Apoteker: Pembelajar Sepanjang Masa

653
Apoteker Pembelajar Sepanjang Masa

Farmasi.Asia – Tidak hanya di masa sekarang ini, di masa normal dulu pun, apoteker tetap harus belajar. Belajar dengan berbagai sarana dan prasarana yang ada. Baik itu secara offline maupun secara online. Namun, kondisi sekarang ini sedikit menggeser keadaan. Biasanya apoteker berduyun-duyun untuk mengumpulkan SKP dengan mengikuti berbagai seminar yang diadakan oleh organisasi profesi, kampus, ataupun lainnya. Kini, kondisi merubah segalanya. Berbagai seminar online bertebaran dimana-mana atau kita lebih populer mengenal dengan istilah webinar.

Webinar dengan menggunakan aplikasi zoom, google meet, dan berbagai aplikasi daring lainnya. Baik yang gratis ataupun yang berbayar. Tergantung kondisi calon peserta yang ingin mengikutinya. Dikala memiliki kelebihan keuangan atau sudah menganggarkan biaya bulanan untuk belajar bisa mengikuti yang berbayar. Jikalau tidak ada anggaran ataupun keuangan memang kurang bersahabat bisa mengikuti yang gratis.

Bukan masalah berbayar ataupun gratis dari berbagai webinar yang ada. Namun, menjadi sebuah permasalahan jika seorang apoteker tidak mau meningkatkan kapasitas keilmuan dan menambah wawasan di bidang kefarmasian pada khususnya dan di bidang kesehatan pada umumnya. Apalagi di tengah-tengah kondisi seperti ini, alangkah lebih baiknya apoteker selalu mengikuti dan meng-upgrade diri dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Baik masa normal maupun tidak normal, seorang apoteker tetap harus menjadi seorang pembelajar. Dia akan selalu belajar tanpa mengenal masa. Dia tak akan pernah meninggalkan aktivitas belajar walaupun sudah lama lulus dari program profesi apoteker. Lulus kuliah bukan berarti lulus juga belajarnya. Tapi, lulus kuliah menjadi awal mula seorang apoteker apakah akan terus belajar ataukah sedikit demi sedikit mulai meninggalkan aktivitas tersebut?.

Sekarang ini webinar bertemakan kefarmasian ataupun kesehatan berhamburan infonya di berbagai media sosial baik itu facebook, twitter, instagram, whatapps, dan website. Kembali kepada diri apoteker yang harus memilah dan memilih untuk ikut berpartisipasi ataukah hanya sekilas membaca pengumuman webinar yang ada. Jikapun pilihan jatuh untuk ikut berpartisipasi maka harus meluangkan waktu di jam pelaksanaan webinar tersebut, terlebih jika pada waktu berpraktik. Selain waktu juga harus menyiapkan kuota internet agar tidak mengalami gangguan atau masalah internet saat mengikuti jalannya webinar.

Selanjutnya, jangan sampai lupa hari dan waktu pelaksanaannya, sebab biasanya info yang tersebar jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan, maka dari itu harus ada reminder baik itu di handphone ataupun buku catatan. Nampaknya begitu melelahkan mempersiapkan untuk bisa mengikuti webinar tersebut. Apalagi jika webinar berbayar maka sebagai calon peserta harus mentransfer beberapa rupiah. Jika di handphone sudah terpasang mobile banking, akan menjadi lebih mudah untuk mentransfer. Tetapi, jika belum ada maka harus mendatangi bank atau atm terdekat untuk mentransfer.

Itu semua, jika kita perhatikan adalah sebuah pembelajaran. Pembelajaran bagaimana seorang apoteker bisa mengikuti perkembangan zaman? Akankah seorang apoteker tetap ketinggalan zaman karena terlalu asyik dan nyaman dengan kondisi lama yang sudah ada? Ataukah mau pelan-pelan belajar mengikuti perkembangan zaman? Belajar untuk membiasakan diri pada teknologi yang semakin hari semakin cepat kemajuannya.

Apoteker tidak hanya menjadi seorang pembelajar di bidang kefarmasian ataupun kesehatan. Semua hal yang ada di sekeliling bisa dijadikan sarana pembelajaran. Begitu luasnya ilmu yang ada di dunia ini, tidak hanya ilmu kefarmasian dan kesehatan. Tapi, masih berlimpah hal-hal dan ilmu yang belum kita ketahui bersama-sama.

“Jika semua pepohonan di dunia ini dikumpulan untuk dijadikan pena dan semua air lautan dikumpulkan untuk dijadikan tinta maka tidak akan pernah habis untuk menuliskan ilmu-Nya”

Teramat banyak dan luas ilmu yang ada di dunia ini. Namun, teramat sedikit dan kurang ilmu yang kita pelajari selama ini. Kita hanya berkutat dengan ilmu-ilmu yang sudah dimiliki ataupun ilmu-ilmu yang terdahulu. Jikalau kita tidak membuka diri maka kita tidak akan pernah mendapati ilmu-ilmu yang baru yang bertebaran di muka bumi ini.

Apoteker pembelajar sepanjang masa ialah seorang apoteker yang tak bisa berhenti belajar tanpa mengenal waktu. Sebab, dia menyakini bahwa waktu yang dimiliki tak akan pernah cukup untuk mempelajari semua ilmu kefarmasian dan kesehatan.

Ada lima karakter apoteker pembelajar sepanjang masa antara lain:

Pertama, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saat apoteker memiliki karakter pertama ini maka setiap hari akan menjadi sarana untuk dia selalu belajar sebab apa yang tidak ketahui lebih banyak dari apa yang dia ketahui. Maka dari itu, dia akan selalu belajar untuk menemukan jawaban dari ketidaktahuannya.

Kedua, memiliki kepedulian yang besar. Dengan karakter ini dia akan merasakan berbagai hal yang dialami di sekeliling, menjadikan diri seorang apoteker tidak egois hanya mementingkan diri sendiri. Dari kepedulian inilah dia mampu belajar banyak hal-hal yang terkadang luput dari perhatiannya.

Ketiga, berani jujur pada diri sendiri. Saat seorang apoteker, jujur pada diri sendiri maka dia akan mengatakan hal yang benar adalah benar dan hal yang salah adalah salah. Mungkin selama ini kita bisa tidak jujur dengan orang lain tapi kita tak akan pernah bisa, tidak jujur pada diri sendiri. Kejujuran itulah yang terkadang mulai redup di dalam diri seorang apoteker. Dari kejujuran itu dia akan terus mengasah diri dan terus belajar. Jika kita tidak mampu jujur kepada diri sendiri, kepada siapakah kita akan berkata jujur? Jika kita berkata jujur masih kekurangan ilmu dan pengalaman, maka kita akan terus menambah ilmu dan pengalaman dengan menjadi seorang pembelajar.

Keempat, mau membuka diri. Selama ini banyak dari kita yang masih belum mau membuka diri. Membuka diri dalam artian mau mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat pengetahuan dan teknologi berkembang dan semakin maju, seorang apoteker wajib untuk mengikutinya. Dengan cara belajar agar bisa mengikuti perkembangannya. Ketika tidak mau belajar maka dapat dipastikan akan ketinggalan jauh…

Kelima, memandang setiap masalah menjadi sebuah pembelajaran. Beruntunglah jika kita menemukan masalah berarti kita akan belajar kembali. Dari masalah itu kita dituntut agar bisa menemukan solusi dan cara menemukan solusi yang terampuh itu adalah dengan cara belajar baik itu belajar dari ilmu pengetahuan ataupun belajar dari berbagai pengalaman yang sudah dilalui selama ini.

Demikian lima karakter yang harus dimiliki apoteker sang pembelajar sepanjang masa agar dia setiap hari selalu belajar tanpa mengenal lelah. Belajar itu hasilnya bukan hanya dilihat untuk hari ini tetapi juga untuk esok dan lusa bahkan untuk masa depan. Jadilah apoteker pembelajar sepanjang masa, agar mampu menjadi sebenar-benarnya apoteker. Belajar dari buaian bunda hingga tutup masa usia.

Advertisements
SHARE
Previous articleIkatan Apoteker Indonesia “Usia Lansia, Kebermanfaatan Muda”
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.