Ikatan Apoteker Indonesia “Usia Lansia, Kebermanfaatan Muda”

812
Dirgahayu Ikatan Apoteker Indonesia 65
Sumber: https://www.instagram.com/ppiai/

www.Farmasi.asia – Tak terasa dan tak terkira, kini IAI sudah berusia 65 tahun. Usia yang sudah tidak terlalu muda lagi. Masa-masa lansia. Tapi, di tengah-tengah usia tersebut masih banyak hal yang bisa diperbuat oleh anggota apalagi pengurus untuk semakin terlihat kebermanfaatnya di mata masyarakat Indonesia.

Semoga kebermanfaatan IAI tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia tetapi dirasakan terlebih dahulu oleh para anggotanya. Anggota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari anggota lama hingga anggota baru yang setiap tahun selalu bermunculan seusai sumpah profesi. Kebermanfaatan anggota ini yang paling penting, sebab yang ada di dalam IAI adalah anggotanya sendiri. Jangan sampai anggota tidak merasakan keberadaan bahkan kebermanfaatan organisasi profesi ini.

Sebuah pepatah berujar,

“Jangan pernah kau tanyakan apa yang diberikan sebuah organisasi untukmu. Tapi, tanyakanlah kepadamu apa yang sudah kau berikan untuk organisasi”.

Tentu, dengan anggota memberikan ‘sesuatu’ kepada organisasi, anggota berharap organisasi pun bisa mengayomi dan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.

Terlebih untuk apoteker-apoteker baru. Mereka sering kehilangan arah. Pasca sumpahan, terjun langsung di dunia yang mereka hanya sekilas mengetahui saat melalukan praktik kerja profesi apoteker. Mereka mencari petunjuk, mereka juga mencari sebuah arahan agar bisa menjadi sebenar-benarnya apoteker.

Inilah yang terkadang tidak dirasakan oleh apoteker-apoteker baru yang masih berumur jagung. Mereka kehilangan arah dan kendali. Tak ada yang menuntun bahkan memberikan suri teladan yang baik saat hendak melakukan praktik kefarmasian di sarana masing-masing. Kehadiran IAI sangat mereka harapkan. Secercah cahaya minimal mereka lihat saat hendak melewati jalan-jalan praktik di luar sana.

Terkadang mereka juga bingung, apa yang harus mereka lakukan setelah sumpahan? Mau kemana mereka setelah disumpah? Ikatan Apoteker Indonesia itulah jawaban dari semua itu. IAI adalah kendaraan dan wadah untuk apoteker-apoteker yang kebingungan tersebut. IAI pula yang didamba-dambakan mampu melahirkan insan-insan teladan yang mampu dijadikan contoh dan rujukan bagi seluruh anggotanya.

Mereka bukan anak kecil lagi. Mereka sudah dewasa.

Apakah suri teladan itu hanya diperlukan oleh anak kecil? Sedangkan orang dewasa tidak memerlukannya?

Semua manusia yang masih bertahan hidup, tentu memerlukan arahan, petunjuk, dan nasihat. Suri teladan itulah yang patut diteladani dan dicontoh. Pastilah teladan dalam kebaikan bukan dalam keburukan. Tak ada yang mau mencontoh hal-hal yang buruk sebab akan berbuah keburukan pula. Apabila itu kebaikan maka contoh dan amalkanlah sebab akan berbuah kebaikan pula.

Anggota IAI mendambakan kehadiran suri teladan tersebut. Tidak hanya anggota baru tetapi anggota lama pun berharap demikian. Lewat IAI, mereka berharap akan terfasilitasi agar semakin menguatkan azzam dan tekadnya untuk selalu di jalan yang benar dalam kehidupan sehari-hari.

Jikalau bukan pengurus. Siapakah lagi kunci dari suri teladan yang ada di IAI? Dari berbagai jenjang pengurus baik itu dari pengurus cabang, pengurus daerah, maupun pengurus pusat.

Pengurus organisasi adalah gambaran organisasi

Saat pengurusnya baik maka organisasi pun akan baik. Begitu pula sebaliknya, jika pengurusnya buruk maka akan berdampak keburukan pada organisasi. Pengurus IAI merupakan apoteker-apoteker yang sudah lama disumpah, sudah lama berpraktik, dan sudah lama berkecimpung di dalam dunia kefarmasian. Waktu yang lama itulah yang akan menjawab segalanya.

Waktu selalu berkaitan dengan usia atau umur. Semakin lama atau semakin berumur seseorang maka seharusnya dia akan semakin bijaksana dalam memahami berbagai persoalan dalam kehidupan. Apalagi hingga menjelang atau bahkan lansia. Dari kebijaksanaan dan pemahaman akan kehidupan itulah muncul sebuah arti dari kebaikan. Sebab sudah terlalu banyak hari-hari yang dilewati, sudah terlalu banyak pula berbagai pengalaman keburukan dan kebaikan yang ditemui.

Bukankah kini saatnya untuk berbagai kebaikan? Masih ingatkan kita dengan kakek atau nenek kita dahulu. Saat mereka bertutur kisah maka mereka akan menceritakan hal-hal yang baik untuk cucu-cucu mereka. Sesekali mereka berkisah tentang keburukan namun bukan untuk dicontoh tetapi untuk dijadikan pelajaran dan hikmah agar tidak terulang kembali. Tapi, mayoritas mereka akan bercerita tentang kebaikan-kebaikan yang telah mereka lalui di masa silam.

Jika kakek dan nenek itu adalah IAI maka anggota-anggota IAI inilah sebagai cucu-cucu mereka. Cucu-cucu yang ingin melihat contoh yang baik, perkataan yang baik dan akhlak yang baik agar bisa mereka terapkan di kehidupan yang akan datang.

Semua pengurus menjadi cerminan kondisi IAI. Pengurus yang mampu mengayomi anggota bukan hanya sekadar membuat ‘repot’ anggota dengan berbagai kebijakan yang sangat bertentangan dengan realita yang ada di lapangan. Kebijakan yang kadang menjerat anggota, kebijakan yang membuat anggota tidak mau mencontoh hal-hal yang telah dialami dengan kebijakan tersebut.

Anggota rindu ingin melihat contoh yang baik, perkataan yang baik dan akhlak yang baik dari para pengurus organisasi, karena pengurus organisasilah yang ingin mereka jadikan contoh.

Semakin bertambah usia maka semakin bertambah pula amal dan kebaikan. Bukan menjadi semakin bertambah usia namun semakin bertambah pula keburukan yang ada di dalam diri ini.

Menjadi sebenar-benarnya apoteker adalah impian dari setiap apoteker. Impian yang kehadirannya ditunggu-tunggu dan ketiadaannya dicari-cari.

Itulah kunci dari sebuah kebermanfaatan. Saat kita belum ada, orang-orang menunggu-nunggu kehadiran kita. Saat kita tidak ada, orang-orang akan mencari-cari keberadaan kita.

Rumus 3 Sa dari aa Gym ini menjadi sarana keberadaan IAI di tengah-tengah anggota dan masyarakat. Apakah itu 3 Sa? Saya aman bagimu. Saya menyenangkan bagimu. Saya bermanfaat bagimu

Biarkan anggota dan masyarakat semakin merasakan keamanan, kesenangan dan kebermanfaat yang ada pada Ikatan Apoteker Indonesia. IAI memberikan rasa aman, senang, dan manfaat kepada anggotanya. Dilanjutkan apoteker yang memberikan rasa aman, senang, dan manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam dunia kefarmasian Indonesia.

Selamat Milad IAI. Kehadiranmu adalah jati dirimu. Kita tunjukkan kepada Indonesia. Apoteker hadir untuk rakyat Indonesia. Usiamu boleh lansia tetapi semangat dan kebermanfaatanmu harus selalu muda. Bravo…

Advertisements
SHARE
Previous articleJangan jadikan Dexamethasone sebagai Camilan
Next articleApoteker: Pembelajar Sepanjang Masa
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.