Apoteker dan Produk Halal

213
Produk Farmasi yang Halal
ilustrasi

Farmasi.Asia – Pasca dikeluarkannya keputusan menteri agama Republik Indonesia No. 982 Tahun 2019 tentang Layanan Sertifikasi Halal diikuti sebelumnya oleh peraturan pemerintah RepubliK Indonesia No. 31 Tahun 2019 tentang peraturan pelaksanaan undang-undang No. 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal. Dilihat dari beberapa regulasi di atas maka kita bisa mengetahui bahwa pemerintah sudah mulai gencar menyadarkan akan pentingnya arti produk halal kepada masyarakat Indonesia.

Indonesia merupakan negara terbesar dengan jumlah muslim terbanyak di dunia dengan jumlah populasi 88% muslim dikuti oleh Pakistan dan India. Inilah yang menjadi latar belakang tersendiri bagi pemerintah untuk memberlakukan jaminan produk halal. Indonesia menjadi negara yang akan banyak menggunakan produk halal.

Berbicara produk halal tidak hanya sebatas makanan dan minuman. Obat-obatan dan kosmetik termasuk dalam produk halal. Disinilah peran penting seorang apoteker untuk bisa memahami dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya kehalalan suatu produk kefarmasian.

Secara bertahap masyarakat mulai sadar akan pentingnya status kehalalan sebuah produk. Terbukti sudah mulai banyak orang-orang yang berbelanja makanan dan minuman yang mereka cari terlebih dahulu logo halal dari lembaga pengkajian pangan, obat-obatan dan kosmetik majelis ulama Indonesia atau kita lebih populernya dengan singkatan LPPOM MUI.

Dari produk kosmetik masyarakat sudah mulai mencari kosmetik yang berlabel halal walaupun Indonesia baru memiliki satu industri kosmetik yang memegang label halal. Dari obat-obatan pun sudah terlibat bermunculan obat-obatan yang memiliki label halal meskipun belum semua berlabel halal. Sementara ini obat yang berlabel halal masih didominasi oleh obat sirup. Ada beberapa obat sirup yang sudah mengkantongi sertifikat halal dari LPPOM MUI.

Produk farmasi yakni obat-obatan dan kosmetik dikategorikan halal jika memenuhi 5 kriteria antara lain:

  1. Bahan baku (bukan bahan haram dan tidak tercampur najis)
  2. Proses produksi (halal supply chain)
  3. Branding produk
  4. Infrastuktur
  5. Realitas peredaran

Lima kriteria tersebut menjadi PR terbesar bagi apoteker untuk bisa mewujudkan produk farmasi yang halal walaupun secara bertahap. Bukan hal yang tidak mungkin semua produk farmasi berlabel halal. Sekarang ini menjadi sebuah permasalahan yakni mencari atau menemukan alternatif pengganti bahan baku ataupun proses yang masih belum sesuai dengan kriteria halal, sampai sekarang ini kita masih terkunci pada kata “darurat”. Menjadi sebuah pertanyaan besar, sampai kapan darurat tersebut?

Apakah darurat itu kita biarkan saja? Hingga berlarut-larut dan tanpa ujung waktu? Ataukah kita sudah mulai perlahan-lahan memikirkan dan mencari alternatif pengganti agar kedaruratan tersebut segera berakhir.

Kita ketahui bersama bahwa hal-hal yang haram hanya sedikit. Tetapi menjadi sebuah persoalan ketika kita masih menggunakan turunan dari hal-hal yang haram tersebut. Jika ditelusuri lebih banyak hal-hal yang halal daripada hal-hal yang haram.

Di dalam Al-Qur’an di berbagai surah disebutkan 8 hal yang haram antara lain:

  1. Bangkai
  2. Darah
  3. Babi
  4. Binatang sesajen
  5. Khamr
  6. Judi
  7. Berhala
  8. Mengundi nasib

Sementara ini berbagai obat-obatan dan kosmetik masih ada yang menggunakan turunan dari berbagai hal di atas salah satunya dari babi. Namun, masih banyak masyarakat bahkan apoteker sendiri masih ada yang belum tahu, terlebih untuk kosmetik. Begitu banyak kosmetik yang beredar di pasaran yang masih terpapar dengan produk tidak halal.

Kembali kepada sang produsen yang membuat produk. Jika memang sudah tahu itu tidak halal, maka tidak melanjutkan menggunakannya untuk menjadi sebuah produk. Namun, jika sebaliknya masih tetap bersikukuh keras tetap memakai maka tinggal menunggu ditinggal oleh konsumen.

Begitu pula dengan sang konsumen, jika sudah memahami dan menyadari suatu produk tidak memiliki sertifikat halal maka akan lebih memilih meninggalkan produk tersebut dan mencari produk yang sudah jelas kehalalannya.

Apoteker turut aktif dalam produk halal dengan menyadarkan dan memberikan pemahaman yang benar terhadap kehalalan produk baik pada konsumen ataupun produsen. Dimulai dari produk pangan yakni makanan dan minuman kemudian secara bertahap ke produk kefarmasian yakni obat-obatan dan kosmetik.

Berperan aktif terhadap produk halal dimulai dari apoteker sendiri merambat ke keluarga. Selanjutnya, ke masyarakat luas dan ke seluruh umat. Minimal apoteker sudah mulai berbenah dalam belajar dan berpraktik. Belajar untuk mendalami berbagai obat-obatan yang masih bersinggungan dengan bahan yang tidak halal dan berpraktik untuk merekomendasikan obat-obatan dan kosmetik yang sudah menjadi produk halal.

Jika bukan apoteker yang memberikan rekomendasi terkait obat-obatan dan kosmetik halal siapakah gerangan yang akan memberikan rekomendasi sesuai dengan bidang keilmuannya?

Bukankah satu-satunya profesi yang mendalami dan memiliki ilmu pengatahuan yang mumpuni dalam terkait produk kefarmasian adalah apoteker?

Ataukah mau diserahkan kepada profesi atau kelompok yang tidak memiliki kompetensi sesuai bidangnya?

Semoga para apoteker mau turut aktif berperan dalam menyebarluaskan informasi terkait kehalalan suatu produk kefarmasian. Jika memang itu halal katakanlah halal. Sebaliknya, jika itu memang tidak halal katakanlah tidak halal. Jangan hanya karena keuntungan semata harus merelakan kejujuran dan integritas yang dimiliki oleh seorang apoteker.

Apoteker dan produk halal sebenarnya tidak bisa terlepaskan. Sebab, produk yang dimaksud tidak hanya makanan dan minuman, obat-obatan dan kosmetik pun juga menjadi perhatian masyarakat sekarang ini. Apoteker memegang kunci dalam produk kefarmasian yang halal. Di tangannya produk kefarmasian bisa halal, di tangannya pula produk kefarmasian bisa tidak halal.

Advertisements
SHARE
Previous articleHalodoc Konsultasi Dokter dalam Genggaman
Next articleCegah Luka Lebih Lama Sembuh dengan Memahami Penyebabnya
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.