Katakan TIDAK Pada “Teken-Kabur”

449
apoteker tekab meme by farmasi.asia

Farmasi.Asia – Fenomena “teken-kabur” atau lebih dikenal dengan istilah TEKAB, sudah tidak asing lagi bagi para apoteker. Teken-kabur adalah istilah yang digunakan untuk apoteker yang hanya datang ke apotek beberapa kali dalam sebulan. Bahkan, lebih parah lagi, oknum tersebut ada yang hanya datang sekali dalam sebulan, sebatas menandatangani surat pemesaran, copy resep dan laporan bulanan. Itukah yang disebut dengan apoteker masa kini? Apoteker Tekab?

Dulu memang kita ketahui bersama bahwa apoteker masih minim berada di satu daerah, sehingga (walaupun ini tidak dibenarkan) mereka harus melaksanakan ritual teken kabur saat membuka apotek. Ada yang bekerja di rumah sakit, ada pula yang di puskesmas menjadi pekerjaan utama. Saat membuka apotek, mereka merasa hanya ‘berkewajiban’ menandatangai beberapa berkas bulanan.

Itu dulu, bukan sekarang. Dulu populasi apoteker di Indonesia bisa dikatakan sedikit. Sekarang? Apoteker di Indonesia sudah melimpah ruah, bahkan sebuah anekdot menuturkan bahwa lebih mudah mencari apotek daripada mencari tambal ban, sebab apotek sudah ada di mana-mana (walaupun ini hanya berlaku di daerah-daerah tertentu). Ini membuktikan bahwa populasi apoteker memang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Kita telusuri sejenak website forlap dikti ditampilkan bahwa jumlah pendidikan profesi apoteker di Indonesia sebanyak 41 perguruan tinggi. Pendidikan profesi apoteker setiap tahun meluluskan 2 angkatan. Jika kita hitung dengan jumlah minimal mahasiswa profesi apoteker per angkatan misalkan 40 orang, maka ada 80 mahasiswa yang menjadi apoteker setiap tahun di satu program pendidikan profesi apoteker. Jika kita kalkulasikan 41 perguruan tinggi dikali 80 mahasiswa menghasilkan 3.280 apoteker setiap tahun. Itu menggunakan perhitungan minimum. Jika menggunakan perhitungan masing-masing perguruan tinggi tentu berbeda-beda dan pasti lebih banyak lagi apoteker yang dilahirkan setiap tahunnya.

Dengan jumlah apoteker yang lahir ribuan setiap tahun, apakah masih jamannya untuk ikut-ikutan tradisi salah yang selama ini kita saksikan bersama? Ini adalah pekerjaan rumah terbesar bagi seluruh apoteker untuk bisa mewujudkan tradisi baru.

Para investor pun masih berpikiran bahwa apoteker masih bisa ‘dipinjam nama’. Dengan cara memakai nama atau SIA sang apoteker, mereka bisa mendirikan apotek tanpa harus ada apoteker. Apakah kita hanya berdiam diri saja melihat kondisi seperti ini dari tahun ke tahun tanpa sebuah perubahan yang lebih baik lagi?

Orang awam atau orang yang tak tersentuh dunia kesehatan, berpikiran bahwa enak menjadi seorang apoteker. Hanya dipinjam ‘namanya’, hanya datang sekali dalam sebulan, sudah bisa bergaji setiap bulan. Kelihatannya menarik dan sungguh menjanjikan. Maka dari itu, mereka berbondong-bondong meminta agar anak-anak mereka mengambil kuliah jurusan farmasi, agar kelak anak mereka bisa merasakan ‘kenyamanan’ dunia apoteker. Nyatanya, apakah seperti itu gambaran yang dirasakan sang anak saat sudah lulus menjadi seorang apoteker?

Sekarang ini, profesi apoteker tidak lagi berorientasi pada produk. Tapi, berorientasi pada pasien. Dimana, apoteker juga ikut tertanggungjawab terhadap pasien. Istilah yang lebih populernya yaitu pharmaceutical care, asuhan kefarmasian. Bagaimana ceritanya apoteker bisa menjalankan asuhan kefarmasian jika ia masih menjalankan ritual tekab?

Ketika seorang apoteker berorientasi pada pasien maka dia harus ada untuk pasien. Tidak lagi malu-malu hanya di ‘belakang layar’ atau bahkan kabur tak mau berpraktik di apotek tapi setiap bulan menerima gaji dari apotek.

Mindset semua apoteker harus mulai sama-sama diubah, bahwa tidak ada lagi ritual tekab. Cukup generasi dulu yang mengalaminya. Generasi yang akan datang dan sekarang hanya mengenal satu kata yakni praktik. Tradisi inilah yang harus kita bangun perlahan-lahan agar citra apoteker di masyarakat semakin dipercaya.

Pemangku kebijakan pun harus turut berperan aktif dalam menghapus tradisi lama ini, misalnya dengan adanya ketegasan dari pihak organisasi profesi terkait apoteker yang berpraktik di apotek. Misalnya dengan disyaratkan menandatangi perjanjian di atas materai terkait kesediaan berpraktik di apotek. Jika dia tidak berpraktik, lebih baik memilih untuk tidak membuka apotek daripada harus mempertahankan ritual lama. Apotek buka, tapi apoteker tiada.

Begitu pula dengan pribadi apoteker. Di sini, kita perlu sebuah kekompakan untuk meretas tradisi tekab. Kompak untuk mengatakan “Tidak”. Sekali tidak tetap tidak. Disaat kekompakan itu tidak ada maka masih ada di luar sana, oknum-oknum apoteker yang lebih memilih untuk teken kabur saja.

Sebuah kisah perbincangan singkat antara seorang investor dan apoteker

Percakapan I

Investor: Saya pinjam ya namanya buat mendirikan apotek. Mas tidak usah repot-repot setiap hari ke apotek. Cukup sebulan sekali aja saat menandatangani beberapa berkas apotek. Bisa ya?

Apoteker X: Oh maaf pak, saya tidak bisa. Kalau dengan ketentuan tersebut

Investor: Enak loh ya, dipinjam namanya saja tanpa harus kerja. Tiap bulan pasti nerima gaji

Apoteker X: Tetap tidak Pak

Investor: Benar nih tidak bisa?

Apoteker X: iya Pak, saya tidak bisa

Investor: Ya, sudah Mas. Kalau tidak bisa. Tapi kayaknya masih ada apoteker lain yang bisa..

Percakapan II

Investor: Saya pinjam ya namanya buat mendirikan apotek. Mas tidak usah repot-repot setiap hari ke apotek. Cukup sebulan sekali aja saat menandatangani beberapa berkas apotek. Bisa ya?

Apoteker Y: Oh iya; bisa, Pak..

*Tamat*

===-===

Itulah yang terjadi jika semua apoteker tidak ada kekompakan untuk mengatakan TIDAK pada teken-kabur. Jika semua apoteker kompak mengatakan tidak untuk teken kabur, maka semua investor pun akan menyerah mencari oknum apoteker yang mau tekab. Kekompakan menjadi kunci utama sementara ini untuk mengatasi solusi teken kabur yang masih merajalela di mana-mana.

Berawal dari pribadi masing-masing untuk berani mengatakan tidak pada teken kabur. Katakanlah tanpa keraguan sedikit pun dengan keyakinan yang penuh. Katakanlah dengan perasaan bahagia sebab kita masih bisa menjaga martabat dan marwah apoteker Indonesia. Katakanlah, walau itu mungkin sakit tapi perkataan inilah yang akan menjadi warisan apoteker-apoteker selanjutnya.

Advertisements
SHARE
Previous articleSeminar Offline Apoteker Ber-SKP; Dihadiri atau Dibeli?
Next articleBenarkah Apoteker (Tidak) Bisa Memiliki 3 SIPA?
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.