Apoteker Melestarikan Budaya Diskusi

47
Diskusi IAI KALSEL dan IYPG kalsel
Diskusi IAI KALSEL dan IYPG kalsel | Sumber: @IAIKALSEL

Farmasi.Asia – Budaya diskusi di Indonesia masih sangat minim. Orang-orang Indonesia lebih memilih mengobrol ke sana-ke mari daripada berdiskusi. Memang bedanya apa mengobrol dengan berdiskusi? Bukankah kedua-duanya sama-sama berbicara? Iya, benar. Kedua aktivitas tersebut diisi dengan berbicara; Namun, berbeda. Jika ngobrol bisa sesuka hati tanpa batasan resmi. Sedangkan diskusi, kita diminta untuk berbicara sesuai dengan tema yang akan dibicarakan dengan format resmi ataupun semi resmi.

Di kalangan masyarakat, diskusi masih minim. Berbeda dengan profesi apoteker yang sudah ditempa pendidikan selama 5 tahun dari sarjana hingga menjadi apoteker. Tentu, sudah terbiasa dengan budaya diskusi di kampus. Budaya diskusi ini yang harus tetap dipertahankan ketika sudah lulus menjadi apoteker. Para apoteker yang sebelumnya pernah menjadi seorang mahasiswa yang bersentuhan langsung dengan dunia akademik, bukan menjadi sebuah yang asing lagi bagi mereka dengan satu kata tersebut. Diskusi.

Berdiskusi tidak terpaku hanya pada topik-topik berat, topik-topik ringan pun bisa didiskusikan. Apalagi apoteker zaman sekarang ini harus bisa memperbaharui informasi dan ilmu pengetahuan terbaru. Lewat diskusi menjadi sarana bertukar informasi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing apoteker.

Di dunia kerja, apoteker pun terbagi dalam berbagai bidang. Ada yang di komunitas, rumah sakit, puskesmas, klinik, distribusi, industri, pemerintahan, ataupun dunia akademik. Dari berbagai bidang tersebut itulah bisa menjadi bahan diskusi yang akan dibagikan kepada rekan sejawat sesama apoteker.

Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda saat berada di dunia kerja. Begitu pula dengan apoteker, dia pun memiliki pengalaman yang berbeda-beda antara apoteker satu dengan yang lainnya. Pengalaman itu juga bisa dijadikan bahan diskusi untuk saling membantu dalam meningkatkan kapasitas diri sebagai apoteker.

Diskusi tidak memerlukan biaya yang mahal. Cukup berkumpul di suatu tempat, dengan beberapa orang apoteker, kemudian dilanjutkan dengan memulai diskusi ataupun sama-sama menyepakati terlebih dahulu tema yang akan diangkat menjadi pembicaraan saat berdiskusi.

Dari melestarikan budaya diskusi inilah secara tidak langsung apoteker semakin mengasah setidaknya ada tiga kemampuan yakni kemampuan berbicara, kemampuan berani tampil, dan kemampuan percaya diri.

Kemampuan Berbicara

Ketika disumpah dan resmi menjadi seorang apoteker. Tidak semua apoteker dibekali kemampuan berbicara. Walaupun saat di perkuliahan sudah dibekali salah satunya dengan mata kuliah Komunikasi Informasi dan Edukasi dan berbagai mata kuliah yang menuntut mahasiswa farmasi atau apoteker untuk berbicara. Tetapi, itu semua tidak cukup. Perlu sebuah pembiasaan agar terbentuk sebuah rutinitas dalam berbicara secara formal.

Kemampuan berbicara yang minim inilah yang membuat apoteker menjadi malu-malu. Dia malu bertemu dengan pasien. Dia malu untuk berbicara dengan sesama tenaga kesehatan. Dia pun malu untuk berdiskusi dengan dokter saat terjadi sebuah permasalahan terkait pengobatan pasien.

Apakah apoteker hanya akan berdiam diri saja? Apakah akan tetap malu-malu dengan kondisi kemampuan berbicara yang masih minim ini?

Lewat diskusi apoteker akan belajar tidak malu-malu lagi berbicara, tidak sungkan untuk mengemukakan pendapatnya. Entah itu pendapat yang salah ataupun pendapat yang benar. Setidaknya dengan mau berbicara disaat diskusi menjadi sarana untuk dia meningkatkan ‘jam terbang’ berbicara.

Kemampuan Berani Tampil

Kemampuan satu ini tidak semua apoteker memilikinya. Hanya segelintir bahkan hanya sedikit apoteker yang berani tampil. Tampil di depan pasien, tampil di depan para tenaga kesehatan lain, dan tampil membersamai dokter saat melaksanakan visite ke pasien bahkan tampil di depan masyarakat umum.

Berapa banyak apoteker saat berada di apotek, melihat pasien datang. Malah bersembunyi dan menyuruh TTK untuk melayani pasien? Berapa banyak pula apoteker yang tidak mau membersamai dokter saat melakukan visite ke pasien? Berapa banyak pula apoteker yang tidak mau memberikan informasi secara langsung kepada masyarakat terkait pengetahuan obat-obatan?

Mereka adalah para apoteker yang masih terpenjara dengan paradigma bahwa apoteker hanya berada di belakang layar. Apoteker hanya berorientasi pada produk. Apoteker hanya berinteraksi dengan obat-obatan bukan dengan pengguna obat. Bukankah zaman sudah berubah? Kini, apoteker harus berani tampil. Berani menunjukkan eksistensi keberadaannya di tengah-tengah masyarakat dan tenaga kesehatan lain. Buktikan. Kalau apoteker itu ada. Salah satu cara membuktikannya yakni dengan berani tampil.

Lewat diskusi, apoteker akan tampil di hadapan para apoteker. Tak usah ragu ataupun risih dengan rekan sejawat yang sama-sama apoteker. Mereka pun memahami kondisi yang ada. Mereka pun juga masih ragu-ragu untuk tampil. Tapi, keragu-raguan itu perlahan-lahan akan hilang, ketika satu sama yang lain saling mendukung dan membantu agar kapasitas diri meningkat dan terjadi perubahan yang lebih baik lagi pada diri seorang apoteker.

Kemampuan Percaya Diri

Kemampuan yang terakhir inilah menjadi jawaban dan ujung dari dua kemampuan sebelumnya. Kemampuan berbicara akan mendidik seorang apoteker menjadi berani tampil di depan umum. Kemampuan berani tampil di depan umum ini akan meningkatkan kemampuan percaya diri seorang apoteker.

Jika ditanya mengapa apoteker tidak percaya diri? Jawabannya adalah karena apoteker tidak berani tampil. Mengapa apoteker tidak berani tampil? Tentu, karena apoteker masih minim kemampuan berbicara yang dimilikinya.

Semakin bertambah kemampuan berbicara seorang apoteker maka semakin sering apoteker berani tampil. Akhirnya, semakin bertambah kemampuan percaya dirinya. Kepercayaan diri ini yang diharapkan agar mampu tumbuh di setiap insan apoteker.

Melestarikan budaya diskusi adalah sebuah sarana untuk apoteker mengharumkan keberadaannya di mata masyarakat. Melalui diskusi, apoteker meningkatkan kapasitas diri dari diri sendiri, dari hal sederhana dan dari sekarang. Mari kita melestarikan budaya diskusi di kalangan para apoteker.

Salah satu dari kebiasaan orang-orang besar adalah berdiskusi

Advertisements
SHARE
Previous articleMinum Obat saat Puasa? Apoteker Ambil Peran di Bulan Ramadhan
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.