Mengapa Apoteker (Tidak) Menulis?

297
Apoteker Menulis
Apoteker Menulis

Farmasi.Asia – Berbagai kesibukan-kesibukan yang dialami oleh seorang apoteker di dunia kerja. Saking sibuknya, dia sudah tidak sempat lagi untuk melakukan sesuatu yang “menempel” pada dirinya yakni menulis. Secara sadar atau tidak sadar, apoteker selalu menulis tapi apa yang dituliskannya? Apakah hanya menulis laporan bulanan atau menulis pada lembar catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT) pada saat visite atau berbagai tulisan-tulisan yang berhubungan dengan pekerjaan?

Namun, tidak cukup hanya itu yang dituliskan oleh apoteker. Apoteker tidak hanya menggugurkan kewajiban dalam bekerja setiap bulan lewat berbagai tulisan yang terkait dengan pekerjaan. Dia pun harus bisa menulis untuk cakupan lebih luas. Tidak hanya dikonsumsi oleh instansi dia bekerja sebagai laporan bulanan. Tapi, apoteker juga harus bisa menulis untuk masyarakat luas.

Menulis untuk masyarakat luas? Menulis apa? Apapun itu bisa dituliskan selama tidak merendahkan dan menghinakan seseorang ataupun golongan tertentu. Tuliskanlah apa yang dialami oleh apoteker sebagai wujud berbagi pengalaman kepada sesama apoteker ataupun kepada masyarakat. Terlebih jika tulisan itu bernuasa ilmu pengetahuan yang bisa diamalkan oleh masyarakat.

Menulis menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki salah satu makna yang berarti melahirkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Tentu, seorang apoteker memiliki pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang berbeda-beda saat mengalami berbagai hal di dunia kerja. Ini yang menarik, jika dituangkan dalam sebuah tulisan. Dari tulisan itulah yang akan menjadi karya apoteker dalam membagi pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Mulailah menulis dari berbagi pengalaman. Ini adalah langkah yang sederhana yang bisa dilakukan oleh apoteker untuk bisa melangkah pelan-pelan membiasakan diri dalam menulis. Tuliskanlah pengalaman yang dialami selama ini agar bisa menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan orang lain.

Setiap pengalaman yang dilalui pasti mengandung hikmah yang tersembunyi. Lewat berbagi pengalaman dengan tulisan itulah cara seorang apoteker menemukan hikmah-hikmah yang ada di dalam sebuah pengalaman. Sisi ini yang menjadi menarik untuk diangkat menjadi sebuah tulisan. Tulisan tentang pengalaman. Saat dibaca oleh orang yang belum mengalaminya akan menjadi pelajaran tersendiri yang bisa dipetik.

Jika menulis sudah diajarkan sedari kecil, maka apakah ketika dewasa sudah tidak lagi menulis? Apakah karena disibukkan dengan praktik dan kerja sehingga membuat seorang apoteker tidak mau menulis lagi? Bukankah dulu saat menjadi mahasiswa sudah dibiasakan dan tak pernah lepas dari ritual tulis-menulis?

Ketika kesibukan menjadi alasan tidak menulis. Inilah yang harus kita perbaiki bersama-sama. Semua orang pasti memilki kesibukan tapi tergantung bagaimana masing-masing orang bisa mengatur waktu yang diberikan selama 24 jam sehari semalam dalam membagi aktivitas sehari-harinya.

Meluangkan waktu dan disiplin pada diri sendiri. Dua hal mendasar ini yang harus ditanamkan di dalam diri. Pertama, meluangkan waktu untuk menulis dalam sehari misalnya sekitar 15-30 menit. Begitu sibuk dan padatkah jadwal yang dimiliki apoteker sehingga tidak mampu untuk meluangkan waktu beberapa menit untuk menulis? Kedua, disiplin. Kita dididik untuk disiplin diri saat sudah meluangkan waktu untuk menulis. Disiplin ini yang bernilai mahal. Wajar saja jika secara pelaksanaannya pun amat sulit bagi setiap orang untuk mendidik diri dengan disiplin.

Menulis memang bukan sesuatu yang mudah tetapi bukan pula sesuatu yang sulit. Ia akan menjadi sulit jika tidak dilaksanakan dan tidak dibiasakan. Sebaliknya, akan menjadi mudah saat sudah terbiasa dan mau melaksanakannya.

Diawali dengan berbagi pengalaman lewat tulisan. Perlahan-lahan dari sana bisa dilanjutkan dengan berbagi ilmu pengetahuan terkait kefarmasian secara khusus atau ilmu kesehatan secara umum. Masyarakat akan mengenal apoteker dengan salah satu karyanya yakni tulisan. Tulisan yang mendidik dan mencerdaskan masyarakat untuk lebih memahami arti kesehatan dan kefarmasian.

Membaca inilah teman sejati menulis. Tanpa membaca kita tidak akan mampu untuk merangkai kata-kata mejadi sebuah tulisan. Apoteker zaman sekarang pun harus memiliki kebiasaan membaca. Apapun itu berbagai informasi yang ada. Terlebih informasi terkait kesehatan dan kefarmasian.

Jikalau membaca saja enggan untuk dilakukan. Apalagi menulis. sebab dengan membaca, kita seperti memasukkan air ke dalam gelas. Semakin banyak bahan bacaan yang dibaca maka akan semakin banyak pula air yang akan masuk ke dalam gelas sehingga membuat gelas itu penuh dan tumpah. Tumpahan itu yang akan menjadi sebuah tulisan. Kita akan menumpahkan pengalaman, informasi, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki melalui tulisan.

Kemalasan diri kadang membuat kita tidak mau membiasakan diri untuk belajar kembali. Belajar dengan membaca berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman. Bekerja bukan berhenti belajar. Sebaliknya, saat kita sudah bekerja maka harus semakin rajin untuk belajar.

Dengan menulis, kita pun belajar jujur pada diri sendiri. Jujur untuk mengatakan yang benar adalah benar dan mengatakan yang salah adalah salah. Sebagai pengingat diri dikala terlupa dan tak ada arah. Sebagai penasihat diri disaat menghadapi berbagai masalah.

Seorang yang ditinggalkan pergi istri tercinta untuk selamanya harus memilih pilihan keempat yakni menulis. ada tiga pilihan yang dia tolak. Pertama, harus dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, dirawat di rumah serta didampingi oleh tim dokter dari dalam dan luar negeri. Ketiga, curhat dengan orang-orang terdekat. Pilihan keempat yang dia ambil yakni menulis.

Dari pilihan empat itulah dia berbagi pengalaman dan kenang-kenangan semasa sang istri masih hidup. Semua yang ada di dalam pikiran dan hati, dia curahan dan tumpahkan dalam sebuah tulisan. Bukti begitu sangat cintanya dia akan sang kekasih yang telah membersamai selama 38 tahun dikala senang maupun dikala sedih.

Tahukah kita? Siapakah dia? Tokoh yang fenomenal tidak hanya di Indonesia bahkan dunia pun mengakui keberadaannya. Sosok putra terbaik kebanggaan bangsa Indonesia. Kita akan mengenal dia dalam sebuah tulisan yang dirangkainya menjadi sebuah buku yang berjudul Ainun Habibie.

Kita tak perlu harus menunggu kehilangan orang tercinta dulu, baru bergerak untuk menulis. Mulailah untuk menulis. Menulis apapun yang dipikirkan dan apapun yang dirasakan. Hanya ada tiga cara untuk menulis yakni menulis, menulis, dan menulis.

Kalau kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar maka menulislah (Imam Ghazali)

Advertisements
SHARE
Previous articleKosmetika sebagai “Panggung Praktek Apoteker Aestetik” Kekinian
Next articleAnak Kena Flu, Bolehkah Vaksin Difteri?
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.