Berapakah “Harga Jual” Apoteker?

135
berapa gaji apoteker baru lulus
Farmasi.Asia - Berapa "Harga" Apoteker? (ilustrasi)

Ketika seseorang ingin menjual sesuatu baik itu barang maupun jasa maka seseorang yang memiliki sesuatu itulah yang akan menentukan harga jualnya. Tentu, saat ingin menjual sang pemilik akan menentukan harga yang tinggi ataupun yang pas di pasaran. Berbeda hal, ketika sang pemilik tersebut memang tidak hendak mendapatkan untung, minimal dia bisa balik modal, maka dia menjual seadanya. Tetapi, lumrahnya saat seorang berjualan dia berharap keuntungan dan tidak menginginkan kerugian.

Begitu pula dengan seorang apoteker yang hendak “menjual dirinya”, walaupun kita ketahui bersama di apotek akan ada dua hal yang bisa dijual yakni barang dan jasa. Tapi, sebelum apotek itu berdiri apoteker yang akan menjual dirinya pada sang pemilik modal; dengan catatan apoteker berpraktik bukan pada apoteknya sendiri.

Di lapangan, akan dijumpai beragam “harga jual” apoteker. Tergantung diri apoteker yang akan menentukan harga jualnya. Dijual dengan harga sewajarnnya atau bahkan tidak sewajarnya. Harga jual inilah yang bisa dikatakan sebagai parameter seorang apoteker bisa menghormati dan menghargai profesi apoteker. Saat seorang apoteker mampu menghormati dan menghargai profesinya maka tidak menutup memungkinan orang lain pun akan ikut menghormati dan menghargai profesi apoteker. Bagaimana mungkin profesi apoteker bisa dihormati dan dihargai saat apotekernya sendiri tidak mampu menghormati dan menghargai profesi yang diembannya?

Pengurus pusat Ikatan Apoteker Indonesia mengadakan rapat kerja nasional yang salah satu pembahasannya terkait standar jasa profesi apoteker, walaupun tidak disebutkan berapa minimun standar jasa profesi apoteker sebab memang sampai sekarang belum ada regulasi standar minimum jasa profesi apoteker di Indonesia yang terpusat, terstandar, dan mengikat. Untuk, itu mengenai standar ini dikembalikan pada kebijakan masing-masing pengurus daerah. Sebab, masing-masing daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda.

Pengurus daerah pun mengeluarkan kebijakan mengenai standar tersebut. Namun, nyatanya masih banyak apoteker-apoteker yang berada di daerah tersebut yang belum mengetahui kebijakan yang telah dikeluarkan, terlebih untuk para apoteker-apoteker yang baru disumpah. Jika mereka tidak menjalin silaturahmi atau komunikasi pada pengurus ikatan apoteker Indonesia baik di tingkat cabang maupun di wilayah, maka dia tidak mengetahui kebijakan yang telah dibuat tersebut.

Akibatnya, apoteker yang tidak mengetahui kebijakan akan mengambil keputusan dengan “menjual apoteker” di bawah standar bahkan di bawah UMR. Padahal, sudah berapa banyak biaya, tenaga, waktu dan pikiran yang terkuras dan terhabiskan saat menempuh pendidikan dari jenjang sarjana hingga profesi apoteker. Wajarkah harga jual tersebut? Ataukah memang sang diri mau menerima seadanya walaupun tidak berbanding lurus dengan banyak pengorbanan yang telah dilalui saat nempuh pendidikan?

Standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi pun terkadang hanya selintas standar yang ada di atas kertas. Masih banyak oknum-oknum apoteker yang membuat perjanjian di “bawah tangan”, rela dihargai di bawah standar profesi ataupun UMR. Karena, pada pelaksanaannya tergantung diri apotekernya yang akan menjual berapa “harga dirinya”?

“Harga jual” apoteker berbanding lurus dengan harga praktik yang akan dilaksanakan di apotek. Bagaimana mungkin menawarkan harga jual yang standar bahkan tinggi, sedangkan diri apoteker sendiri tak mau berpraktik hanya sekilas terlihat setiap bulan ada di apotek?

Ini menjadi pekerjaan besar bersama. Apoteker masih mengikuti tradisi lama. Saat kerja di apotek masih identik dengan istilah teken kabur. Begitu mudahnya pekerjaan apoteker tersebut, hingga masyarakat pun berkeinginan anak-anaknya kelak bisa menjadi apoteker yang bekerja santai tapi dibayar walaupun tidak berpraktik dan tidak sesuai dengan standar yang telah diterapkan.

Ada kemungkinan menjadi sebuah kesia-siaan perjuangan para pengurus organisasi profesi, saat kebijakan yang dibuat untuk mensejahterakan anggotanya malah disalahgunakan oleh anggotanya sendiri, dengan cara mengingkari kebijakan tersebut. Dikatakan mengingkari saat sudah mengetahui ada kebijakan tersebut tetapi tidak memperjuangkan agar bisa menerapkan kebijakan yang ada. Dengan cara “menjual apoteker” kepada pemilik modal seharga yang telah ditentukan.

Kembali lagi ke praktik apoteker. Inilah yang selama ini orang lain di luar kefarmasian yang tidak mengetahui. Mereka mengira apoteker hanya berkewajiban menandatangi berbagai berkas administrasi perapotekan setiap bulan tanpa ada praktik. Wajar, jika mereka tidak mau membeli ‘apoteker’ dengan harga yang terstandar atau dirasa tinggi.

Sebuah kunci dari permasalahan ini, kembali kepada diri pribadi sang apoteker yang akan menentukan “harga apoteker” di mata masyarakat awam. Ketegasan pada diri sendiri yang bisa meningkatkan harkat dan martabat apoteker di tengah-tengah masyarakat. Kekompakan pada semua apoteker, untuk tidak ‘menjual’ apoteker dengan harga yang relatif rendah. Kekompakan inilah yang belum terjadi antar semua apoteker di suatu daerah. Jika terjadi kekompakan maka semua orang yang ingin ‘membeli’ apoteker, mau tidak mau mereka harus membeli dengan harga yang telah ditetapkan bersama.

Seperti halnya di suatu daerah para pekerja fotokopi, mereka kompak dan sepakat di daerahnya menerapkan harga fotokopi serentak tidak berbeda-beda. Maka di mana pun dan kapan pun , saat seorang ingin memotokopi, dia akan mendapatkan harga fotokopi serentak sama dan mau tidak mau berapapun harganya tetap diterima dan dibayar oleh masyarakat.

Hanya kumpulan para pekerja fotokopi bisa menyamakan suara dan kekompakan saat bekerja. Bagaimana dengan seorang apoteker yang sudah bertahun-tahun menempuh pendidikan dan berbagai pengalaman yang dilalui, belum bisakah menerapkan kekompakan ini? Jikalau belum bisa kompak secara nasional, minimal dalam lingkup daerah. Ketika lingkup daerah pun tidak bisa, berharap dalam satu cabang anggotanya menerapkan kekompakan yang sama. Namun, saat di dalam satu cabang pun tidak bisa kompak. Apa yang bisa dilakukan lagi? Bukankah kekompakan itu bisa terjadi saat bersama-sama. Pada saat sendiri, tak akan bisa menemukan kekompakan. Pada saat sendiri yang bisa dilakukan seorang apoteker adalah ketegasan pada diri sendiri. Pada saat bersama bisa dilakukan kekompakan bersama-sama.

Berapapun ‘harga jual’ apoteker. Jika sudah ada ketegasan pada diri sendiri dan kekompakan bersama-sama maka perlahan-lahan apoteker akan semakin terlihat jati dirinya, keberadaannya dan rasa penghormatan dan penghargaan pada profesi apoteker. Bukankah ini yang sangat kita impi-impikan dari dahulu?

Bagaimana mungkin impian itu bisa terjadi?
Saat kita masih mementingkan kepentingan diri sendiri
Apoteker sesukanya “dibeli”
Tak ada sedikit pun rasa ingin menghormati dan menghargai

Advertisements
SHARE
Previous articleMencari Sosok Teladan Apoteker
Next articleMengapa terjadi “Pemotongan” Apoteker di Rumah Sakit?
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.