Di Kala STRA Mati

80
Perpanjangan Surat Tanda Registrasi Apoteker

Surat tanda registrasi apoteker atau kita lebih mengenalnya dengan istilah STRA. STRA dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN) sebagai tanda bahwa seorang apoteker terdaftar dalam database apoteker Indonesia. Sebelum apoteker mendapatkan STRA, dia harus memiliki sertifikat kompetensi terlebih dahulu. Apoteker yang sudah berpraktik bisa memperoleh sertifikat kompetensi dengan cara rutin mengisi dan mengajukan borang setiap lima tahun sekali. Sedangkan, apoteker yang baru lulus, dia memperoleh sertifikat kompetensi dengan cara lulus ujian kompetensi apoteker Indonesia (UKAI).

Sertifikat kompetensi merupakan surat keterangan yang diberikan kepada seorang apoteker oleh ikatan apoteker Indonesia yang menyatakan bahwa apoteker yang bersangkutan kompeten untuk menjalankan praktik kefarmasian. Dari penjelasan tersebut, kita ketahui bersama bahwa sertifikat kompetensi dikeluarkan oleh organisasi profesi yakni ikatan apoteker Indonesia.

Setelah seorang apoteker memiliki sertifikat kompetensi maka dia mengajukan permohonan untuk diterbitkan STRA kepada KFN dengan syarat-syarat sebagaimana yang tertuangkan dalam peraturan pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian pada pasal 49 ayat a disebutkan untuk memperoleh STRA, apoteker harus memenuhi persyaratan:

  1. Memiliki ijazah apoteker
  2. Memiliki sertifikat kompetensi profesi
  3. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji apoteker
  4. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik
  5. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi

Setelah STRA dikeluarkan oleh KFN. Selanjutnya agar apoteker bisa berpraktik maka apoteker harus mengurus surat izin praktik apoteker (SIPA) dengan salah satu persyaratan sudah memiliki STRA atau STRA masih aktif. Bagi yang ingin berpraktik di apotek, dia harus mengurus juga surat izin apoteker (SIA).

Dari paparan di atas, bisa kita perhatikan ada empat dokumen yang harus dimiliki oleh apoteker yakni sertifikat kompetensi, STRA, SIPA, dan SIA (jika berpraktik di apotek). Dari empat dokumen tersebut ada dokumen yang harus diperhatikan yakni STRA. 

STRA keluarkan untuk lima tahun sekali dan harus diperbaharui. Ini yang harus diingat dan diperhatikan. Jangan sampai STRA yang dimiliki sudah mati karena tidak diurus. Secara urutan jika STRA mati, maka SIPA akan mati dan SIA pun ikut mati. Sebab, semuanya itu saling berkaitan. 

Seorang apoteker akan dikatakan berpraktik secara ilegal saat STRA yang dimilikinya mati sebab surat izin praktik dia pun juga mati. Jadi, dia tidak bisa berpraktik karena dia sudah tidak memiliki izin praktik. Begitu pula jika dia berpraktik di apotek, maka saat STRA mati, maka apotek tempat berpraktik termasuk apotek yang ilegal sebab izin apoteknya belum diperbaharui.

Cara mendapatkan STRA bagi apoteker yang sudah berpraktik, sebelumnya dia harus mengurus borang terlebih dahulu sebelum mengajukan perpanjangan STRA agar dia memiliki sertifikat kompetensi. Pengurusan borang setiap lima tahun sekali ini dengan cara menghitung jumlah capaian SKP yang dikumpulkan apoteker selama lima tahun. 

Enam bulan sebelum habis masa berlaku STRA, seorang apoteker sudah bisa mengajukan borang agar bisa diproses. Pengajuan mulai dari pengurus cabang IAI, kemudian akan lanjutkan ke pengurus daerah IAI dan terakhir ke pengurus pusat IAI. Ada tiga tahap yang harus dilalui oleh borang sehingga tidak memakan waktu yang singkat. Untuk itu, apoteker dipersilahkan dengan waktu 6 bulan sebelum masa berlaku STRA habis bisa langsung mengajukan borang ke pengurus cabang terlebih dahulu.

Disaat seorang apoteker habis masa berlaku STRA pada bulan Maret 2020. Maka, dia sudah bisa mengajukan borang ke PC IAI pada bulan September 2019. Berarti sebelum bulan September 2019 dia sudah menyelesaikan urusan perhitungan SKP yang ada pada borang sebelum bulan September 2019. Agar pada bulan September 2019 dia sudah bisa langsung mengajukan borang ke PC IAI. Penyusunan borang pun bisa dicicil setiap tahun atau ada juga yang langsung disusun selama 5 tahun. Dengan berbagai pertimbangan, kembali ke individu masing-masing mau menyusun kapan per tahun atau langsung 5 tahun. Ada juga di beberapa PC mensyaratkan anggotanya untuk menyusun borang setiap tahun agar mempermudah dalam penyusunannya.

Untuk lebih aman dan hati-hati. Seorang apoteker agar rutin mengecek setiap tahun pada STRA terkait tanggal habis masa aktif. Biasanya tanggalnya disesuaikan dengan tanggal kelahiran si apoteker bersangkutan. Maka dari itu, sangat disarankan agar setiap hari ulang tahun untuk mengecek beberapa dokumen yang kita miliki yang ada batas waktunya salah satunya STRA.

Ilustrasinya jika saat mengecek STRA tahun 2020 sudah habis. Maka, bisa dipersiapkan lebih dahulu sejak tahun 2019. Kemudian, dikurangkan 6 bulan dari batas akhir. Waktu tersebut bisa digunakan untuk mengajukan permohonan borang ke PC. 

Semua rangkaian dari PC, PD, dan PP IAI tersebut sudah pasti memerlukan waktu yang tidak singkat, sehingga seorang apoteker perlu pandai-pandai mensiasati agar berpraktik tidak sampai masa STRA habis. Ada pula karena terlalu sibuk dengan praktik sehingga lupa mengecek masa akhir STRA, sehingga dia berpraktik dengan STRA mati dan secara tidak langsung SIPA pun ikut mati.

Dari sekarang dan dari diri sendiri sudah mulai mengantisipasi terjadinya STRA mati. Disaat STRA mati bukan hanya diri sendiri yang akan kerepotan tetapi pengurus pun juga akan bertambah kerepotan sehingga akan menghambat dan memperlambat proses pengurusan borang. Itu pun juga akan berdampak pada legalitas praktik apoteker salah satunya dalam pemesanan obat-obatan. 

Disaat STRA mati maka akan menghambat segalanya. Lebih baik kita antisipasi agar tidak terjadi. Apoteker sadar untuk selalu memperhatikan masa berlaku STRA agar pelayanan kefarmasian kepada masyarakat tetap berjalan dengan lancar.

Kalau bukan dari apoteker sendiri untuk mengawali dan mengantisipasi STRA mati. Pada siapakah lagi akan diserahkan perkara ini? 

Surat tanda registrasi apoteker adalah pengakuan resmi atas keberadaan apoteker untuk menjalankan praktik kefarmasian. Kalau tidak diurus dan dibiarkan mati, bukankah itu juga berarti membiarkan keberadaan apoteker akan hilang secara perlahan-lahan? Hilang dalam artian keberadaan apoteker itu sendiri. Hilang dalam makna keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. 

“Jadilah seorang yang keberadaannya dinanti-nanti. Jangan menjadi orang yang ketiadaannya dinanti-nanti. Saat kau ada orang-orang bahagia merasakan keberadaanmu. Saat kau tidak ada orang-orang bersedih sebab ketiadaanmu. Bukan sebaliknya, saat kau ada orang-orang bersedih merasakan keberadaanmu. Saat kau tidak ada orang-orang bahagia sebab ketiadaanmu”

Advertisements
SHARE
Previous articleCara Memilih Sabun Bayi Sesuai Dokter
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.