Mengapa terjadi “Pemotongan” Apoteker di Rumah Sakit?

415
ilustrasi | sumber: live.staticflickr.com/8314/29918830781_5aaa05d769_b.jpg

Farmasi.Asia – Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 30 Tahun 2019 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit telah resmi disahkan. Salah satu isi dari permenkes tersebut adalah pemotongan peluang apoteker yang ingin berpraktik di RS. Padahal sekarang ini, para apoteker RS tidak hanya berkutat dengan persoalan manajerial perapotekan tetapi juga berjuang mengenai penerapan farmasi klinik di RS. 

Jika peluang apoteker di RS “dipotong” bagaimanakah penerapan farmasi klinik akan berjalan di semua rumah sakit? Inilah kemungkinan yang akan berdampak dirasakan oleh apoteker-apoteker ingin melaksanakan praktik farmasi klinik di rumah sakit. Perlahan-lahan farmasi klinik ingin dimunculkan di setiap rumah sakit. Tetapi, selalu terkendala dengan SDM apoteker yang tersedia. 

Realita yang ada sekarang ini, para apoteker RS masih dibebani dengan berbagai aktivitas manajerial karena keterbatasan apoteker yang ada di suatu rumah sakit. Sehingga, penerapan farmasi klinik di suatu RS masih sangat minim dan belum berjalan. Harapannya secara pelan-pelan farmasi klinik bisa dijalankan di semua rumah sakit. 

Berbicara tentang potong memotong. Tentu, yang dimaksud adalah pemotongan jumlah kuota apoteker di rumah sakit. Sebelumnya pada peraturan menteri kesehatan No. 56 Tahun 2014 tentang klasifikasi dan perizinan rumah sakit diketahui bahwa sebuah rumah sakit bisa menjadi:

  1. tipe A jika ada 15 orang apoteker,
  2. tipe B 13 orang apoteker,
  3. tipe C 8 orang apoteker, dan
  4. tipe D 3 apoteker. 

Sedangkan pada pemenkes No. 30 Tahun 2019 yang merupakan perubahan dari permenkes No. 56 Tahun 2014 dikatakan bahwa sebuah rumah sakit bisa menjadi

  1. tipe A jika ada 11 apoteker,
  2. tipe B 8 apoteker,
  3. tipe C 6 apoteker, dan
  4. tipe D 2 apoteker.

Bagaimana reaksi para apoteker Indonesia setelah mengetahui ini semua? Apakah hanya berdiam diri menerima kenyataan yang ada? Ataukah dijadikan evaluasi bersama, mengapa terjadi pemotongan apoteker di RS?

Ini merupakan sebuah pukulan keras bagi apoteker yang hendak berpraktik tetapi dibatasi oleh jumlah dan regulasi yang ada. Padahal dengan peraturan sebelumnya menjadi peluang untuk apoteker berpraktik di RS. Kini, mari kita evaluasi bersama mengapa ini harus terjadi?

Pertama, apakah keberadaan apoteker dirasakan oleh masyarakat rumah sakit? Masyarakat rumah sakit yang dimaksud bukan hanya pasien tetapi semua tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit. Jika keberadaan apoteker di RS tidak mereka rasakan maka tidak menutup kemungkinan mereka tidak membutuhkan apoteker dengan jumlah yang banyak. Terlebih penting lagi, bagi pasien. Sebab, era sekarang ini pengobatan di rumah sakit berfokus pada pasien atau lebih dikenal dengan istilah patient center. 

Kedua, bagaimanakah kinerja apoteker selama ini di rumah sakit? Ini juga harus kita evaluasi bersama terkait kinerja apoteker di rumah sakit. Walaupun sangat berbeda jauh dengan apoteker yang bukan di rumah sakit yang mereka memiliki peluang untuk tidak berpraktik tetapi nama mereka digunakan untuk mendirikan apotek, seharusnya apoteker rumah sakit sudah pasti mereka berpraktik dan memiliki integritas yang tinggi terhadap praktik kefarmasian yang dilakukan setiap hari.

Ketiga, bagaimanakah peranan organisasi profesi selama ini? Terkait regulasi dan berbagai peraturan yang ada di pusat merupakan ranah para pemangku kebijakan untuk memutuskan dikeluarkan/tidaknya peraturan yang baru. Sebagai organisasi profesi adalah wadah para pengurus dan anggota bisa memperjuangkan regulasi yang terbaik untuk kepentingan bersama. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi sang pemangku kebijakan. Organisasi profesi tidak hanya terfokuskan pada agenda-agenda serimonial setiap tahun ataupun setiap bulan. Tetapi, juga turut memperjuangkan hak-hak anggota profesi yang akan berdampak bagi seluruh anggota. Anggota profesi menjadi bisa terwakilkan dengan adanya organisasi profesi. Lewat organisasi profesi itu pula anggota berharap agar bisa mengayomi dan memperjuangkan hal-hal yang berkaitan dengan anggota. Buktinya, selama ini ada apakah dengan organisasi profesi?

Setiap semester, ribuan apoteker baru lulus dan telah disumpah. Ribuan apoteker yang belum tentu tahu harus ke mana mereka melangkah setelah disumpah. Mereka berharap ada peluang besar untuk bisa berpraktik di sarana kefarmasian, salah satunya adalah apotek di rumah sakit. 

Pelayanan kefarmasian atau lebih populernya dengan sebutan pharmaceutical care lebih berfokus pada pasien. Jika bukan di rumah sakit, dimanakah lagi tempat yang lumayan banyak melayani pasien? Selevel puskesmas dan klinik pun tidak sebanyak pasien yang ada di rumah sakit. Maka dari itu, rumah sakit memang seharusnya memerlukan keberadaan apoteker di tengah-tengah semakin banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit.

Namun, jika apoteker tidak dirasakan keberadaannya di rumah sakit, kinerjanya pun tidak terlalu berpengaruh dan organisasi profesi juga masih berkutat dengan segala rutinitas serimonial maka terjadilah “pemotongan” apoteker di rumah sakit. Pemotongan yang diawali dari regulasi hingga pada akhirnya akan semakin memudarkan keberadaan profesi apoteker. 

Apoteker sangat dinanti-nantikan keberadaannya. Apoteker pula sangat diharapkan integritas yang tinggi untuk melayani pasien. Begitu juga peranan organisasi profesi yang didamba-dambakan seluruh anggota untuk bisa menjadikan anggotanya semakin sejahtera. Apakah apoteker selama ini hanya bersembunyi? Sehingga banyak yang belum mengetahui, padahal jumlahnya sudah tidak bisa dihitung dengan jari.

Semoga ini bisa menjadi bahan pelajaran bersama untuk semua apoteker agar bisa untuk introspeksi diri dan introspeksi profesi. Introspeksi diri untuk memperbaiki dan merubah diri menjadi pribadi apoteker yang sesungguhnya dan introspeksi profesi untuk memperbaiki dan merubah profesi apoteker agar menjadi lebih baik lagi.

Introspeksi diri bisa dilakukan diri pribadi masing-masing apoteker. Berbeda hal, introspeksi profesi harus dilakukan bersama-sama, tidak hanya pribadi apoteker sendiri. Selama ini antara pribadi sendiri dan profesi belum bisa berjalan bersamaan. Saat profesi menginginkan A tetapi pribadi menginginkan Z. Sungguh, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar keduanya bisa berjalan berbarengan.

Adanya ketegasan pada diri sendiri diimbangi dengan adanya ketegasan pada profesi. Begitu pula sebaliknya adanya ketegasan dari profesi diikuti oleh ketegasan pada diri sendiri. Coba kita tanyakan pada diri sendiri sudah adakah kedua ketegasan itu pada diri kita?

Kini kita tutup lembar keegosian diri sendiri dan profesi. Sudah tidak ada keegosian lagi untuk melangkah sendiri-sendiri. Tapi, saling berangkulan antara diri sendiri dan profesi. Bukankah memang diri sendiri dan profesi tidak bisa dipisahkan? Namun, selama ini kitalah yang memisahkan keduanya. Kita anggap mereka berbeda. Tetapi, kenyataannya keberadaan keduanya harus ada bersamaan. Cukup “pemotongan” apoteker di RS ini menjadi pelajaran berharga agar tidak kembali terjadi dikemudian hari.

Advertisements
SHARE
Previous articleBerapakah “Harga Jual” Apoteker?
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.