Apoteker Selalu Terpercaya untuk Kesehatan Anda

295
HUT APOTEKER 66 PP Ikatan Apoteker Indonesia PPIAI
HUT APOTEKER 66 PP Ikatan Apoteker Indonesia PPIAI | Image: https://www.instagram.com/p/CQPhzbMJnFn/

Farmasi.Asia – Dirgahayu Ikatan Apoteker Indonesia yang ke-66 kali ini mengangkat tema “Apoteker Selalu Terpercaya Untuk Kesehatan Anda”. Tema ini mengandung harapan dan doa bersama  untuk seluruh apoteker Indonesia. Mengapa?

Satu kata yang mengusik dari tema tersebut ialah ‘terpercaya’. Mungkin kita akan bertanya-tanya ada apa dengan kata tersebut? Terpercaya asal dari kata percaya. Sejenak mari kita telusuri makna kata percaya di Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). KBBI menjelaskan arti percaya dalam 4 makna antara lain:

Pertama, mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Kedua, menganggap atau yakin bahwa sesuatu itu benar-benar ada. Ketiga, menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur (tidak jahat dan sebagainya. Keempat, yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu.

Jika kita ubah subjek dari sesuatu dan seseorang dari 4 makna yang diuraikan oleh KBBI mengenai percaya tersebut menjadi sosok apoteker maka akan menjadi poin-poin yang harus diterapkan oleh apoteker.

Apoteker Memang Benar dan Nyata

Harapan pertama yakni apoteker memang memberikan pengobatan yang benar dan nyata. Benar disini bisa diartikan tepat. Seperti yang kita ketahui antara lain: tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu, tepat rute dan cara pemberian. Bukankah itu semua aplikasi dari pengobatan rasional? Untuk itu, apoteker harus bisa mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang selama ini dimiliki terkait pengobatan rasional agar bisa diterapkan kepada pasien demi tercapainya derajat kesehatan pasien yang setinggi-tingginya. Sedangkannya nyata adalah sesuai dengan kondisi yang ada. Apoteker memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan kondisi pasien. Jikalau memang pasien memerlukan obat maka harus diberikan obat. Sebaliknya, ketika pasien tidak memerlukan obat maka pasien pun tidak mengkonsumsi obat. Makna benar berkaitan dengan pengobatan rasional dan makna nyata berkaitan dengan orientasi ke pasien ataukah orientasi ke profit?

Apoteker Memang Benar-Benar Ada

Hal satu inilah yang menjadi PR besar bagi apoteker seluruh Indonesia, memastikan keberadaannya untuk masyarakat. Apoteker ada untuk pasien. Saat pasien berkunjung ke apotek. Apoteker ada di apotek. Selama ini, masih banyak apoteker yang memilih untuk bersembunyi dari apotek, sehingga banyak pasien tidak merasakan keberadaannya. Bagaimana bisa dirasakan jikalau apotekernya tidak ada di apotek? Masihkah kita memilih menjadi apoteker yang hanya ‘dipinjam’ namanya untuk mendirikan apotek. Sedangkan diri apotekernya tidak mau hadir di apotek untuk berpraktik dan menyakinkan kepada masyarakat, jikalau apoteker memang benar-benar ada.

Harapan kedua ini menjadi doa bersama agar semua apotek, tidak hanya ada nama apoteker, tapi juga ada apoteker yang berpraktik di apotek tersebut agar pasien merasakan keberadaannya dan masyarakat pun merasakan manfaat saat dilayani langsung oleh apoteker. Bukankah selama ini masyarakat lebih mengenal  TTK yang dulunya mereka sebut asisten apoteker daripada apoteker? Ini saatnya apoteker membuktikan kepada masyarakat jikau mereka memang benar-benar ada.

Apoteker Itu Jujur

Pada harapan ketiga ini, apoteker diminta untuk jujur. Dimulai dari jujur pada diri sendiri. Mengatakan hal yang benar adalah benar dan mengatakan hal yang salah adalah salah merupakan contoh kejujuran pada diri sendiri. Terkadang diri ini selalu bertolak belakang. Benar dikatakan salah. Salah dikatakan benar. Wajarlah jika ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa sekarang ini jujur harganya sangat mahal. Tak semua orang mampu ‘membeli’ kejujuran dan tak semua orang ‘mampu’ memiliki kejujuran.

Apoteker yang jujur, tidak akan mau namanya digunakan hanya sebatas pendirian apotek saja. Dia akan memilih hadir berpraktik di apotek, sebab dia akan dengan tegas mengatakan tekab itu adalah salah. Karena memang hal tersebut adalah salah. Maka, dia pun mengatakan salah.

Apoteker yang jujur, akan selalu menjunjung tinggi arti kejujuran. Dia rela tidak mendapatkan profit yang tinggi daripada harus tidak jujur kepada pasien dengan menjual obat-obatan yang sebenarnya tidak perlu digunakan oleh pasien ataupun menjual obat dengan harga di atas kewajaran. Berorientasi utama pada pasien daripada orientasi profit. Apakah tidak boleh berorientasi pada profit? Jika orientasi profit maka dipersilahkan tapi sesuai dengan kewajaran.

Jujur itu mata uang yang berlaku dimana-mana. Begitu pula apoteker yang jujur, di mana pun dia berada dia akan tetap berlaku jujur. Baik itu jujur pada diri sendiri ataupun jujur pada orang lain.

Mungkin, kita bisa tidak jujur dengan orang lain tetapi pada hakikatnya kita tidak bisa tidak jujur pada diri sendiri. Terkadang, hati ini menjerit tatkala diri ini tidak mau jujur pada diri sendiri.

Apoteker memiliki kemampuan

Kemampuan yang dimiliki oleh apoteker ialah kompetensi yang melekat pada dirinya untuk bisa berpraktik. Kompetensi terkait seluk beluk kefarmasian ataupun obat-obatan yang memang menjadi kompetensi khas seorang apoteker. Tagline “tanya obat tanya apoteker” mewakili harapan empat ini. Namun, masih banyak di luar sana, apoteker yang masih malu-malu dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Padahal, dia sudah melewati perkuliahan selama 4 tahun saat strata 1 ditambah 1 tahun saat menempuh pendidikan profesi apoteker. Selain itu mereka pun harus melalui serangkaian ujian-ujian untuk meyakinkan kompetensinya melalui UKAI untuk teori dan OSCE untuk praktik.

Kini, sudah saatnya apoteker menunjukkan kemampuan yang dimilikinya tanpa harus ragu-ragu. Hanya soal ‘jam terbang’ yang akan mengasah kemampuannya semakin meningkat. Jika tidak dimulai dari sekarang kapan lagi? Jika tidak dimulai dari diri sendiri siapa lagi?

Kemampuan itulah yang selama ini masih belum dilihat oleh banyak masyarakat sebab apoteker memilih bersembunyi di sela-sela etalase apotek, lebih memilih ‘kabur’ dari apotek, dan lebih memilih memakai jubah ‘hilang’ saat ada pasien yang menuju apoteknya.

Padahal kemampuan itu ada, tapi selama ini apoteker lebih memilih menyembunyikan dan malu-malu untuk memakainya, sebab dia tidak jujur pada diri sendiri, tidak mau ada di apotek, dan terlalu berorientasi pada profit dan belum  maksimal mengaplikasikan pengobatan rasional. Semuanya terwakilkan pada harapan pertama hingga harapan keempat.

Mari berbenah dan berubah menjadi apoteker yang yakin dengan kemampuan diri sendiri, apoteker yang jujur pada diri sendiri, apoteker yang keberadaannya dirasakan oleh masyarakat dan apoteker yang tidak hanya berorientasi pada profit tetapi juga berorientasi pada pasien.

Harapan itu masih ada dan akan selalu terucap menjadi doa. Mari kita wujudkan harapan dan doa tersebut menjadi kenyataan berawal dari perubahan yang lebih baik di HUT ke-66 ini. Selamat Ulang Tahun Ikatan Apoteker Indonesia. Apoteker selalu terpercaya untuk kesehatan Anda.

Advertisements
SHARE
Previous articleApoteker: Pembelajar Sepanjang Masa
Next articlePeluang Bisnis Online di Tengah Pandemi
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.