Sulitkah Menjaga Nama Baik Apoteker?

299
ilustrasi apoteker Indonesia

“Mempertahankan lebih sulit daripada menggapai. Menjaga jauh lebih sulit daripada mempertahankan” (Anonim)

Farmasi.Asia – Setelah memperoleh gelar apoteker, kewajiban seorang apoteker adalah menjaga nama baik apoteker. Sulitkah menjaga nama baik apoteker? Mungkin, satu pertanyaan itu yang bisa jadi renungan bersama.

Di sekeliling kita tidak sedikit kasus yang menimpa apoteker yang tidak bertanggungjawab. Dia tidak mampu menjaga nama baik apoteker. Misalnya, peristiwa pengguguran kandungan yang dilakukan oleh oknum apoteker dengan menjual tablet aborsi.

Miris, satu kata saat kita mengetahui bahwa seorang apoteker yang dikenal menguasai segala seluk beluk obat-obatan menyalahgunakan keilmuannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan perikemanusiaan. Lupakah dia dengan perjuangan bertahun-tahun untuk memperoleh gelar sarjana farmasi? Setelah sarjana pun, perjuangan belum berakhir, ia harus menempuh pendidikan profesi apoteker. Semua itu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan baik waktu, pikiran, biaya dan segala hal agar bisa mengapai cita-cita menjadi seorang apoteker.

Inikah buah dari perjuangan dan pengorbanan itu? Dia rela mengadaikan kode etik profesi, ajaran agama bahkan melanggar sumpah yang diucapkan pada saat penyumpahan apoteker. Lupakah dia dengan sumpah apoteker tersebut?

Demi Allah saya bersumpah/berjanji bahwa

  1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan
  2. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui kerena pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai apoteker
  3. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan
  4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian
  5. Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial
  6. Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan

Lafal sumpah tersebut tertera di dalam Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1962 (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor 69). Apakah setiap apoteker harus disumpah setiap tahun? Agar dia selalu ingat pada sumpah apoteker. Nampaknya, tak perlu setiap tahun dilakukan sumpah. Tapi, kembali pada pribadi seorang apoteker sendiri bagaimana dia bisa membawa diri setelah menjadi apoteker.

Setelah disumpah, resmilah orang tersebut menjadi seorang apoteker. Nama apoteker akan terus tersemat di dalam dirinya hingga tutup usia. Tanggungjawab pun jatuh kepadanya untuk menjaga nama apoteker agar selalu dalam kondisi baik. Bukan sebaliknya malah menjatuhkan bahkan menghancurkan nama apoteker.

Menjaga nama sama dengan menjaga amanah. Saat seseorang diberikan kepercayaan untuk menjadi seorang apoteker, otomatis dia dilimpahkan kepercayaan untuk menjaga nama apoteker layaknya amanah yang ada pada dirinya.

Nama adalah sebuah doa. Saat kau menjelekkan atau menghancurkan nama. Maka, doa itu pun akan jelek dan hancur. Begitu pula jika nama itu diharumkan dan dibangun. Maka doa pun akan terus mengalir untuk kebaikan nama tersebut.

Tugas menjaga baik nama apoteker bukan hanya tugas organisasi profesi, Ikatan Apoteker Indonesia. Ini adalah tugas bersama. Tugas seluruh apoteker Indonesia, untuk menjaga nama baik profesi apoteker. Jikalau pun ada kasus yang mencoreng nama apoteker. Cukuplah itu menjadi pelajaran berharga buat diri kita masing-masing agar tidak ikut berbuat seperti demikian.

Seorang apoteker terikat sumpah/janji dan kode etik profesi sehingga dia harus bisa menjalankan keduanya, demi memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat. Sejak dari bangku kuliah strata 1 hingga pendidikan profesi apoteker, selalu ada mata kuliah undang-undang dan etika. Ini bermakna agar apoteker selalu menaati undang-undang dan etika yang berlaku.

Sumpah/janji apoteker adalah komitmen yang dijadikan landasan moral dalam pengabdian profesi. Sedangkan kode etik sebagai kumpulan nilai-nilai atau prinsip yang harus diikuti oleh apoteker sebagai pedoman dan petunjuk serta standar perilaku dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Adanya sumpah apoteker dan kode etik itulah yang menjadi sarana untuk tetap menjaga nama baik apoteker. Jikalau bukan apoteker itu sendiri yang menjaga? Siapakah lagi yang mampu untuk menjaga nama baik tersebut?

Dari harum dan baiknya nama, kepercayaan masyarakat akan meningkat. Namun, apabila nama sudah tercoreng, kepercayaan masyakarat pun menurun bahkan hilang. Ini yang sangat dikhawatirkan. Di tengah-tengah usaha apoteker untuk membangun kepercayaan masyarakat gencar-gencarnya dipromosikan, masih ada oknum yang menjatuhkan bangunan tersebut; Hanya karena lebih memilih kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama. Dia lupakan rekan-rekan sejawatnya dan dia lupakan pula sumpah serta kode etik yang ada di dalam dirinya.

Sebuah pelajaran besar yang harus diambil hikmahnya. Dari sini kita bisa berbenah diri, agar menjadi pribadi apoteker yang selalu mentaati sumpah dan mengikuti kode etik profesi yang berlaku.

Jika menjaga nama sama dengan menjaga diri sendiri. Maka, apabila hancur nama itu hancur pulalah diri ini. Semakin banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh apoteker di masa mendatang. Pekerjaan rumah tersebut harus dikerjakan secara bersama-sama, agar timbul rasa bersamaan antara satu dengan yang lainnya.

Bersama-sama menjaga nama baik apoteker agar senantiasa baik dan harum di mata masyarakat. Dibuktikan dengan tindakan nyata dan perilaku dalam keseharian. Nama apoteker ada di pundak kalian wahai para apoteker.

Kehancuran bukan dimulai dari hal yang besar. Tapi, kehancuran itu dimulai dari diri sendiri
Apabila diri pribadi apoteker hancur. Maka, nasib seluruh apoteker pun akan hancur
Jagalah nama apoteker laksana kau menjaga nama seorang kekasih
Kau akan berjuang mendapatkan dan menjaganya walaupun harus bertaruh nyawa

Advertisements
SHARE
Previous articleIYPG Hadir di Kalimantan Selatan. Apa itu IYPG?
Next articleSeminar Offline Apoteker Ber-SKP; Dihadiri atau Dibeli?
Aulia Rahim M.Farm., Apt., seorang apoteker sekaligus pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari. Selain itu juga diamanahi sebagai ketua bidang hubungan masyarakat Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (HISFARMA) Ikatan Apoteker Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Selatan periode 2018-2022. Sejak kuliah aktif di berbagai organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi. Menempuh pendidikan S1, profesi dan S2 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sempat diberikan kepercayaan dari dekanat untuk menjadi repoter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.