Minum Obat saat Puasa? Apoteker Ambil Peran di Bulan Ramadhan

567
Minum Obat saat Puasa

Ibadah adalah semua aktivitas yang membawa pada kebaikan

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Bulan yang berisi kebaikan. Segala aktivitas yang dilakukan di bulan ini adalah kebaikan. Bahkan hingga tidur seseorang pun di bulan Ramadhan adalah kebaikan untuk menunjang seseorang tersebut beribadah saat siang dan malam.

Ibadah tidak hanya sekadar ritual yang dilakukan sendiri seperti sholat, mengaji, puasa, sedekah dan lainnya. Tetapi, ibadah memiliki makna luas. Apapun itu selagi mengandung kebaikan maka akan bernilai ibadah. Begitu pula dengan bekerja atau berpraktik yang bernilai kebaikan maka menjadi ibadah.

Semua umat Islam berlomba-lomba dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan. Bukan hanya karena bulan ini bulan yang penuh kebaikan tetapi juga penuh dengan pahala yang berlimpah. Lewat praktik pun seseorang bisa memperoleh banyak kebaikan dan pahala di bulan Ramadhan. Ini adalah momentum besar bagi apoteker. Untuk segera mengambil peran di bulan Ramadhan.

Tentu, peran yang hanya bisa dilakukan oleh apoteker terkait obat-obatan. Masih banyak
masyarakat yang belum memahami penggunaan obat-obatan di bulan Ramadhan. Inilah sasaran yang perlu digarap oleh apoteker. Setiap apoteker berkewajiban memberikan pemahaman dan penjelasan terkait penggunaan obat di bulan Ramadhan kepada masyarakat. Perantara inilah yang akan menjadi ladang kebaikan apoteker yang masih minim dirasakan oleh masyarakat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia lewat program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) telah gencar mempublikasikan informasi yang berkaitan dengan Ramadhan antara lain:

  1. Penggunaan obat saat puasa
  2. Bagaimanakah jadwal obat yang diminum?
  3. Bagaimanakah dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?
  4. Tidak semua obat membatalkan puasa

Mari kita telusuri lebih dalam satu per satu informasi yang dikeluarkan oleh KEMENKES RI tersebut.

  1. Penggunaan obat saat puasa
    Selama bulan ramadhan pola makan dan minum akan berubah. Waktu yang leluasa untuk minum obat dari 24 jam menjadi 10,5 jam. Bagaimana cara kita meminun obat agar efek terapi menjadi optimal?
  2. Bagaimana jadwal obat yang diminum?
    Obat yang diminum satu kali sehari, diminum saat sahur atau berbuka. Obat yang diminum dua kali sehari, diminum saat sahur dan berbuka. Obat yang diminum tiga kali sehari, bisa dengan diganti sediaan yang melepaskan perlahan-lahan atau diganti obat jenis lain yang memiliki khasiat sama namun bekerja lebih panjang. Tetapi, jika tidak bisa diganti. Maka, menggunakan rentang waktu yang sama, setiap 5 jam yakni jam 18.00 menjelang berbuka puasa, 23.00 menjelang tengah malam dan 04.00 ketika sahur. Baca juga: Kapan Minum Obat Jika Sedang Berpuasa?
  3. Bagaimana dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?
    Obat yang diminum sebelum makan, berarti sekitar 30 menit sebelum makan sahur atau
    makan malam. Obat yang diminum sesudah makan, berarti kira-kira 5-10 menit sesudah makan. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, maka dapat makan dulu dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.
  4. Tidak semua obat membatalkan puasa
    Para ulama dan ahli medis di Maroko pada tahun 1997 bersepakat bahwa obat yang dalam bentuk tidak diminum melalui mulut dan tidak masuk saluran cerna, maka obat tersebut tidak membatalkan puasa antara lain:

a. Obat yang diserap melalui kulit. Contoh: krim, salep, gel, dan plester
b. Obat yang diselipkan di bawah lidah (sublingual). Contoh: Nitrogliserin untuk angina pektoris
c. Obat-obat yang disuntikkan, baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena. Kecuali pemberian makanan melalui intravena
d. Obat tetes mata, hidung, dan telinga
e. Obat kumur, sejauh tidak tertelan
f. Obat asma berbentuk inhaler
g. Pemberian gas oksigen dan anastesi
h. Suppositoria atau Ovula

Dari keempat informasi yang dikeluarkan KEMENKES RI tersebut bisa dijadikan panduan bagi apoteker dalam memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penggunaan obat di bulan Ramadhan. Dengan menebarkan informasi tersebut secara tidak langsung kita pun beribadah sebab kita membantu masyarakat untuk tetap sehat dan tetap bisa menjalankan berbagai ibadah di bulan Ramadhan salah satunya puasa.

Begitu banyak media yang bisa kita gunakan saat ini dalam menyampaikan informasi tersebut. Baik secara offline maupun secara online. Tetapi, jika untuk lebih mendekatkan apoteker dengan pasien, alangkah lebih baiknya, kita menjelaskan secara langsung kepada pasien ketika saat berpraktik. Namun, informasi-informasi tersebut bisa juga dijadikan bahan materi saat penyampaian ceramah atau penyuluhan untuk masyarakat luas.

Jikalau bukan apoteker yang mengambil peran untuk menyampaikan informasi tersebut? Siapakah lagi yang akan menyampaikan informasi tersebut?

Dengan mengambil peran di bulan Ramadhan. Apoteker pun secara bertahap akan muncul
keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Selama ini masyarakat hanya mengenal apotek tapi tak mengenal apoteker. Dari dirasakannya keberadaan apoteker di tengah-tengah masyarakat, maka akan semakin meningkatkan kepercayaan dan citra apoteker di mata masyarakat.

Contoh di atas, menyebarkan informasi tentang penggunaan obat di bulan Ramadhan, hanya segelintir dari peran yang bisa diambil apoteker. Begitu banyak lagi peran apoteker yang bisa diambil saat bulan Ramadhan. Praktik bertanggungjawab, melayani masyarakat ataupun pasien saat berobat, terlibat dalam acara bakti sosial, dan berbagai aktivitas keprofesian lainnya yang beraromakan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan.

Ambillah peran jika itu sebuah kebaikan
Peran yang di mata masyarakat sangat diharapkan
Berbagi sedikit ilmu pengetahuan
Tuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan
Hingga berjumpa dengan hari kemenangan

Advertisements
SHARE
Previous articleBenarkah Apoteker (Tidak) Bisa Memiliki 3 SIPA?
Next articleApoteker Melestarikan Budaya Diskusi
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.