Benarkah Apoteker (Tidak) Bisa Memiliki 3 SIPA?

955
Kapan Apoteker Tidur
Farmasi.Asia - Kapan Apoteker Tidur?

Pagi hingga siang berpraktik di puskesmas
Siang hingga malam berpraktik di rumah sakit
Malam hingga pagi berpraktik di apotek 24 jam

Sungguh, itu sebuah pemikiran seorang apoteker yang baru lulus dan masih jomblo alias belum menikah. Nampak semangat sekali berpraktik dengan berbagai macam tujuan dan impian yang ingin digapai dari segelintir praktik-praktik tersebut.

Berpraktik di tiga sarana kefarmasian. Ini tak luput dari diputuskannya beberapa tahun yang lalu ketentuan apoteker bisa memiliki 1 SIA dan 3 SIPA. Lebih tepatnya pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 31 Tahun 2016 tentang registrasi, izin praktik, dan izin kerja tenaga kefarmasian. Satu SIA dimaknai dengan apoteker tersebut bekerja sebagai penanggungjawab (APA) dengan 1 SIPA. Sedangkan 2 SIPA lainnya bertindak sebagai apoteker pendamping (Aping) di sarana kefarmasian lainnya (walaupun sekarang istilah APA dan Aping sudah dihilangkan dari peraturan).

Dengan adanya Permenkes tersebut, maka diperbolehkanlah apoteker berpraktik di tiga sarana kefarmasian dengan ketentuan satu sarana sebagai apoteker penanggungjawab dan dua sarana sebagai apoteker pendamping. Menjadi sebuah kelumrahan, setiap ada kebijakan akan menimbulkan pro dan kontra. Begitu pula dengan kebijakan diterbitkan Permenkes yang berkaitan dengan ini.

Sebelum perbincangan kita ini terlalu jauh. Ada baiknya kita telusuri sejenak. Apakah yang
mendasari dikeluarkannya Permenkes No. 31 Tahun 2016 ini? Berikut penuturan Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia:

“Tiga SIPA dimaksudkan baik untuk para apoteker yang bekerja pada wilayah-wilayah minim apoteker. Misalnya saja di satu daerah terdapat beberapa apotek yang apotekernya hanya sedikit sekali, kami mencoba mengakomodir apoteker-apoteker tersebut agar diakui legal secara hukum”

Ternyata itu, asbabun nuzul diturunkannya Permenkes No. 31 Tahun 2016. Ikatan Apoteker Indonesia mengakomodir para apoteker agar bisa berpraktik dengan leluasa (baca: lebih dari 1 sarana kefarmasian) di daerah yang minim apoteker. Dari maksud diturunkannya itu pun kita bisa sedikit memahami bahwa apoteker diharapkan bisa berinteraksi langsung dengan pasien saat berpraktik. Bukan malah hanya “dipinjam nama” dan menjadi “makhluk misterius”, ada nama tapi tak ada orangnya. Dengan catatan, harus kita garis-bawahi untuk daerah-daerah yang minim apoteker maka tiga SIPA ini bisa digunakan oleh apoteker.

Bagaimana dengan daerah yang sudah berlimpah apoteker? Apakah tiga SIPA ini juga bisa
digunakan?

Ketika di suatu daerah sudah memiliki tidak sedikit apoteker. Alangkah lebih indahnya, jika peluang praktik kita berikan kepada teman sejawat atau bahkan pada apoteker-apoteker muda yang baru lulus. Sungguh, ini pilihan yang sangat bijak. Sebab, kita beorientasi kepada pasien (patient oriented) bukan kepada uang (money oriented). Selain itu, kita juga membantu mengharumkan kepercayaan apoteker di mata masyarakat, dengan interaksi langsung kita kepada pasien.

Dengan adanya apoteker di apotek dan berinteraksi langsung dengan pasien maka pasien akan merasakan keberadaan apoteker. Ketika dicari, apoteker dengan tersenyum menunjukkan keberadaan dirinya dihadapan pasien. Bukan seperti sekarang ini, saat dicari malah tidak terlihat batang hidungnya.

Jika peraturan ini dijadikan money oriented. Inilah yang menjadi pangkal masalah. Citra apoteker di mata masyarakat menjadi menurun dan seorang apoteker akan berpeluang menjadi oknum “apoteker tekab“.

Tidak usah mengkhawatirkan tentang rezeki. Tatkala kita berusaha dengan maksimal dan selagi masih mau berusaha tanpa harus menjadi seorang oknum pun, kita masih memiliki dan diberikan rezeki sesuai dengan kadar dan kemampuan kita menerima serta mengelola rezeki tersebut.

Penghasilan apoteker masih minim bahkan di bawah UMR

Mindset inilah yang harus sama-sama kita ubah. Mindset bekerja untuk berpraktik. Bekerja bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan semata-mata. Jika tujuannya hanya penghasilan, maka peluang menjadi oknum tekab menjadi terbuka bahkan terlegalkan dengan adanya 3 SIPA.

Minimnya penghasilan apoteker juga disebabkan oleh masih adanya oknum yang mau nerima penghasilan apa adanya, sebab dia tidak berpraktik. Jika dia berpraktik, maka tidak akan mungkin ada penghasilan yang minim. Apalagi berpraktik dengan profesional, langsung berinteraksi dengan pasien sehingga meningkatkan kepercayaan pasien dan omset apotek. Secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatkan apoteker pula.

Masalah inilah yang harus sama-sama kita selesaikan. Apoteker itu harus praktik sebab dengan praktik itu kita bekerja.Tapi, bekerja belum tentu berpraktik. Muncul sebuah istilah yang sudah lama digaungkan No Pharmacist No Service. Tidak ada apoteker tidak ada pelayanan.

No Pharmacist No Service adalah langkah awal untuk mengatasi keminimalan apoteker berinteraksi dengan pasien, kelangkaan apoteker untuk hadir di sarana kefarmasian. Apoteker ada untuk pasien. Bukan apoteker ada untuk nama apotek. Selama ini apoteker ada hanya untuk nama apotek, dalam artian namanya digunakan untuk mendirikan apotek. Sedangkan dirinya tidak ada di apotek untuk berpraktik. Bagaimana mau mengubah citra dan kepercayaan masyarakat terhadap diri apoteker selagi masih ada yang menjadi oknum tekab? Padahal sekarang ini orientasi apoteker adalah pasien.

Kembali ke pembahasan tiga SIPA. Tiga SIPA tidak bisa dijadikan alasan untuk “memperkaya” diri dengan penumpukan penghasilan semata-mata. Hanya karena masih minimnya penghasilan apoteker. Tapi, tiga SIPA ini dijadikan sebagai ajang ‘tunjuk diri’ apoteker ke masyarakat agar apoteker ada untuk masyarakat di daerah-daerah yang masih minim apoteker.

Dari fakta ini pula menjadi evaluasi diri bagi apoteker-apoteker yang berada di daerah yang berlimpahnya apoteker. Apakah tidak mau melihat sesama apoteker berpraktik sehingga dia harus menggunakan kesempatan 3 SIPA? Tak bisakah kita berbagi ke sesama apoteker? Terlebih kepada apoteker-apoteker muda yang mereka masih seumuran jagung. Mereka hendak berpraktik tetapi kita tidak mendukung mereka untuk berpraktik. Malah sebaliknya, masih turut mengikuti keegoisan diri sendiri.

Selain itu pula, menjadi refleksi diri agar apoteker mau berpraktik di daerah yang masih minim apoteker. Kita semua harus saling bahu membahu memperjuangkan citra apoteker. Ini tugas bersama. Bukan hanya diemban satu orang apoteker saja tapi ini diemban oleh seluruh apoteker Indonesia. Ayo apoteker Indonesia.

Dirimu terbit bagai mentari. Bersinar terang pancarkan citra
Darimu terharap insan IAI. Berpadu satu membangun bangsa

Advertisements
SHARE
Previous articleKatakan TIDAK Pada “Teken-Kabur”
Next articleMinum Obat saat Puasa? Apoteker Ambil Peran di Bulan Ramadhan
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.