Lowongan Kerja Apoteker Tekab

135
ilustrasi

Farmasi.Asia – Sebuah pengumuman lowongan kerja apoteker di sebuah kota x yang ingin mendirikan apotek baru. Tampak sekali dari pengumuman tersebut apoteker hanya diwajibkan datang 2 kali sebulan dengan uang transportasi xxx ribu ditambah dengan uang pinjam nama yang akan digunakan sebagai apoteker penanggungjawab apotek.

Ilustrasi Lowongan Apoteker Tekab
Ilustrasi Lowongan Apoteker Tekab

Miris. Satu kata itulah yang mungkin mewakili perasaan kita sebagai apoteker. Ternyata, apoteker tekab sudah termindset di otak masyarakat. Apoteker hanya disewa namanya kemudian disuruh datang beberapa kali dalam sebulan. Selesai. Berdiri dan bukalah sebuah apotek.

Begitukah apoteker Indonesia di mata masyarakat? Mereka hanya mengenal nama tanpa mengenal orangnya. Sebab, masyarakat hanya sekilas membaca nama apoteker penanggungjawab apotek tapi tak pernah berjumpa sekali pun dengan apotekernya.

Setiap kali mampir ke apotek, masyarakat membeli obat. Mereka tidak menemukan seorang apoteker. Biasanya yang melayani hanya tenaga teknis kefarmasian baik itu dari SMF ataupun D3 Farmasi. Iya, jikalau itu dari TTK bahkan ada pula yang mempekerjakan hanya lulusan SMA. Begitulah adanya.

Kembali ke pembahasan lowongan kerja apoteker tekab. Pengumuman di atas tidak akan ada jika semua apoteker bersikap tegas dan berani untuk tidak melakukan hal yang salah tersebut. Iya, teken kabur itu salah. Tapi selama ini kita membiarkan dan membenarkan hal yang salah karena dianggap sebuah kebiasaaan sehingga menjadi benar. Bukan membenarkan yang biasa. Tapi, membiasakan yang benar.

Mungkin, lowongan apoteker tekab di atas bukanlah lowongan yang pertama tapi lowongan yang sekian puluh atau ratus yang sudah dilewati oleh lowongan-lowongan apoteker tekab yang lainnya. Karena yang lainnya saat dibuka lowongan kemudian ada yang berminat maka lowongan yang selanjutnya pun dibuka. Begitu seterusnya hingga menjadi kebiasaan.

Tak maukah kita memutuskan rantai tradisi yang salah ini? Akankah kita mewarisi ke anak dan cucu kondisi yang salah ini? Ataukah kita perlahan-lahan mulai berbenah menjadi lebih baik lagi?

Tak cukupkah dengan berhamburnya sekian ribu setiap tahun lulusan baru apoteker-apoteker yang ada? Mereka ingin berpraktik tetapi kondisi di lapangan malah sebaliknya menuntut dan mengajarkan kepada mereka untuk melanjutkan tradisi yang keliru ini.

Apoteker adalah seorang yang terdidik yang menempuh pendidikan sarjana selama kurang lebih 4 tahun dan pendidikan profesi selama 1 tahun. Sungguh, mustahil rasanya seorang yang terdidik tidak bisa membedakan sesuatu yang benar dan sesuatu yang salah. Seorang yang terdidik pun pasti sangat berbeda dengan seseorang yang tidak terdidik. Tapi, akankah apoteker terus terikuti arus yang ada selama ini? Nampak yang arus ini terjadi dimana-mana bak sebuah banjir yang tak pernah berhenti menyeret korban setiap waktu dan setiap saat.

Seorang anak muda yang baru beberapa hari melaksanakan sumpahan apoteker memiliki keinginan berpraktik di apotek. Karena suatu hal dan berbagai alasan dia tidak bisa mendirikan apotek sendiri. Walaupun mendirikan apotek sendiri bagi apoteker adalah impian yang sangat dinanti-nanti sejak pertama kali kuliah S1 farmasi. Sebuah impian yang harus ditunda sesaat untuk memiliki apotek sendiri.

Dia pun memilih untuk mencari pengalaman terlebih dulu agar kelak saat mendirikan apotek sendiri dia sudah siap dan mengetahui seluk beluk yang ada di lapangan. Selama ini dia hanya diberikan teori-teori tapi masih minim pengalaman terkait praktik di apotek.

Lamaran kerja sebagai apoteker penanggungjawab apotek. Salah satu solusi yang dia temukan. Tapi, saat bertemu dengan sang calon pemilik apotek yang akan mendirikan apotek. Dia hanya ditawari datang beberapa kali dan itu hanya menandatangani beberapa dokumen yang ada di apotek. Terlihat mudah dan sederhana. Namun, bukan itu yang menjadi tujuan apoteker muda ini, dia ingin mencari pengalaman berpraktik di apotek. Nyatanya, dia harus berhadapan dengan kondisi dunia perapotekan yang masih terseret arus yang keliru.

Dia pun membatalkan lamaran tersebut. Tak patah semangat, dia cari lagi lowongan-lowongan yang lainnya. Tapi, kondisi yang dia jumpai sama persis bahkan hanya berbeda sedikit dengan lowongan sebelumnya. Di dalam benaknya bersuara,

“Beginikah kondisi apoteker yang ingin berpraktik di apotek? Setiap orang yang membuka lowongan apoteker mempersilahkan para apoteker agar tidak berpraktik. Cukup meminjam nama apoteker dan menandatangani dokumen apotek sekali atau dua kali dalam sebulan”.

Ini kondisi yang ada sekarang; Kondisi dimana apoteker masih identik dengan apoteker tekab.
Kondisi yang masih tertanam dan menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memperbaikinya.
Kondisi yang harus dihilangkan dan diputus rantai keberlanjutannya. Bagaimana mau berubah jika kondisi ini selalu ada dan tak dianggap salah?

“Susah untuk dilakukan, sebab ini sudah dari dahulu dan dilakukan apoteker-apoteker yang senior”, tutur seorang apoteker.

Jika itu dilakukan oleh apoteker senior. Akankah juga harus dilakukan oleh apoteker junior yang masih memiiki idealisme tinggi pasca sumpahan apoteker dan ingin membangun citra apoteker Indonesia menjadi lebih baik lagi?

“Zona nyaman. Apoteker tekab sudah berada di zona nyaman sehingga tak mau meninggalkan bahkan menentang tradisi yang salah ini”, ucap apoteker yang lainnya.

Sungguh, bukan sebuah kenyamanan yang kita cari di dunia ini tapi sebuah kebermanfaatan. Bukan sebanyak apa kenyamanan yang ada pada diri kita. Tetapi, seberapa banyak kebermanfaatan yang sudah diri ini lakukan?

Sampai kapanpun apoteker tekab tidak akan ada sebuah kebermanfaatan yang akan dia rasakan. Sebab, apoteker tekab adalah apoteker yang ada nama tapi tidak ada rasa. Orang hanya mengenal namanya tapi tak merasakan keberadaannya. Jika keberadaan saja tidak dirasakan bagaimana dengan kebermanfaatan?

Bukan kenyamaan yang membuat kita bermanfaat tetapi kebermanfaat yang akan membuat diri kita merasakan kenyamanan. Kini, saatnya semua apoteker membuka jubahnya agar dirinya tidak menghilang lagi dan tampak keberadaan dan kebermanfaatan di mata masyarakat.

Advertisements
SHARE
Previous articleDi Kala STRA Mati
Next articleSudahkah Profesi Apoteker Dihormati dan Dihargai?
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.