kita ketahui bersama, bahwa ranah akademik adalah menjadikan seseorang menjadi akademisi, ranah praktik menjadikan seseorang menjadi praktisi.

Kedua, pasal 29 (1) tercantum bahwa organisasi profesi sebagaimana dimaksud pasal 28, yaitu Ikatan Apoteker Indonesia yang selanjutnya disingkat IAI yang menghimpun Apoteker, Apoteker Spesialis, Sarjana Farmasi, Magister Farmasi, dan Doktor Farmasi. Menjadi sebuah pertanyaan, apakah sarjana, magister, dan doktor Farmasi yang tidak mengikuti pendidikan apoteker tetap masuk IAI?

Ketiga, pasal 55 (2) tertulis bahwa selain dibantu Apoteker dan/atau Apoteker Spesialis lain serta TTK sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), Apoteker dan Apoteker Spesialis dapat berkonsultasi dengan Sarjana Farmasi, Magister Farmasi, dan Doktor Farmasi. Menjadi titik beratnya adalah Apoteker berkonsultasi dengan Sarjana Farmasi. Bukankah Apoteker itu adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan mengucapkan sumpah jabatan Apoteker. Mengapa apoteker berkonsultasi dengan Sarjana Farmasi?

Mungkin, ada beberapa lagi pasal-pasal unik yang akan rekan-rekan temukan saat membaca RUU Kefarmasian. Silahkan dibaca lebih teliti lagi dan sampaikan masukan ataupun saran kepada pengurus cabang terdekat. (Download Draft RUU Kefarmasian 2020)

Harapannya semua pihak yang berhubungan dengan kefarmasian aktif terlibat memberikan masukan dan saran terhadap rancangan undang-undang tersebut, sebab dari rancangan itulah yang akan menjadi undang-undang. Selanjutnya akan diterapkan di ranah masing-masing baik praktisi ataupun akademisi.

Jika kepedulian kita masing kurang terhadap RUU Kefarmasian yang akan berdampak besar saat menjadi UU, maka kita sendiri yang akan merasakan dampak dari ketidakpedulian yang pernah dilakukan. Kita ketahui bersama sesuatu hal yang digunakan untuk bersama, terkadang kita berpikiran bahwa sudah ada orang yang mempedulikan dan mengurusnya, tanpa harus terlibat di dalamnya.

Sebuah cerita yang semoga bisa kita ambil hikmahnya bersama-sama.

Di sebuah negeri, seorang raja memberikan titah untuk semua rakyat agar mengumpulkan satu sendok madu yang dimasukan dalam sebuah bejana besar di depan istana. Iya, setiap rakyat hanya diwajibkan membawa satu sendok madu. Terlihat sepele dan ringan. Tapi, bagaimanakah dampaknya saat semua rakyat berpikiran yang sama bahwa sudah ada atau sudah banyak rakyat yang akan membawa satu sendok madu, sehingga rakyat yang berpikir tersebut dengan sengaja “memainkan” titah seorang raja. Mereka datang berbondong-bondong ke halaman istana membawa satu sendok yang berisi “sesuatu” yang akan dimasukkan ke dalam bejana besar.

Singkat cerita, setelah semua rakyat menuangkan isi yang ada pada sendok tersebut ke dalam bejana. Ternyata, bejana besar tersebut terisi penuh oleh air. “Sesuatu” yang dibawa rakyat tersebut ternyata air. Mereka berpikir tidak mengapa satu sendok air saat dicampurkan madu ke dalam sebuah bejana besar. Namun, semua rakyat berpikir yang sama sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang membawa satu sendok madu.

Sebuah kisah yang mempunyai banyak kandungan hikmah, saat kita bisa mengaitkanya pada kehidupan nyata dari berbagai kejadian-kejadian yang akan dilalui. Itulah sebuah kehidupan.

Kembali pada RUU Kefarmasian, bagaimanakah peranan kita terhadap RUU tersebut? Akankah kita membawa air ataukah membawa madu jika dihubungkan dengan cerita di atas.

Sebuah perubahan tidak akan pernah terjadi, tanpa diiringi oleh langkah-langkah kecil dari semua orang yang terlibat dalam perubahan tersebut. Melangkah secara bersamaan. Melangkah yang dimulai dari diri sendiri tanpa harus melihat orang lain melangkah atau tidak.

Wajah kefarmasian Indonesia sekarang ini ada di tangan kita. Kita yang terlibat dalam dunia kefarmasian yang akan menjadikan baik ataukah buruk wajah tersebut di mata masyarakat Indonesia.

Berawal dari RUU Kefarmasian
Kita tumbuhkan rasa kepedulian
Kepedulian yang membawa perubahan
Perubahan untuk kemajuan
Kemajuan sebuah peradaban
Peradaban yang sangat dinanti-nantikan
Yang akan berbuah kebaikan

Advertisements
SHARE
Previous articleAneka Khasiat Daun Jambu Biji Untuk Kecantikan
Next articleKelebihan Menggunakan Pembalut Kain Saat Haid
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.